oleh

Ustadz Yahya, Om Badut yang Berdakwah

Maslahat Umat | Menghibur anak-anak dan mengundang gelak tawa adalah sesuatu yang amat bernilai bagi hidupnya. Dia juga menyampaikan pelajaran moral, adab dan akhlak, serta membina anak-anak menjadi generasi yang saleh dan berbudi pekerti luhur.

Berdakwah dan mengajar ngaji sambil berkostum badut sudah dilakukan Ustadz Yahya Eduward Hendrawan sejak 10 tahun lalu. Yahya (38 tahun), begitu ia disapa mengatakan, awalnya keluarga tak terima bila ia membuka jasa ‘Badut Syariah’. Namun, karena pemahaman yang diberikan dan ingin menjadi pembeda dari yang lain, akhirnya keluarga menyetujuinya.

Pria yang gemar berdakwah ini kesehariannya mengajar anak-anak mengaji di Yayasan Panti Asuhan Darussalam An’nur, Kunciran Indah, Kota Tangerang. Warga RT 08/RW 04 Kelurahan Sudimara Pinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang ini rela menjadi badut untuk merangsang anak didiknya agar termotivasi untuk rajin belajar dan menghibur. Banyak warga di lingkungannya menjulukinya dengan nama panggilan ‘Om Yahya Badut’

Sempat muncul kebimbangan dalam dirinya, apakah menjadi badut atau guru mengaji. Sampai akhirnya bertemu dengan Ustadz Sudirman yang kerap memberikan jalan tengah memberikan solusi dengan perumpamaan kisah Abu Nawas yang kerap melucu dalam berdakwah. Ia mencoba menggunakan badut sebagai metode untuk mengajar agama. Tujuannya satu, ia ingin semakin banyak anak-anak di lingkungan sekitar lebih tertarik untuk belajar agama. Tentu saja membuat anak-anak lebih semangat untuk belajar.

“Alasan saya mengajar sambil berkostum badut, tak lain untuk memotivasi anak didik saya. Anak-anak pun terhibur dan jadi semangat dalam mengaji,” ungkap Yahya.

Ada akhlak yang saya tanamkan kepada anak-anak supaya teringat di memorinya akan pentingnya menimba ilmu agama, tambahnya. Untuk profesi badut, Yahya mengaku kerap memenuhi panggilan untuk menghibur dan mengajar di sejumlah daerah dalam Badut Syariah.

Yahya saat ini memiliki dua anak. Salah satu anaknya, Mirza berusia 4 tahun kerap ikut Yahya mengajar ngaji. Uniknya, Mirza juga turut dipersolek menjadi badut disaat mendampingi ayahnya. Ketika berkostum, Mirza disebut Bacil ‘Badut Cilik.

“Kalau Bacil memang dia ngaji di sini. Kalau saya berkostum badut, dia ikutan. Jadi, saya ngajak Bacil ini kalau ngajar di yayasan dia mengaji. Sambil memotivasi anak-anak yang takut jadi nggak takut,” kata sang Ustadz.

Ingin Punya Taman Bacaan

Bersama komunitas Badut, Ustadz Yahya gencar melakukan gerakan gemar membaca. Sebelum adanya Pandemi Covid-19, ustadz yang enerjik ini tak merasa lelah berkeliling kampung mengajak anak-anak disekitar wilayahnya untuk memberikan buku-buku bacaan, ketimbang selalu bermain Handphone dengan game online-nya.

“Harapan saya agar anak-anak tidak melulu asyik dengan bermain berbagai aplikasi yang ada di handphone,  yang terkadang mereka jadi bersikap tidak peduli kepada kawannya bahkan terkesan tak mau bergaul atau jadi anak rumahan saja,” terangnya.

Taman bacaan yang ia beri nama ‘Kampung Baca Sudimara Pinang’ ini berada persis di samping pekarangan rumahnya dengan tujuan agar semua anak –anak yang berada disekitar kampungnya gemar membaca dan hadir ke taman bacaannya yang ia rintis.

“Nah waktu yang ditetapkan untuk anak-anak membaca di sini adalah setiap hari Senin dan Rabu jam 1 siang, dan hari Jum’at jam 4 sore atau ba’da ashar. Terkait bantuan buku-buku bacaan di dapat dari para donatur dan ada juga dari pak Lurah dan Pak Camat,” ungkapnya.

Yahya menyebut belum ada dukungan dari Pemerintah Kota Tangerang ikhwal program ini. Padahal Pemerintah Kota Tangerang juga saat ini sedang gencar-gencarnya membentuk kampung tematik.

“Saya juga sekarang lagi berupaya membangun Kampung Iqra. Doakan semoga terealisasi, semoga pula jalan saya selalu dimudahkan,” tutupnya penuh harap. *(Dadang VJ)

 

News Feed