oleh

Latar Belakang Konflik Palestina

Oleh:  Nabillah Syifauzzurah, S.T.

Maslahat Umat | Palestina adalah bagian selatan dari negeri Syam. Masjidilaqsa merupakan kiblat pertama umat Islam dalam melaksanakan ibadah salat sebelum pemindahan kiblat ke Masjidil Haram di Kota Suci Makkah berdasarkan wahyu Allah. Masjidilaqsa merupakan masjid kedua yang dibangun pertama-tama di muka bumi dan Masjidilaqsa merupakan masjid suci ketiga umat Islam yang penting untuk dikunjungi setelah Masjidil Haram dan Nabawi

Penaklukkan pertama kali dilakukan pada masa Khilafah Umar bin Khaththab pada 15 Hijriah. Setelah Palestina jatuh ke tangan tentara Salib, Salahudin Al Ayubi merebut kembali tanah Palestina. Pasca kekalahan Daulah Khilafah Utsmani dalam Perang Dunia I, Daulah Khilafah bak kue bolu, dipotong-potong oleh negara Eropa khususnya Inggris dan Prancis.

Pada 1916, menteri luar negeri Inggris dan Prancis yaitu Sykes dan Picot menyepakati perjanjian pembagian wilayah timur tengah bagi kedua negara. Perjanjian ini dikenal sebagai perjanjian Sykes-Picot dan Palestina ditetapkan sebagai perbatasan kedua wilayah. Oleh karena itu, mereka menjadikan Palestina sebagai wilayah Internasional. Dari sinilah mereka mengupayakan penyerahan Palestina kepada Yahudi yang disahkan dalam perjanjian Balfour  2 November 1917, yaitu sebuah kesepakatan penyerahan Palestina ke komunitas Yahudi dan mendirikan negara Israel bagi Yahudi di Palestina.

Inggris dan Prancis memberikan semua kebutuhan untuk terlahirnya negara Israel. Kedua negara tersebut memberikan dana dan senjata besar-besaran demi terwujudnya negara Israel. Dalam perkembangannya, untuk mengamankan terjaminnya kepentingan AS di Timur Tengah, AS ikut memberi saham yang bahkan jumlahnya jauh lebih besar dari pendahulunya.

Pasca Perang Dunia II, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memutuskan pembagian (daerah Palestina) melalui resolusi yang dikeluarkan oleh Majelis Umum pada 29 Oktober 1947. Keputusan tersebut membagi Palestina menjadi dua. Sebagian besar wilayah Palestina diserahkan pada Yahudi. Selanjutnya Yahudi mendeklarasikan sebuah negara Israel pada 1948.

Saat kepemimpinan Donald Trump, AS semakin menunjukkan wajah aslinya. Dalam perang enam hari pada 1967 telah disepakati oleh Konsensus Internasional bahwa permukiman Yahudi di wilayah Palestina–seperti di tepi Barat dan Yerusalem Timur–merupakan pelanggaran HAM.

Saat itu Amerika Serikat bagian dari yang menyetujui Konsensus Internasional tersebut. Namun sikap itu berubah pada Senin, 18 November 2019. Di tangan Donald Tramp, AS tidak lagi menganggap pemukiman Yahudi sebagai tindakan ilegal. AS mendukung pemukiman Israel di tanah Palestina dengan terang-terangan. “Menyebut pendirian permukiman warga sipil tidak konsisten dengan hukum internasional, tidak berhasil. Hal itu tidak memajukan upaya perdamaian,” ujar Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo. (BBC.com, 21/11/2019)

Setelah melihat sejarah kependudukan Israel atas tanah Palestina, kita bisa menyimpulkan sesungguhnya penyebab utama terjadinya konflik di Palestina dirampasnya tanah milik Palestina oleh Israel. Selanjutnya, Israel meminta tanah Palestina dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Negara Israel (Perampas) dan Palestina (Tuan Rumah).

Reaksi Dunia

Dikutip dari Aljazeera (16/5/2021), Rana Nazzal seorang aktivis Palestina-Kanada di Tepi Barat yang diduduki, mengatakan semua kejahatan di Palestina selama beberapa tahun terakhir telah terjadi di bawah hidung komunitas internasional. “Dan orang harus bertanya apa gunanya PBB jika hanya mengutuk, dan tidak ada tindakan untuk menindaklanjutinya,” tegasnya.

Apalagi pada pertemuan darurat ketiganya, PBB tidak menghasilkan hal konkret setelah diblokir Amerika Serikat sebagai salah satu pemegang hak veto. Bahkan pada dua kali pertemuan sebelumnya AS juga melakukan pemblokiran terhadap pernyataan PBB untuk mengutuk serangan militer Israel dan menyerukan gencatan senjata.

Presiden AS Joe Biden memang tidak memberikan tanda-tanda untuk meningkatkan tekanan publik terhadap Israel, bahkan berulang kali menekankan hak Israel untuk mempertahankan diri (aljazeera.com, 17/5/2021). Bahkan Komite Eksekutif Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengadakan pertemuan luar biasa pada tingkat menteri luar negeri pada Ahad (16/5/2021). Pertemuan virtual ini diketuai oleh Arab Saudi dalam rangka mengecam agresi Israel terhadap Palestina.

Pernyataan OKI ini seolah elok didengar. Istilah ‘mengutuk’, ‘menegaskan’, ‘mendesak’, ‘memperingatkan’ dan narasi sejenis disampaikan seolah akan membuat Israel ketakutan dan takluk pada pernyataan ini. Namun, nyatanya tidak demikian. Telah puluhan tahun pendudukan Israel atas Palestina sejak 1947, selama itu narasi ‘kutukan’ dan ‘kecaman’ sudah berulang kali diluncurkan OKI. Namun pendudukan Israel atas Palestina makin masif.

Yang terbaru, AS telah memblokir rapat darurat Dewan Keamanan (DK) PBB untuk membahas permasalahan Israel dan Palestina yang seharusnya digelar pada Jumat (14/5/2021). Untuk mengadakan rapat, semua anggota DK PBB harus sepakat terlebih dulu. Jika ada satu dari lima belas anggota tak setuju, maka DK PBB tak dapat menggelar rapat. Yang jadi permasalahannya, kontribusi apa yang tepat bagi Palestina? Sebab, bukan hanya niat saja yang harus kita perhatikan, tapi amalan kita pun harus tepat agar amalan kita menyolusi masalah, bukan mengaburkan atau bahkan menambah masalah.

Begitu pun Palestina, sungguh mereka membutuhkan bantuan militer, bantuan senjata untuk mengusir Israel yang persenjataannya didukung penuh oleh AS. Seandainya saja kaum Muslim bersatu dan mengirimkan tentara beserta persenjataannya, niscaya konflik Palestina akan berakhir. Jangan pula pernah berharap pada resolusi baru PBB, karena pada sejarahnya, justru PBB-lah yang mengukuhkan berdirinya ‘negara’ Israel. Apalagi berharap pada kecaman OKI, mustahil Palestina bisa terbebas dari belenggu penjajahan.

Konflik Palestina Tak Kunjung Usai

Mata dunia umumnya melihat penderitaan sebagian kaum Muslimin yang diserang di Palestina. Faktanya, bukan hanya Palestina yang menderita. Banyak juga kaum Muslimin di tempat lain yang secara khusus tertindas atau sengaja diserang. Muslim Moro, Uighur dan Rohingya adalah potret riil bagaimana dunia sedang menunjukkan ketidakadilan kepada Islam dan kaum Muslimin. Inilah yang harus kita pahami, ketertindasan tidak berlangsung di Palestina saja. Namun, mengapa semua itu terjadi hingga kini?

Ketakberdayaan kaum Muslimin saat ini akibat hilangnya junnah (perisai umat) yang hakiki. Umat Muslim saat ini terlalu sibuk dengan negaranya masing-masing akibat dari rasa nasionalisme. Mengangap permasalahan saudara Palestina bukan masalahnya. Bersikap acuh dan tidak mau peduli. Padahal Islam mengajarkan harus peduli terhadap sesama Muslim. Sungguh  sekat-sekat ini telah mengoyak ukhuwah di antara umat Muslim dunia.

Sikap Seorang Muslim

Kewajiban kita umat Islam di mana pun berada untuk membantu saudara di Palestina dan pembelaan kita terhadap Masjidilaqsa. Lantas bagaimana sikap kita Muslim? Di antaranya, suarakan dukunganmu dalam bentuk apa pun. Termasuk di berbagai media dan tempat. Hingga dunia pun tahu umat Islam di Palestina sana juga sedang terluka, Palestina negara yang mengalami kasus teror terlama di dunia. Negara yang di dalamnya terjadi krisis kemanusiaan terparah yang pernah ada. Perempuan diperkosa, dianiaya, dibunuh. Anak-anak bermandikan peluru tajam. Laki-laki apalagi, berbagai macam siksaan dan serangan mereka dapatkan.

Selanjutnya, kurangi ketergantungan dan boikot produk Yahudi di sekitar kita. Meskipun kita juga mengetahui, saat ini hampir sebagian besar kebutuhan umat Islam bergantung pada produk Yahudi. Apa yang kita gunakan dan apa yang kita konsumsi untuk saat ini. Meski berat, kalau komit, pelan-pelan tapi pasti bisa dilakukan.

Terakhir, berdoalah untuk umat Islam Palestina. Jika kita sudah merasa tidak ada lagi yang bisa diperbuat, janganlah berputus asa. Doa adalah sebaik-baik senjata yang dimiliki umat Islam. Doa adalah usaha di luar batas yang hanya umat Islam yang dapat melakukannya. Kekuatannya sangat dahsyat, bahkan logika pun tak mampu memikirkannya.

Solusi Konflik

Jika kita melihat semua permasalahan ini, nyatalah, bahwa satu-satunya solusi bagi kaum Muslim termasuk saudara kita di Palestina yakni kembalinya kepemimpinan global bagi kaum Muslim. Pemimpin Islam akan mengomandoi 1,5 miliar kaum Muslim di seluruh dunia untuk dan berjihad serta akan melindungi dan mempertahankan seluruh wilayah dan tanah kaum Muslim. Inilah satu-satunya solusi yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya kepada kita.

“Perumpamaan kaum Mukminin dalam saling cinta dan sayang mereka laksana satu tubuh, jikalau ada satu anggota tubuh yang mengeluh, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan bergadang.” (HR Bukhari dan Muslim).

Seorang Mukmin bagi mukmin lainnya laksana satu bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian lainnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, tidaklah kita mencukupkan pada aksi-aksi saja, kepada pengiriman bantuan saja, dan kepada protes dan pengutukan saja, tetapi lebih daripada itu, setiap umat Islam mesti memiliki kesadaran politik bahwa satu-satunya solusi mereka adalah tegaknya kembali kepemimpinan Islam yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Wallahuálam bishwawab.[]

 

News Feed