oleh

Hari Fitri yang Tak Pernah Biasa di Palestina

Oleh: Syifa Nailah Muazarah

Maslahat Umat | Tidak bisa pulang ke kampung halaman, harga bahan pokok naik jelang hari raya, drama penanganan pandemi yang semakin membuat pening, hingga ramai tes calon karyawan sipil KPK yang tidak masuk akal. Hal-hal tersebut adalah segelintir masalah lokal yang menyapa Muslim negera kepulauan Indonesia jelang Hari Raya Idul Fitri 1442 hijriyah. Hari yang seharusnya disambut dengan penuh suka cita, bahagia dan berkumpul dalam keadaan fitri ini tidak hanya menguji kesabaran Muslim di Indonesia. Kaum Muslimin di Palestina harus kembali menahan perih, luka dan kehilangan jelas hari yang seharusnya menjadi kemenangan lahir batin bagi seluruh Muslim penjuru dunia.

Kamis 6 Mei 2021 yang menjadi hari-hari terakhir Ramadhan, zionis Israel melakukan pengusiran kepada penduduk Muslim Palestina di pemukiman Sheikh Jarrah Yerusalem Timur. Diikuti dengan serangan tembakan dan granat yang digencarkan tentara zionis Israel ke Masjid Al-Aqsha usai kaum Muslimin melaksanakan shalat Maghrib di Jum’at terakhir Ramadhan. Hal tersebut membuat kaum Muslim Palestina harus melewati malam-malam lailatul qadar yang seharusnya dijalani dengan syahdu dan khidmat, menjadi malam-malam berdarah yang mencekam.

Penduduk Palestina harus menyambut hari raya Idul Fitri 1442 H dengan kondisi yang sangat sulit dan senatiasa waspada. Karena sewaktu-waktu tentara zionis Israel ini bisa melakukan serangan untuk merebut wilayah Palestina yang semakin tersudut dan mengecil. Saat Muslimin Palestina hampir selalu menyambut raya dengan tidak biasa dan dirudung bahaya, sehingga kumpul keluarga dengan lengkap menjadi harga mahal yang sungguh langka. Lantas bagaimana hari rayamu wahai kaum Muslimin yang seharusnya terikat akidah dan juga merasa resah?

Tindakan Solutif

Konflik antara Israel dan Palestina yang dengan jelas merupakan tindakan penjajahan bahkan aksi terorisme tentu bukan sebuah kabar baru. Hampir di setiap tahunnya Palestina terus menerus diserang dan dihabisi hingga kebatas-batas tersempit dan suci, Masjidil Aqsha. Telah berkali-kali dunia menaruh simpati dan belas kasih kepada penduduk Palestina yang selalu terjepit garis teritorial dan status sebagai Muslim yang tidak diakui hukum internasional sebagai warga negara. Meski saudara Muslimnya tersebar di seluruh penjuru dunia dan menenmpati populasi tertinggi, tapi sejak 1948 tidak kunjung selesai konflik tersebut. Dunia Islam seakan nyala dan padam menghadapi isu Palestina-Israel sekalipun penguasa negeri-negeri Muslim tersebar di berbagai benua.

Sudah menjadi rahasia umum, menaruh harapan pada negara-negara dengan penguasa Muslim untuk menyelesaikan konflik Palestina angan-angan kosong. Pasalnya, negara yang menjadi tuan dari segala konsensus internasional, Amerika Serikat, adalah yang paling getol memberi dukungan Israel untuk menjajah Palestina. Belum lagi PBB yang juga dengan kebijakan internasionalnya menyetujui ketiadaan hak Palestina atas tanahnya sendiri. Lantas apa yang bisa dilakukan kaum Muslimin untuk menyelamatkan Palestina saat tidak ada satu pun kekuatan militer yang mampu dikirimkan untuk menghadapi kebengisan tentara zionis Israel?

Pada hakikatnya tanah Palestina adalah milik kaum Muslimin yang telah dibebaskan oleh mujahid tangguh di masa kekhilafahan Umar bin Khattab. Bukan hanya itu saja darah dan keringat yang dikorbankan untuk tanah Palestina, tentara Muslim yang dipimpin oleh Shalahuddin Al-Ayyubi juga megambil peran dalam membebaskan Palestina yang sempat dirampas.

Berkaca pada orang-orang mulia tersebut, tentu tidak sepatutnya kaum Muslimin diam dan bahkan tidak peduli atas masalah serius ini. Tentara Israel akan seantiasa semena-mena kepada penduduk Palestina selama tidak ada kekuatan militer setangguh pasukan Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al-Ayubi yang memperjuangkan mereka. Akan tetapi kekuatan militer ini tidak akan pernah bisa terwujud selama kaum Muslimin tidak bersatu dan terus mementingkan ego dan kekuasaan yang salah.

Persatuan kaum Muslimin yang menyelesaikan dan mengembalikan tanah Palestina hanya akan terwujud dengan kesadaran penuh tiap-tiap individu Muslim di manapun mereka berada tentang pentingnya kembali kepada Islam dan menyelamatkan saudara seakidah mereka. Kesadaran ini tidak akan terwujud jika pemikiran kaum Muslimin terhadap kehidupan ini dan memandang masalah masih dikungkung oleh cara berpikir materi yang menimbang masalah sekadar dengan insting manfaat.

Kembali kepada pemikiran Islam yang menyeluruh adalah kunci dari kesadaran yang terwujud di tengah kaum Muslimin. Maka tugas kita hari ini adalah kembali kepada pemikiran Islam, penyelesaian masalah dengan Islam dan menyuarakan dengan lantang identitas Muslim dan pemikiran Islam kita di tengah kaum Muslimin yang kebingungan memahami agamanya.

Bukankah Rasulullah telah berpesan dalam haditsnya tentang keberkahan bumi Syam yang di dalamnya juga terdapat Palestina? “Berkahlah penduduk Ash Sham. Berkahlah penduduk Ash Sham. Berkahlah penduduk Ash Sham. Para sahabat bertanya mengapa, beliau menjawab, ‘Karena sayap para malaikat yang penyayang diturunkan di atasnya’.” (HR Tirmidzi).

Dan bukankah Rasulullah telah menstandarkan ikatan di antara kaum Muslimin ibarat satu tubuh yang saling terikat erat lebih dari ikatan apapun? “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut tidak bisa tidur dan panas.” [Sahih Muslim]

Lalu, bukankah Allah ta’ala telah memilih kita kaum Muslimin sebagai penegak kebenaran dan kaum pilihan yang tidak diam atas kemunkaran? “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS ali-Imran: 110).

Maka, tidak takutkah kita jika tetap diam dan bungkam sedangkan segala perintah dan larangan yang diabaikan akan dimintai pertanggungjawaban? Jangan diam! Posisimu menentukan hisabmu![]

News Feed