oleh

Pandangan Nyeleneh ‘Haid Boleh Puasa’ Sesatkan Umat

Oleh: Afifah Azzahra, Mahasiswa Kimia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Maslahat Umat | Ramadhan merupakan salah satu bulan yang di dalamnya umat Islam diwajibkan untuk berpuasa. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Qur’an surah al-Baqarah ayat 183 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Adapun syarat sah berpuasa Ramadhan adalah beragama Islam, baligh, berakal, mampu dan melihat hilal.

Para fuqaha menyatakan haid menjadi penghalang bagi perempuan untuk menjalankan puasa baik yang wajib maupun puasa sunnah. Namun, pendapat para ahli fikih ini belakangan dibantah sejumlah intelektual Islam kontemporer seperti Dr Ahmad Imarah dari Mesir dan Prof. Dr Abdul Aziz Bayindir dari Turki. Di Indonesia, situs mubadalah.id pun kembali mengunggah tulisan komisioner komnas perempuan, Kiai Imam Nakha’i terkait alasan perempuan haid boleh berpuasa 26 April lalu.

Alasan tersebut berpandangan dari Qur’an surah al-Baqarah ayat 222 yang artinya, Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah sesuatu yang kotor.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu.

Mereka beranggapan yang dilarang dari perempuan haid adalah jima’, keadaan tidak suci tidak menjadi syarat berpuasa yang penting mampu dan karna haid seperti orang yang sakit (kotor) maka perempuan seharusnya mendapat ‘rukhshah’(keringanan). Serta hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah ra dan riwayat lainnya yang menyatakan bahwa Rasulullah hanya melarang shalat bagi perempuan haid dan tidak melarang puasa.

Dari pandangan tersebut, munculah istilah mubadalah. Produk hukum dengan cara mubadalah tidak bisa disebut sebagai fiqih, karena metode yang baku dalam menggali nash syar’i adalah metode ijtihadi. Metode mubadalah ini pun bersifat liberal yang menginginkan keadilan dalam hukum Islam karena dianggap diskriminatif antara laki-laki dan perempuan. Pandangan seperti ini seharusnya dalam khazanah fiqih Islam tidak terjadi, karena bisa menyesatkan umat. Mereka berargumentasi berdasarkan Al-Qur’an dan hadits dengan menggunakan tafsiran mereka sendiri.

Padahal, jika dilihat kembali dalam berbagai nash dan dalil syariat lainnya jelas dinyatakan bahwa perempuan haid tidak boleh berpuasa. Seperti hadits Rasulullah berikut, “Bukankah jika perempuan itu haid ia tidak salat dan tidak puasa?” Mereka menjawab, “Betul.” Beliau bersabda, “Demikianlah bentuk kekurangan agama mereka.(HR Bukhari).

Dan ijma’  sahabat, bahwa para ulama sepakat, puasa wajib maupun sunah haram dilakukan perempuan haid. Bila dia tetap berpuasa, puasanya tidaklah sah (Maratibul Ijmak, hal. 72).

Oleh karena itu, sekarang perlu adanya institusi Islam yang menjamin agar pandangan seperti ini tidak menyebar di kalangan kaum Muslimin. Dengan penerapan syariat Islam dalam  naungan khilafah maka terjagalah agama Islam ini. Sebab, salah satu maqashid syariah (tujuan syariat) adalah hifdzhu ad-din (menjaga agama). Wallahua’lam.[]

 

News Feed