oleh

V-Day Undercover

Oleh: Aniza Rizky, S.Gz. | Alumnus FKM Universitas Indonesia

Maslahat Umat | Hastag ‘valentine bukan budaya kita’ tampaknya selalu menjadi trending Twitter di Indonesia setiap 14 Februari. Bukan hal yang asing lagi, umumnya masyarakat Indonesia sudah paham, memang hari valentine atau V-day bukan berasal dari Islam. Namun, hal itu tidak menghilangkan ‘tradisi’ perayaan valentine di Indonesia, yang mayoritasnya Muslim, setiap tahunnya dengan memberikan bunga, coklat dan sebagainya.

Sebagai seorang Muslim tentunya kita perlu mewaspadai eksistensi dari perayaan hari valentine, terlepas kita merayakannya atau tidak. Karena jelas hari valentine merupakan perayaan maksiat yang dibalut sedemikian rupa dengan embel-embel kasih sayang, kepada siapapun, bukan hanya lawan jenis. Hal ini yang kadang membuat kita ‘tertipu’.

Fakta menunjukkan bahwa puncak peringatan ‘hari kasih sayang’ ini setiap tahunnya identik dengan penjualan kondom yang laku keras. Dikutip dari borneonews.co.id (14/2/2021) penjualan cokelat kemasan dan alat kontrasepsi (kondom) di sejumlah minimarket dan toko obat di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat mengalami peningkatan yang signifikan saat hari valentine. Bahkan, dikutip dari businesswire.com (11/2/2021) sehari sebelum hari valentine atau 13 Februari dinobatkan sebagai Hari Kondom Internasional oleh AHF. Fakta ini semakin menguatkan bahwa hari kasih sayang yang digadang-gadang selama ini tak lebih dari ekspresi nafsu seksual berbalut perhatian, cokelat dan bunga, yang ujungnya perzinaan massal. Hal ini menunjukkan adanya kerusakan generasi.

Fakta di Indonesia, sikap MUI tegas melarang kaum Muslimin terlibat dalam perayaan hari valentine. Tetapi masih ada saja pihak yang mewacanakan adanya upaya Islamisasi hari valentine, dengan dalih kasih sayang adalah ajaran Islam dan untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mampu beradaptasi dengan situasi apapun. Katanya, agar ajaran Islam bisa ‘diterima oleh seluruh semesta’.

Hari valentine bukanlah semata-mata masalah perayaan yang bebas nilai. Tetapi ada yang melatarbelakangi sampai-sampai Muslimah pun bisa terjerumus, bahkan setuju atau minimal biasa saja dengan perayaan hari valentine. Hal itu tidak lain adalah ide pluralisme dalam wujud feminisme, HAM, toleransi salah kaprah, kebebasan berpendapat dan sebagainya terus diaruskan oleh Barat. Sebaliknya, predikat ‘ekstremis, radikal dan teroris’ disandangkan kepada pihak-pihak yang menentang ide tadi serta memegang teguh Islam.

Sistem kapitalisme yang tertanam saat ini menumbuhsuburkan ide-ide pluralisme Barat yang jelas bertentangan dengan Islam. Misalnya lewat media, kebijakan, tempat umum dan sebagainya (sistem kehidupan). Hal ini bukanlah soal masalah pribadi atau sekadar masalah uwu-uwuan semata, tetapi merupakan problem generasi yang disebabkan oleh pemuda Muslim berpikir sekuler dan liberal sadar maupun tidak sadar.

Islam tidak menolak keberadaan naluri kasih sayang (gharizah nau’). Ketertarikan pada lawan jenis adalah fitrah manusia. Sekadar munculnya kecenderungan seksual dalam diri seseorang atau ada ketertarikan kepada lawan jenis bukanlah sebuah dosa yang berkonsekuensi pada hukuman. Namun Islam pun tidak membebaskan manusia memenuhi gejolak seksualnya sekehendak hati.

Di dalam Islam, adanya gharizah nau’ pada manusia disertai dengan ketentuan yang harus dipenuhi, di antaranya, masing-masing baik laki-laki maupun perempuan tetap menjaga akhlak mulia ketika berinteraksi, menutup aurat, tidak boleh khalwat (berdua-duaan), interaksi yang dilakukan pun hanya terbatas pada hal-hal spesifik (pendidikan, kesehatan, jual-beli) dan tidak boleh berkaitan dengan masalah pribadi yang bisa membangkitkan naluri seksual. Keterikatan pada aturan ini akan menjauhkan manusia dari terjerumus pada perbuatan yang diharamkan Allah SWT. Larangan tersebut sebagaimana disebutkan Allah SWT dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (TQS al Isra[17]: 32).

Di dalam Islam, cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang dilandasi ketaatan kepada Allah. Kita mencintai segala sesuatu karena itu merupakan perintah Allah, bukan hawa nafsu. Memang benar, Islam menganjurkan menyebarkan kasih sayang. Bahkan dalam sejumlah hadis Rasulullah SAW menyebutkan kasih sayang sebagai salah satu sebab turunnya rahmat Allah SWT, seperti sabda beliau, “Para pengasih dan penyayang dikasihi dan disayangi oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), sayangilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Zat yang ada di langit.” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924)

Namun, Islam memiliki ketentuan terkait kasih sayang, yang perlu diperhatikan. Pertama, menyebarkan kasih sayang landasannya bukan semata karena rasa suka dalam diri, namun didasari karena ketaatan pada perintah Allah SWT. Kasih sayang semata karena Allah tidak dibatasi waktu dan tempat. Muslim manapun akan senantiasa terdorong untuk melaksanakannya setiap saat demi mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah, bukan hanya terbatas di momen hari valentine.

Kedua, wujud kasih sayang ditampakkan harus sesuai dengan ketentuan syariat. Tentu saja wujudnya berbeda antara kasih sayang di antara pasangan suami istri juga tidak sama dengan kasih sayang dari orang tua kepada anaknya. Kasih sayang di antara saudara seiman serta kasih sayang sesama makhluk Allah juga diatur dalam Islam.

Berbeda antara kasih sayang yang disebarkan dalam Valentine’s Day dengan kasih sayang yang diajarkan Islam. Keduanya tidak bisa disatukan. Memoles perayaan Valentine’s Day dengan ritual zikir, doa dan pengajian, namun berikutnya tetap membuka celah pergaulan bebas dan maksiat lainnya seperti minum minuman keras, hakikatnya merupakan pencampuran antara yang hak dengan yang batil. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 42 yang artinya, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu membunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”

Pemuda Muslim memiliki peran besar dalam mencabut budaya valentine sampai ke akar-akarnya. Hal yang dapat dilakukan adalah dakwah. Dakwah kepada Islam merupakan wujud kasih sayang terindah yang wajib dilakukan. Dakwah merupakan wasilah sampainya hidayah. Dakwah Islam bisa menyelamatkan manusia dari kesengsaraan hidup di dunia dan membebaskannya dari azab pedih di akhirat kelak. Tetap membiarkan mereka dalam kesesatan justru bertentangan dengan hakikat kasih sayang.

Kita tidak bisa menutup mata, lalu menganggap apabila kita tidak ikut dalam perayaan hari valentine lantas kita pasti selamat. Kita wajib untuk berdakwah. Dakwah adalah mengajak manusia ke jalan Allah SWT. Di dalamnya termasuk seruan amar makruf nahi mungkar. Dengan dakwah manusia bisa keluar dari kegelapan jahiliah menuju cahaya terang Islam. Dakwah hukumnya wajib bagi setiap Muslim yang telah baligh dan berakal, baik laki-laki maupun perempuan. “Karena itu berdakwahlah dan beristiqamahlah sebagaimana diperintahkan kepada kamu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (TQS asy-Syura [42]: 15). Wallahu’alam bissawab. []

 

News Feed