oleh

Ujian Kesabaran Para Pencari Kebenaran

Maslahat Umat | Orang hebat pun tak lepas dari tuduhan yang buruk. Sahabat Ali bin Abi Thalib, masa Khalifah Adil Umar bin Abdil Aziz, selalu dicela dan dicaci maki oleh para khathib di mimbar-mimbar Jum’at.

Sahabat Abdullah bin Abbas, Turjumanul Qur’an, pernah dituduh ngawur atau asal-asalan dalam menafsirkan al-Qur’an. Imam Bukhari saat datang ke Naisabur, semua murid-muridnya meninggalkan majlis pengajiannya karena hasudan ulama setempat yang iri terhadap majlis beliau yang ramai di datangi para murid-murid ilmu agama.

Imam Thabari pernah dituduh Syiah disebabkan mempunyai pendapat fikih yang kebetulan sama seperti pendapat Syiah. Qadhi Iyadh pernah dituduh Yahudi bahkan tuduhan tersebut berujung pada pembunuhannya karena setiap hari Sabtu beliau tidak keluar rumah karena menulis kitab asy Syifa’ bi Huquq al Mushthofa.

Imam Taqiyuddin as Subki berkali-kali difatwa kafir sampai meninggal padahal beliau adalah seorang mujtahid mutlak dan diakui kelimuannya. Imam Abdul Wahhab asy Sya’rani pernah dituduh murtad oleh ulama Mesir gara-gara kitab beliau disisipi kekufuran oleh orang-orang yang hasad kepada beliau.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah ulama yang dibenci oleh masyarakatnya sendiri karena suatu fitnah yang muncul dari orang yang hasad.   (Lihat dalam kitab al Yawaqit wal Jawahir atau al Ajwibah al Mardhiyyah karya Imam asy Sya’rani) “Andai bukan karena sifat hasad, tentu manusia akan (banyak yang) menjadi waliyullah”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah lurus keimanan seorang hamba sehingga lurus hatinya dan tidaklah lurus hatinya sehingga lurus lisannya.” (HR Ahmad dan al-Baihaqi).

Jalan Kebenaran

Hati-hatilah terhadap para kaum pendusta, karena mereka senantiasa mengingkari kebenaran. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Kadang seseorang mengetahui bahwa kebenaran ada pada pihak yang lain, namun dia mengingkari kebenaran itu, disebabkan: Hasad kepadanya, ingin lebih unggul darinya, atau karena hawa nafsunya.” (Majmu’ Fatawa 7/191).

Kita harus berihtiar untuk senantiasa mengikuti kebenaran, menjauhkan diri dari para kaum pendusta kebenaran dalam situasi apapun dan dalam kondisi bagaimanapun.

Berkata Ibnul Mu’taz : “Jauhkan diri dari berteman dengan pendusta, dan jika engkau sangat butuh kepadanya maka jangan engkau mempercayainya, dan jangan engkau tunjukkan bahwa dirimu mendustakannya, sehingga akan berpindah menjadi mencintainya, dan tidak akan lepas dari tabiatnya…” (Zahrul Adab, 1/387)

Berkata Al-Hasan bin Sahl: “Pendusta adalah perampok; karena perampok mencuri hartamu, sedangkan pendusta mencuri akalmu; dan jangan engkau merasa aman dari orang yang berdusta untukmu, disebabkan dia akan berdusta atas namamu, dan orang yang menggunjing (mengghibah) orang lain di sisimu, maka jangan engkau merasa aman karena dia akan meng-ghibah dirimu di sisi orang lain.” (Zahrul Adab, 1/386)

Kebenaran akan selalu mencari jalan untuk mengungkapkan dirinya. Keadilan, kebenaran, kebebasan. Itulah pangkal dari kebahagiaan. Dalam setiap kebenaran, selalu ada telinga yang mendengar. Bukan kebenaran yang membuat manusia menjadi besar, tetapi manusia yang membuat kebenaran menjadi besar. Kebaikan akan mengantarkan seseorang kepada kebenaran dan kebenaran akan mengantarkan seseorang kepada puncak pengetahuan, lalu menjadi rendah hati…

Ada yang menyudutkan kita seolah mereka selalu benar, padahal kebenaran tidak pernah absolut. Kita lebih cenderung untuk mencapai kebenaran melalui kesalahan. Musuh terbesar manusia adalah kebenaran yang disembunyikan. Pembalasan dendam merubah kebenaran kecil menuju kesalahan besar.

Mereka yang marah ketika mendengar kebenaran adalah mereka yang hidup dalam kebohongan. Berjalanlah sesuai dengan kata hati kita selagi masih di jalan yang benar. Satu kebohongan sudah cukup meragukan berjuta kebenaran.

Ketulusan hati adalah sumber kebenaran itu sendiri. Biasakanlah yang benar bukan benarkan yang biasa. Kebenaran tidak perlu dibela, karena kebenaran akan membela kebenaran. Mudah untuk menemukan kebenaran, sulit untuk menghadapinya, dan lebih sulit untuk mengikutinya.

Saudaraku, tak ada kebenaran yang selamanya terlihat benar. Tergantung tempat dan situasi saja. Dahulukan mencari kebenaran pada diri sendiri, sebelum menyalahkan orang lain. Terkadang untuk membuktikan suatu kebenaran kita harus berjalan sendirian. Menerima kebenaran kadang lebih sulit dari mengucapkan kebenaran itu sendiri. Berdirilah menyatakan kebenaran walaupun terpaksa berdiri bersendirian.

Tidak perlu mempertanyakan suatu kebenaran, lebih baik berikan kesempatan untuk sebuah pembuktian. Saudara terbaik adalah orang yang berani mengkritik kita untuk mencapai kebenaran, bukan orang yang selalu membenarkan tindakan kita. Kesalahan terbesar yang manusia lakukan adalah tidak bisa melihat kebenaran dari sudut pandang orang lain.

Jangan terlalu cepat mempercayai apa yang kita dengar, karena kebohongan selalu menyebar lebih cepat dari kebenaran. Hanya karena kesalahan lebih mudah dilihat daripada kebenaran, bukan berarti apa yang kita lihat salah itu pasti salah…

Jangan merasa kesepian berada di atas jalan kebenaran hanya karena sedikitnya orang yang berada di sana. Ketika iman menjadi kenyataan, maka kejujuran menjadi dasar kebenaran. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

Tidak ada yang selalu benar, sekalipun kebenaran selalu diusahakan. Menelan mentah-mentah pembenaran dari satu pihak. Hanya akan membuat kita tidak menemukan kebenaran atas persaoalan yang ada. Kebenaran tidak memerlukan alasan pembenaran dari manusia mana pun. Ia berdiri sendiri. Gagah. Meski ditutupi, ada saatnya ia akan terlihat kembali…

Lihatlah kesalahan dengan benar, maka kita akan menemukan kebenaran. Lihatlah kebenaran dengan salah, maka akan kita temukan kesalahan. Mau dibungkam dengan cara apa pun, mau disudutkan dengan isu apa pun, kebenaran tetaplah kebenaran. Ia akan hadir dengan caranya sendiri.

Kalau yang mau kita cari adalah sebuah kebenaran, jangan pernah menganggap diri kita benar. Sebab pembenaran akan menutupi kebenaran. Terkadang semua orang suka kebenaran akan orang lain, tapi tidak semua orang suka menghadapi kebenaran tentang dirinya sendiri…

Saudaraku, sebanyak apapun kebohongan, tidak akan mampu menutupi kebenaran, kebohongan hanya menunda kebenaran namun tidak menghilangkannya. Seringkali kita merasa benar dalam sekali pandang, padahal kebenaran yang seperti itu selalu dibatasi oleh sudut pandang maupun kemampuan mata kita sendiri.

Semua kebenaran di dunia ini harus melewati tiga langkah. Pertama ditertawakan, kedua ditentang dengan kasar, dan ketiga diterima tanpa pembuktian dan alasan. Umumnya orang tidak suka mendengar kebenaran karena kebenaran itu seringkali menyakitkan. Kesalahan tidak akan pernah menjadi kebenaran walau berkali-kali dibicarakan, dan kebenaran tidak akan menjadi kesalahan walau tidak pernah diumumkan.

Semua yang kita dengar adalah opini, bukan fakta. Semua yang kita lihat adalah perspektif, bukan kebenaran. Setiap kebenaran memiliki dua sisi, penting untuk melihat keduanya, sebelum kita memutuskan untuk menerima salah satunya. Kedewasaan seseorang bukan hanya dilihat dari caranya berpikir tentang kebenaran, tapi juga dari caranya bertanggung jawab atas kesalahan.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita,  sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menegakkan kebenaran dan keadilan, menjauhkan diri dari para kaum pendusta kebenaran untuk meraih ridha-Nya…

Kedzaliman Pasti Musnah

Ketahuilah, orang zalim melakukan tipu dayanya di malam hari. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan, (Kewajiban kami hanyalah) taat. Tetapi, apabila mereka telah pergi dari sisimu (Muhammad), sebagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah mencatat siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah yang menjadi pelindung.” (QS. An-Nisa’ [4]: Ayat 81)

“Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah karena Allah beserta mereka ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Dan Allah Maha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’ [4]: Ayat 108).

Keadilan itu adalah pilar tegaknya sebuah negara. Andai keadilan itu tak dirasakan dan tak diterapkan, maka bisa dipastikan negara itu tinggal menunggu kehancurannya.

Lawan dari adil adalah dzalim, dan Allah menegaskan, bahwa kedzaliman dan pelakunya akan musnah. Meski kini kedzaliman itu dipertontonkan secara nyata dan terang-terangan

Kita naif kalau kita mengira perjuangan dakwah itu tak ada halangannya. Bahkan Nabi, syuhada, shiddiqin, saalihin, sudah memberi contoh pada kita, jalan lurus itu pasti penuh luka dan duka

Melisankan kebenaran yang datang dari Allah itu pasti pahit. Jangankan cucunya, kakeknya yang sebaik-baik manusia saja terus menerus ingin dihinakan oleh manusia. Allah saja diolok-olok

Tapi begitulah jalannya skenario Allah. Ada yang Allah pilih untuk jadi sebab kemenangan bagi kaum beriman. Ada yang Allah pilih untuk jadi sebab kejatuhan bagi kedzaliman dan pengikutnya

Menumpahkan darah, menyiksa, memfitnah, merekayasa, menangkap dan memenjarakan. Itulah hasil rapat di Darun Nadwah, mereka pikir mereka bisa menang dengan kedzaliman

Di Sirah Nabawiyah, itu adalah satu bab sebelum pertolongan Allah hijrah ke Madinah. Ketika kedzaliman sudah tak lagi malu-malu, lalu terburu-buru telanjang agar bisa nyata dilihat semua orang

Ketika ulama dipakaikan baju tahanan, sementara para penjahat dibiarkan berseragam. Saat itulah keadilan langsung mendatangi Allah untuk meminta janji-Nya, untuk ditegakkan

Tiap-tiap orang hanya melaksanakan tugasnya. Dan tugas kita adalah menjaga tinta pena tetap basah, dan selalu berdzikir dan berdoa memohon agar darah kita tetaplah merah

Panggung peradaban sudah digelar, tirai pertunjukan sudah diangkat, jangan mundur dari kebenaran. Agar anak-anak kita esok masih punya contoh, tentang para lelaki yang tak terbeli.

Doa Mohon Kemenangan

Wahai Tuhan langit dan segala yang ada di bawahnya, Tuhan tujuh lapis bumi dan segala yang ada di atasnya, Tuhan setan-setan dan segala yang menyesatkan, serta Tuhan angin dan segala yang diterbangkannya. Sesungguhnya, kami mohon kepada-Mu kebaikan negeri ini serta kebaikan penduduk dan segala yang ada di dalamnya. Kami berlindung kepada-Mu dan kejahatannya, kejahatan penduduk, dan kejahatan yang ada di dalamnya.”

Ya Allah, Ya Rabb kami, muliakan lah Islam dan kaum muslimin , hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, hancurkanlah musih-Mu, musuh agama, himpunkanlah kami kaum muslimin diatas kebenaran wahai Rabb semesta alam,

Ya Allah, Ya Rabb kami, limpahkan lah atas kami kesabaran, kokohkanlah pijakan kami dan menangkanlah kami atas kaum kafirin

Ya Allah, Ya Rabb kami, satukan lah hati hati antar kami sebagaimana Engkau satukan kaum muhajirin dan anshor.

Ya Allah, Ya Rabb kami, menangkanlah jihad di negri kami dan di segala tempat

Ya Allah, Ya Rabb kami, siapapun yg bermaksud jahat kpd Islam dan kaum muslimin, maka kembalikan akibat kejahatannya itu kepadanya

Ya Allah, Ya Rabb kami, selamatkanlah, lindungilah saudara saudara kami yg sedang memperjuangkan keadilan, kebenaran dan membela Islam yg telah ditangkap oleh orang orang dzalim

Ya Allah, Ya Rabb kami, lindungi kami dari makar musuh musuh Islam dan dari setiap keburukan

Ya Allah, Ya Rabb kami, kabulkanlah doa kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui , dan ampunilah kami , sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (dbs)

News Feed