oleh

Waktu Pembayaran Zakat Profesi

Diasuh oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Maslahat Umat | Ustadz, saya mau bertanya, untuk zakat profesi apakah 2,5%, misal tiap bulan kita bayarkan zakat dengan menyumbangkan ke yayasan yatim, tahfidz, pembanguna sumur dll apakah bisa, sebab kalau 1 tahun jumlahnya kan besar.

Jawaban

Profesi yang penghasilannya bulanan, zakatnya bulanan. Ada pun disalurkan ke yatim (jika mereka fakir) tentu boleh, Sedangkan ke rumah Al Quran, masjid, atau semisalnya, itu diperselisihkan.

Zakat Maal untuk kemakmuran Masjid, umumnya menurut ulama adalah tidak boleh, baik pembangunan maupun operasional, alasannya karena ketiadaannya dalam delapan ashnaf mustahiq zakat. Sebagaimana yang diyakini oleh umumnya Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hambaliyah.

Namun, pendapat yang lain menyatakan boleh, sebagaimana yang dikuatkan oleh Imam Fakhruddin Ar Razi Rahimahullah dalam tafsir Beliau tentang makna ashnaf “fi sabilillah” dalam delapan ashnaf mustahiq zakat. Menurutnya makna “fi sabilillah” tidak terbatas pada mujahidin yang sedang perang, tetapi lebih umum yakni semua upaya memperjuangkan agama dan syiarnya adalah termasuk kategori “fi sabilillah”. Apalagi dalam situasi yang sedang tidak ada perang, tentu makna tersebut mesti diperhatikan pada semua usaha membela agama dan memperjuangkan syiar Islam.

Beliau menjelaskan:

Ketahuilah bahwa secara zahir lafaz firmanNya: “dan fi sabilillah” tidaklah mesti dibatasi hanya pada semua bentuk perang, karena makna inilah Al Qaffal meriwayatkan dalam Tafsir-nya dari sebagian ahli fiqih bahwa mereka membolehkan menyerahkan zakat untuk semua bentuk kebaikan seperti mengkafankan mayat, membangun bangunan yang kokoh, memakmurkan masjid, karena makna firmanNya: “dan fi sabilillah” adalah umum pada segala hal. (Imam Ar Razi, Mafatihul Ghaib, 16/87. Cet. 3, 1420H. Ihya’ut Turats Al ‘Arabi, Beirut)

Oleh karenanya, semua bentuk upaya memperjuangkan agama Allah Ta’ala, meninggikan kedudukannya, dan memperluas syiarnya, seperti membangun masjid, mencetak kitab-kitab para ulama, membendung Kristenisasi, membangun pesantren, membuat Islamic Center, membangun media Islam, menggaji para ulama, ustadz dan da’i, dan yang lainnya semisalnya, itu termasuk makna “fi sabilillah”.

Hal ini juga dikuatkan oleh Imam Shiddiq Hasan Khan Rahimahullah berikut ini:

Dan di antara keumuman makna “fi sabilillah” adalah menyerahkan zakat kepada para ulama yang memperjuangkan kemaslahatan agama kaum muslimin, karena sesungguhnya mereka punya hak terhadap harta dari Allah, sama saja apakah mereka kaya atau faqir, bahkan memberikan zakat kepada bagian ini termasuk perkara yang paling penting karena para ulama adalah pewaris para nabi, pengusung agama, merekalah yang menjaga kemurnian agama Islam dan syariat sayyidul anam (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Dahulu para sahabat nabi mengambil dari pemberian zakat untuk memenuhi apa-apa yang menjadi kebutuhan mereka. ( Ar Raudhah An Nadiyah, 1/207)

Pendapat ini juga didukung oleh:

1. Imam Jamaluddin Al Qasimi dalam tafsir Mahasin At Ta’wil (7/3181),

2. Syaikh Rasyid Ridha dalam Tafsir Al Manar (10/585),

3. Syaikh Mahmud Syaltut dalam Al Fatawa (Hal. 289),

4. Syaikh Hasanain Makhluf dalam Fatawa Syariah-nya,

6. Juga Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah dalam Fiqhuz Zakat-nya.

Demikian. Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

News Feed