oleh

Ketika Milenial Rentan Kesepian

Oleh: Rissa Septiani Mulyana, S.Psi.

Maslahat Umat | Ada banyak yang dapat dikaji dari lahirnya sebuah generasi. Mereka lahir dengan corak peradaban tempat mereka dibesarkan. Begitu pula dengan generasi milenial. Banyak kalangan yang mengulik berbagai aspek dari generasi yang hidup di masa analog dan digital ini. Salah satu pembahasan yang menjadi pusat perhatian adalah mengenai kesehatan mental, sebab disinyalir generasi milenial rentan menderita gangguan mental.

Salah satu dari ketidakseimbangan mental ini adalah kesepian. Dalam survei terbaru yang dilakukan YouGov, terungkap orang dewasa muda abad ke-21 adalah generasi paling kesepian yang melampaui Generasi Baby Boomer (1940-1955) dan Generasi X (1955-1970). Laporan itu juga menemukan, 30 persen generasi milenial selalu merasa kesepian (dikutip dari Kompas.com).

Dalam salah satu postingan akun Instagram @mapro_psikologiklinis dipaparkan hasil penelitian di Inggris oleh Theresa May, 2017, sebanyak lebih dari 9 juta warga Inggris (14% dari populasi) merasa kesepian. Masalah kesepian juga menjadi masalah besar di Amerika, 40% orang dewasa di Amerika menyatakan mereka merasa kesepian.

Sebuah ironi yang memilukan ketika zaman modern dengan ritme kehidupan serba cepat dan kemudahan untuk terkoneksi satu sama lain, namun hal tersebut justru membentuk manusia-manusia yang dipenuhi kehampaan. Nyatanya kecanggihan teknologi yang tidak dibarengi dengan peradaban manusiawi malah tak mampu memenuhi fitrah manusia.

Peradaban saat ini ialah peradaban dengan sistem sekuler-kapitalis. Dalam sistem ini, manusia saling berinteraksi dengan tujuan mencari kepuasan jasmani serta manfaat materil sebanyak-banyaknya. Hal ini tentu mendorong masing-masing individu untuk mencapai kepuasan pribadi. Berbagai cara dilakukan, tak peduli halal-haram, apalagi norma sosial yang serba relatif itu. Akibatnya, muncul ilusi kompetisi antar individu yang saling sikut di arena balapan kehidupan ala kapitalisme.

Ritme hidup seperti inilah yang membangun pola pikir dan sikap individualisme. Tak jarang kita saksikan potret milenial masa kini yang apatis atau tak acuh terhadap manusia lain di sekitarnya. Tak peduli dengan problem masyarakat yang saat ini melanda. Dalam pikirnya, “Selama saya baik-baik saja, selama tak merugikan orang lain, that’s fine!”  tersebab dirinya telah disibukkan dengan arena balap untuk mencapai tujuan dan pencapaian materil tadi namun hampa dari aspek spiritual/ruhiyah.

Ketiadaan aspek ruhiyah ini adalah salah satu kecacatan sistem sekuler kapitalis. Tidak ada pengaitan antara aktivitas manusia dengan keberadaan Allah sebagai Sang Pencipta. Manusia dinilai menjalani kehidupannya sendiri tanpa ada yang mengatur dan tak perlu ikut aturan Sang Pencipta. Mungkin mereka menilai ini sebagai kebebasan namun justru inilah yang menjerumuskan manusia pada jurang kesepian yang mendalam. Sebab di sana mereka tak menemukan ketenteraman dari tujuan yang hendak dicapai.

Bersamaan dengan rusaknya peradaban dalam sistem sekuler kapitalis, generasi milenial dibuat jenuh dan muak dengan fakta-fakta rusak bin bobroknya masyarakat saat ini sehingga mereka memilih untuk hidup sendiri, mengurus urusan diri sendiri, tak mau banyak terlibat dengan orang lain. Sempurnalah sudah milenial tenggelam dalam kesepian. Hidup di tengah keramaian namun akrab dengan kehampaan.

Berbeda dengan peradaban dalam sistem Islam. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk aspek sosial kemasyrakatan. Dalam Islam, setiap individu memiliki kesadaran penuh untuk bertakwa dan menyembah Allah SWT, menjadikan kalam-Nya sebagai landasan kehidupan serta ridha-Nya sebagai tujuan. Tak hanya itu, masyarakat dalam sistem Islam adalah masyarakat yang peduli satu sama lain.

Didorong oleh ketakwaan individu, masyarakat dalam sistem ini senantiasa saling mengingatkan dalam kebaikan serta mencegah sesamanya dari aktivitas kemungkaran. Gotong royong, saling menolong, bertegur sapa adalah kebiasaan yang dilandasi ketakwaan. Tentunya atmosfer masyarakat ideal ini didukung oleh hadirnya institusi berupa negara yang menerapkan hukum Islam.

Negara hadir dengan tugasnya sebagai pengurus umat yang wajib memenuhi hajat hidup rakyatnya, melindungi harta, akal dan jiwanya. Masyarakat dalam sistem Islam tak akan risau dengan hal-hal materil yang melelahkan sebab semua elemen (individu, masyarakat, negara) sadar betul akan hakikatnya sebagai hamba dari Sang Pencipta, sehingga semuanya saling mendukung untuk bersama-sama menggapai ridha Allah SWT. []

 

 

News Feed