oleh

Luka Palestina, Nestapa Dunia

Oleh: Isra Novita, Mahasiswi Universitas Indonesia

Maslahat Umat | Sejak akhir Ramadhan lalu, konflik Palestina-Israel kembali terjadi dan serangan yang diberikan semakin panas. Pengeboman dan serang dari Israel terus berlanjut sejak bentrokan berdarah di Masjidilaqsa pada 7 Mei 2021. Kemarin (21 Mei 2021) Israel telah menyatakan gencatan senjata terhadap Palestina, namun pada saat Shalat Jum’at, Masjidilaqsa kembali diserang oleh Israel padahal pernyataan gencatan senjata belum sampai satu hari. Hingga detik ini Israel masih terindikasi menyerang warga sipil Palestina.

Kekerasan terus terjadi di kompleks Masjidilaqsa, polisi Israel menggerebek masjid yang disucikan, bahkan menggunakan granat kejut pada jemaah yang berdemonstrasi di sana sehingga memicu demonstran yang lebih banyak lagi. Keadaan semakin rumit setelah Hamas dan Jihad Islam Palestina mengirim roket salvo besar-besaran ke Israel untuk membela masjid suci dan orang-orang Palestina. Kekerasan juga menyebar ke komunitas campuran Yahudi dan Arab di Israel, sebuah front baru dalam konflik berkepanjangan. Saat ini, Israel sedang saling serang dengan kelompok-kelompok di Jalur Gaza dan terus menggempur Jalur Gaza yang dibalas dengan serangkaian serangan roket oleh Hamas.

Seiring serangan udara Israel, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan ‘opsi’ untuk mengerahkan tentara di kota-kota. Para pejabat Israel mengatakan Hamas harus mendapat pukulan pencegah yang kuat sebelum gencatan senjata. Bahkan seorang pejabat militer Israel mengatakan tiga brigade infanteri sedang ‘mempersiapkan skenario terburuk’ mengonfirmasi bahwa invasi darat dapat mengikuti pemboman dari udara. Lembaga think tank AS, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memprediksi ada kemungkinan tindakan Israel akan membawa ke dalam konflik terbuka di Gaza, seperti  pada 2009, yang akan memicu krisis politik Palestina, yang berarti makin tipis harapan untuk merdeka sepenuhnya.

Pada hakikatnya tindakan yang dilakukan oleh zionis Israel bentuk penjajahan. Penjajahan tersebut terjadi berawal dari perebutan wilayah kaum Muslimin. Kependudukan Yahudi ini memiliki sejarah panjang bahkan jauh sebelum Islam hadir di muka bumi. Sejak Khilafah Utsmaniyah runtuh1924, Bumi Palestina jatuh ke tangan Zionis Yahudi, sang agresor dan penjajah. Zionis Yahudi berhasil mendirikan entitas negaranya pada 1948 dengan menduduki 77% tanah Palestina dan setelah mengusir 2/3 (dua pertiga) rakyat Palestina dari tanah mereka. Yang tersisa tinggal 156 ribu jiwa (17%) dari total warga entitas Israel saat didirikan. Itu pun mereka seperti warga asing di tanah mereka sendiri.

Pemerintah Inggris menetapkan Deklarasi Balfour pada 2 November 1917. Deklarasi ini menjanjikan orang Yahudi mendapat tanah di Palestina. Berbagai kekerasan dan kerusuhan mengiringi deklarasi ini yang mengakibatkan 2.000 orang tewas dan 4.000 lainnya terluka akibat berbagai kerusuhan. Pada 1918 Jendral Allenby berhasil merebut Palestina dari tangan Khilafah Turki Usmani.

Hal utama yang membuat kita seharusnya buka mata dan peduli dengan kondisi Palestina adalah karena kaum Muslimin di Palestina adalah saudara kita. Bahkan Rasulullah SAW menyampaikan persaudaraan kaum Muslim ibarat satu tubuh. Ditambah lagi kaum Muslimin di Palestina juga berjuang untuk membela salah satu tempat suci kaum Muslimin, yaitu masjidilaqsa. Sebagaimana dalil Qur’an Surah al-Isra’ ayat 1 yang menjelaskan tentang tempat bersejarah terjadinya Isra’ mi’raj Rasulullah SAW.

Nilai nyawa dalam Islam begitu tinggi. Nyawa bahkan dalam ranah ushul fiqih termasuk dalam kategori ‘Al-Dharurat al-khamsah’ (lima hal primer yang wajib dipelihara). Artinya, pada asalnya, nyawa manusia tidak boleh dihilangkan begitu saja tanpa ada alasan yang jelas. Tak peduli nyawa orang muslim maupun kafir.

Al-Quds pun merupakan tanah kiblat pertama bagi kaum Muslim sampai Allah SWT menurunkan wahyu untuk mengubah kiblat ke arah Kakbah (QS al-Baqarah [2]: 144). Selain itu, Masjid Al-Aqsa adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Nabi SAW untuk dikunjungi. Beliau bersabda: “Tidaklah kalian mengadakan perjalanan dengan sengaja kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjid Al-Aqsha.”  (HR al-Bukhari dan Muslim).

Serangan Israel ke Palestina tersebut mendapat respons keras dari umat Islam dari seluruh penjuru dunia, memicu gelombang protes dan kecaman spektrum luas dari individu, entitas Muslim lokal dan global, hingga pemimpin negeri-negeri Muslim. Kepala Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mengutuk serangan udara mematikan Israel di Jalur Gaza sebagai ‘tidak pandang bulu dan tidak bertanggung jawab’ dan mengatakan Israel telah memprovokasi peningkatan kekerasan di Yerusalem.

Menteri luar negeri Liga Arab menindaklanjuti dengan pertemuan virtual untuk membahas situasi di Yerusalem. Namun hingga saat ini, negara-negara Arab tidak melakukan tindakan apa pun selain mengecam, menandakan menyusutnya peran mereka. Negara-negara Arab tidak berdaya karena telah dibelenggu oleh normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel melalui penandatanganan Perjanjian Abraham.

Palestina sesungguhnya milik kaum Muslimin. Namun, dalam perjalanan sejarah yang panjang dan dukungan berbagai perjanjian, Barat membantu Yahudi untuk menguasai Palestina dan mengusir penduduk Palestina hingga kini. Berbagai solusi tawaran Barat untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel bukanlah solusi hakiki yang mampu mengembalikan Palestina ke dalam pangkuan kaum Muslimin.

Pembebasan tanah Palestina jelas tak mungkin bergantung pada Barat, yang sudah pasti berpihak pada Israel. Begitu juga, tidak mungkin berharap pada negeri Islam yang tunduk pada kepentingan Barat. Bahkan solusi berupa pemisahan negara secara adil, ataupun gencatan senjata tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi di tanah kaum Muslimin.

Satu hal yang pasti, untuk membebaskan tanah mulia ini tentu dibutuhkan kekuatan militer yang hebat yang mampu mengalahkan tentara Israel dan sekutunya. Tentu saja, kekuatan militer itu harus datang dari luar Palestina. Namun, berharap pada negeri Muslim sekarang ibarat menggantungkan harapan kosong. Satu-satunya negara yang mampu menghadirkan kekuatan militer adalah negara yang menerapkan sistem Islam secara menyeluruh. Ikatan akidah Islam akan mempertemukan cita-cita kaum Muslimin di Palestina dan semangat jihad tentara kaum Muslimin dari khilafah, dalam satu perjuangan mulia membebaskan tanah yang diberkati ini dari penjajahan Barat.

Hanya Institusi yang menerapkan sistem Islam secara paripurnalah yang pantas menjadi harapan untuk mengakhiri konflik tiada akhir Palestina-Israel, melindungi kemuliaan rakyat Palestina, serta menghadirkan kesejahteraan dan keamanan. Maka, untuk mewujudkan penerapan Islam kaffah dalam institusi pemerintahan yang menerapkan sistem Islam secara kaffah tersebut perlu adanya perjuangan dengan metode dakwah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. Mendakwahkan solusi tuntas ini pun harus berjamaah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabat terdahulu. wallahu a’lam.[]

 

 

 

 

 

 

News Feed