oleh

Ulama Pewaris Nabi, Begini Kedudukannya!

Maslahat Umat | Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. al-Imam at-Tirmidzi)

Ulama adalah rujukan bagi umat Islam sebagai tempat belajar dan bertanya tentang persoalan agama. Ulama dinilai sebagai orang yang mempuni untuk menjawabnya. Ulama pula yang membimbing umat sepeninggal nabi,  mengentaskan dan menyelamatkan umat dari kegelapan dan kebodohan, menuntunnya ke jalan yang lurus dan benar. Sungguh berat amanah di pundaknya.

Demikan tingginya kedudukan ulama di dalam Islam. Sehingga Rasulullah Saw menyebut ulama sebagai pewaris para nabi. Tentu ini adalah sebuah penghormatan tertinggi. Karena ditangan para ulama, dakwah Islam menyebar hingga ke seantero negeri.

Dalam Al Qur’an Allah berfirman, “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama.” (Fathir: 28). Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya, Kitabul ‘Ilmi mengatakan, “Ulama adalah orang yang dengan  ilmunya menyampaikan sifat takut kepada Allah Swt.”

Badruddinal-Kinanit mengatakan, “Mereka (para ulama) adalah orang-orang yang menjelaskan segala apa yang dihalalkan dan diharamkan, serta mengajak kepada kebaikan dan menafikan segala bentuk kemudaratan.” (Tadzkiratus Sami’). Oleh sebab itu, ulama adalah orang yang wajib kita hormati. Tanpa ulama, umat akan gamang, kehilangan pegangan, dan buta dengan hukum-hukum syariat.

Ciri-ciri Ulama

Gelar ulama bukanlah gelar yang mudah untuk disandang pada nama seseorang. Ulama bukanlah sebuah gelar yang bisa dicari dalam jenjang pendidikan tinggi dengan nilai ijazah yang mumtaz (terbaik), bukan pula gelar yang dicari dan didapatkan dengan jumlah pengikut yang setia dan banyak.

Dizaman now, mengenal ciri-ciri ulama yang lurus dan benar adalah sangat penting. Karena di negeri ini, begitu mudahnya seseorang mengklaim diri sebagai ulama, hanya karena dinilai dari jubah kebesarannya. Ulama tak cuma diukur hanya karena pandai bicara.

Ibnu Jarir ath-Thabari mengungkapkan dalam kitab tafsirnya, Jami’ul Bayan bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah seorang yang Allah jadikan sebagai pemimpin atas umat manusia dalam perkara fiqih, ilmu, agama, dan dunia.

Sementara itu, Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqqi’in, membatasi kriteria ulama sebagai orang yang pakar dalam hukum Islam, yang berhak berfatwa di tengah-tengah manusia, yang menyibukkan diri dengan mempelajari hukum-hukum Islam kemudian menyimpulkannya, dan yang merumuskan kaidah-kaidah halal dan haram.

Ulama adalah seorang pemimpin agama yang dikenal masyarakat luas akan kesungguhan dan kesabarannya dalam menegakkan kebenaran. Ulama seorang yang menekuni dan mendalami agama kemudian mendakwahkannya kepada umat.

Di antara ciri-ciri ulama, seperti digambarkan Ibnu Rajab al-Hambali, mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kedudukan, membenci segala bentuk pujian, dan tidak menyombongkan diri atas seorang pun.  Al-Hasan rahimahullah menambahkan, “Orang faqih adalah orang yang zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akhirat, bashirah (berilmu) tentang agamanya dan senantiasa dalam beribadah kepada Rabb-nya.”

Dalam riwayat lain, “Ulama adalah orang yang tidak hasad kepada seorang pun yang berada di atasnya dan tidak menghinakan orang yang ada di bawahnya dan tidak mengambil upah sedikit pun dalam menyampaikan ilmu Allah Swt. (al- Khithabul Minbariyyah)

Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, “Mereka (ulama) adalah orang yang tidak mengaku-aku berilmu, tidak bangga dengan ilmunya atas seorang pun, dan tidak serampangan menghukumi orang yang jahil sebagai orang yang menyelisihi as-Sunnah.”

“Mereka adalah orang yang berburuk sangka kepada diri mereka sendiri dan berbaik sangka kepada ulama salaf. Mereka mengakui ulama-ulama pendahulu mereka dan mengakui bahwa mereka tidak akan sampai mencapai derajat mereka atau mendekatinya.

“Mereka berpendapat bahwa kebenaran dan hidayah ada dalam mengikuti apa-apa yang diturunkan Allah Swt.  Mereka adalah orang-orang yang tunduk dan khusyuk dalam merealisasikan perintah-perintah Allah Swt.

Kedudukan Ulama

Para ulama yang lurus  adalah orang-orang pilihan. Allah Swt berfirman,  “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (Fathir: 32).

Wafatnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rahmat dan berkah dari Allah Swt. Lebih-lebih Rasulullah Saw  mengistilahkan ulama dalam sabdanya:”Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Ali bin Abi Thalib pernah mengungkapkan, “Ulama akan selalu dikenang di setiap zaman. Meskipun jasad mereka telah tiada, namun jasa-jasa mereka akan selalu terpatri dalam benak dan sanubari.”

Diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, ia mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari)

Sedemikian tingginya kedudukan dan kemuliaan ulama, makhluk yang ada di langit dan bumi pun turut mendoakan kebaikan agar dinaikkan derajatnya. “…Sesungguhnya seorang alim (ulama) itu dimintakan ampunan oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi hingga ikan yang ada di dasar lautan. Sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang.” (HR Abu Dawud, Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi dan Ibn Hibban).

Namun, waspadalah, akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan)… (HR: Tirmidzi)

Ulama sejatinya merupakan pemuka agama yang mengayomi dan mendidik masyarakat untuk menjadi pribadi yang saleh. Namun, jika ada ulama yang mengajarkan keburukan dan kemudharatan, maka itulah yang disebut Rasulullah Saw sebagai Ulama Su’ atau ulama yang tercela. Karena itu berhati-hatilah.

Imam Ghazali mengutip sabda Rasulullah Saw saat berpesan kepada umatnya, “Ada yang paling aku khawatirkan dari kalian ketimbang Dajjal.” Beliau kemudian ditanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ulama Su.” Hadits serupa dalam riwayat Ahmad, menyebut para pemuka agama yang menyesatkan dengan sebutan aimmah mudhillin.

Adapun ciri-ciri ulama su‘ menurut Imam Ghazali di antaranya: Pertama, ia pergunakan ilmunya sebagai sarana untuk memperbanyak harta. Ilmunya menjadi tumpuan untuk meraih sasaran duniawi; Kedua, ia menggunakan ilmunya untuk berbangga dengan kedudukannya; Ketiga, ia menyombongkan diri dengan besarnya jumlah pengikut; Keempat, ia masih mengira bahwa dirinya mempunyai posisi khusus di sisi Allah karena ciri-ciri, pakaian, dan kepandaian berbicaranya yang seperti ulama, padahal ia begitu tamak kepada dunia lahir dan batin.

Mereka merupakan golongan orang-orang merugi yang digambarkan dalam hadis Nabi Saw, “Siapa yang bertambah ilmu, tapi tidak bertambah hidayah, ia hanya bertambah jauh dari Allah.”

Ketika Ulama Direndahkan

Musuh-musuh Islam, diantaranya orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang munafik, senantiasa berusaha menjelek-jelekkan citra ulama, berusaha meruntuhkan kepercayaannya pada umat. Mereka merendahkan ulama di media sosial dengan panggilan buruk, membakar gambarnya  dengan penuh kebencian, bahkan berupaya melakukan pembunuhan.

Hal ini perlu diwaspadai oleh kaum muslimin, agar jangan sampai ikut-ikutan menjelek-jelekkan alim ulama, apalagi merencanakan pembunuhan.

Di dalam Shahih al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr: “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam). Ibnu Nujaim menyatakan,”Mengolok-olok ilmu dan ulama adalah kufur.”

Asy-Syaikh Shalih Fauzan mengatakan, “Kita wajib memuliakan ulama muslimin karena mereka adalah pewaris para nabi, maka meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan dan warisan yang mereka ambil dari Rasulullah Saw serta meremehkan ilmu yang mereka bawa. Barang siapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih meremehkan kaum muslimin.

Dalam Protokalat Yahudi, pada protokolar nomor 27 disebutkan sebagai berikut: Kami telah berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan martabat tokoh-tokoh agama dari kalangan orang-orang non Yahudi dalam pandangan manusia. Oleh karena itu, kami berhasil merusak agama mereka yang bisa menjadi ganjalan bagi perjalanan kami. Sesungguhnya pengaruh tokoh-tokoh agama terhadap manusia mulai melemah hari demi hari.

Kaum yang mengolok-olok ulama, seperti dikatakan Imam Al-Ghazzali, disebut “istihza’. Maknanya merendahkan, menghinakan, dan menyebutkan aib dan kekurangan, supaya orang lain menertawainya, bisa dengan perkataan, perbuatan dan isyarat (Kitab Ruuhul Ma’aani, Abu alSana Shihab al Din al Sayyid Mahmud al Alusi al Baghdadi: I/158).

Sesungguhnya orang-orang yang mengolok-olok para multazimin (orang yang melaksanakan ajaran agama) yang melaksanakan perintah Allah pada mereka terdapat benih kemunafikan. Mengolok-olok ulama dan orang-orang saleh, mengejek atau melecehkannya, sama artinya dengan menghina dan merendahkan mereka. Ibnu Nujaim menyatakan,”Mengolok-olok ilmu dan ulama adalah kufur.”

Sosok ulama merupakan wali Allah dan menghinakan mereka menandakan sang penghina telah menabuh perang dengan Allah Swt. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah ra:  ”Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman: ‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya.” [HR. Al Bukhari)

Pernah diceritakan, salah seorang bernama Al-Qadhi Az-Zubaidi, ketika dia meninggal dunia lisannya berubah menjadi hitam, hal ini disebabkan beliau semasa hidupnya suka mencibir salah seorang ulama terkemuka di dunia Islam Al-Imam An-Nawawi.

Camkanlah! Mencela ulama termasuk diantara dosa-dosa besar yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Menghina ulama akan menyebabkan rusaknya agama. Berkata Al-Imam Hasan Al-Bashri : “Dunia itu seluruhnya gelap, kecuali majelis-majelisnya para ulama.”

Sesungguhnya daging para ulama itu beracun. Berkata Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah- : “Daging para ulama itu beracun. Siapa yang menciumnya maka ia akan sakit. Siapa yang memakannya maka ia akan mati.”

Dari Ubadah bin Shamit ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Bukan termasuk umatku, siapa yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan mengetahui hak-hak orang alim (ulama).” (H.R Ahmad)

Ulama memang manusia biasa yang tidak ma’shum. Namun, tetaplah menjaga kehormatannya dengan tidak menyebutkan keburukannya, kecuali dengan kebaikan dan berusaha menutupi aibnya. Karena akan menjadi bahan ejekan oleh para pencela. Sadarlah, mereka yang suka mencela ulama,  apalagi berupaya untuk melakukan pembunuhan, maka diakhir hayatnya akan meraih predikat su-ul khatimah (akhir kehidupan yang buruk). Nauzubillah min zalik.  (des)

News Feed