oleh

Untuk Apa Aku Kuliah?

Oleh: Siti Mawadah, S.T.| Alumnus Politeknik Negeri Jakarta

Maslahat Umat | Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 lalu, menunjukkan Indonesia setiap tahunnya menghasilkan sarjana atau lulusan dari Perguruan Tinggi rata-rata 350 ribu orang per tahun. Fakta ini membuktikan banyak generasi muda yang mempunyai kesempatan untuk kuliah. Namun, pada kenyataannya para mahasiswa masih bingung dengan jati dirinya dan tujuan apa yang hendak mereka capai ketika kuliah. Kebanyakan dari mahasiswa ketika kuliah berlomba untuk mendapatkan nilai bagus, lalu setelah lulus mereka berebut untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang mampu memberikan gaji besar kepada mereka.

Jadi bisa disimpulkan tujuan mereka kuliah hanya sebatas materi saja. Untuk apa aku kuliah? Lantas ilmu yang mereka dapatkan di bangku kuliah digunakan untuk apa? Padahal banyak persoalan masyarakat di luar sana yang harus mereka selesaikan, pun jika ilmu tersebut bisa menyelesaikan persoalan masyarakat itu hanya di lingkup kecil saja.

Adapun fakta yang lain, mahasiswa yang mempunyai kesempatan untuk kuliah tapi saat dipertengahan jalan merasa jurusan keilmuan yang saat ini dijalani tidak sesuai dengan minatnya, menjadikan selama masa perkuliahan berjalan, mereka hanya disibukkan dengan persoalan pribadi saja. Pun jika mahasiswa merasa jurusan keilmuan yang saat ini dijalani sesuai dengan minatnya, namun tidak difasilitasi oleh negara.

Hal-hal di atas bisa terjadi karena saat ini diterapkannya sistem sekuler kapitalis yang berorientasi pada materi. Sehingga para intelektual muda cenderung individualis, tidak peduli dengan keadaan masyarakat, tidak mempunyai idealisme dan tidak menghasilkan dampak yang besar bagi kemaslahatan masyarakat. Ditambah lagi sistem pendidikan kapitalisme saat ini bertujuan hanya untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Menurut Prof. James Duderstadt, fenomena ini disebut zaman keberlimpahan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi tidak mampu menyelesaikan berbagai macam krisis. Akibat sistem kapitalisme yang mengedepankan materi dalam kehidupan termasuk dalam hal pendidikan, menyebabkan mahasiswa kuliah hanya untuk kerja kerja kerja. Tanpa menyadari bahwa tujuan hidup yang semata-mata untuk beribadah kepada Allah.

Begitu pun kebingungan yang dirasakan sebagian mahasiswa terkait minatnya bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Pada dasarnya minat dan bakat seorang anak bisa dicari dan dikembangkan sejak dini dengan bantuan orang tua. Namun sayangnya sistem kapitalisme telah menyebabkan kerusakan yang memberikan efek domino di setiap lini kehidupan. Visi misi cara mendidik anak seharusnya sudah disusun ketika pasangan suami istri telah dikaruniai keturunan. Sehingga orang tua tidak bingung untuk mengarahkan dan menemukan minat bakat anak-anaknya.

Tapi di sistem saat ini, orang tua tidak mempunyai bekal yang cukup untuk mengarahkan dan menemukan bakat minat anak-anaknya. Bahkan mereka sibuk dengan urusan masing-masing dan anak-anaknya ‘dititipkan’ ke sekolah. Orang tua mempercayakan sepenuhnya kepada sekolah dan menganggap anaknya sudah menemukan minat bakatnya. Sebagian orang tua pun ada yang memaksakan keinginannya agar anak mengikuti arahan mereka,  tapi tidak dibarengi oleh kemampuan anak. Akhirnya anak pun stres, bingung, insecure dan lainnya. Di sisi lain, ada juga anak yang sudah menemukan minat bakatnya namun harus dibatasi oleh biaya ataupun fasilitas yang terbatas.

Maka kita harus menyelesaikan persoalan ini dengan mengembalikannya kepada hukum Islam. Di dalam Islam, menuntut ilmu adalah suatu kewajiban sebagai seorang Muslim. Dan ilmu adalah saudara kembar dari iman. Allah SWT berfirman, “Allah mengangkat orang-orang yang beriman dari pada kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS al-Mujadalah: 11). Allah SWT pun akan mengangkat derajat orang-orang yang menuntu ilmu. Bahkan Islam mendorong seseorang untuk terus menuntut ilmu.

Karena Islam adalah satu-satunya agama sekaligus mabda yang mengatur segala aspek kehidupan, salah satunya terkait sistem pendidikan. Di dalam Islam, pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang wajib terpenuhi. Negara bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan bagi laki-laki atau perempuan, Muslim atau non-Muslim, miskin atau kaya, semua wajib mendapatkan pendidikan yang layak, murah bahkan gratis.

Spirit pendidikan dalam Islam bukan hanya ditujukan untuk memperoleh materi, namun tujuan yang hendak dicapai yaitu membentuk seseorang untuk berkepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap Islam) yang selalu memakai ilmu pengetahuannya dalam setiap sendi kehidupan. Ilmu yang dipelajari ditujukan untuk menyelesaikan persoalan umat. Imam Al Ghazali berkata, “Jika seseorang mencari ilmu dengan maksud sekadar hebat-hebatan, mencari pujian, atau mengumpulkan harta benda, maka dia telah berjalan untuk menghancurkan agamanya, merusak dirinya sendiri dan telah menjual akhirat dengan dunia.

Ilmu pengetahuan (sains) diajarkan sesuai dengan keperluan, kemampuan dan kemauan siswa. Jika seseorang baru setingkat SMP dan SMA (tidak menunggu tingkat perguruan tinggi) sudah berkeinginan dan mempunyai kemampuan untuk mendalami ilmu kedokteran, dia akan diberikan ilmu tersebut. Bahkan ketika seseorang mau mempelajari lebih dari satu bidang keilmuan, itu juga diperbolehkan. Negara pun menyediakan fasilitas sarana dan prasarana.

Maka semua lini kehidupan akan berjalan dengan kondusif jika diterapkannya sistem Islam di dalam kehidupan saat ini. Di dalam keluarga, orang tua paham bagaimana untuk mendidik anak, anak pun dapat diarahkan untuk bisa mencapai apa yang menjadi keinginannya, Negara pun menjamin biaya yang murah dan memberikan fasilitas maupun sarana prasarana. Sehingga tidak akan ada lagi kebingungan di tengah generasi muda.

Intelektual yang terbentuk dalam Islam adalah yang peka terhadap permasalahan umat dan berperan menjadi penyelesaian persoalan yang ada ditengah-tengah umat. Contohnya intelektual Muslim seperti ‘Aisyah binti Abu Bakar, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun dan lainnya. Mereka dibentuk oleh sistem Islam dan mereka terbiasa mencurahkan pemikirannya untuk menyelesaikan persoalan umat dan untuk meraih ridha Allah. Maka cara yang tepat agar keilmuan intelektual muda saat ini tidak terbatas hanya untuk memperoleh materi, mereka harus mengenal jati dirinya sebagai seorang Muslim dan mulai untuk mengkaji Islam. Wallahu’alam.[]

 

 

 

 

 

Siti Mawadah, S.T (Alumnus Politeknik Negeri Jakarta)

 

 

 

 

 

 

 

News Feed