oleh

Toleransi Salah Kaprah

Oleh: Aniza Rizky, S.Gz | Alumni FKM UI

Maslahat Umat | Akhir-akhir ini kita tampak disibukkan dengan arus opini tentang toleransi, khususnya toleransi beragama. Seolah-olah negeri ini krisis toleransi. Belum lagi, umat Muslim di Indonesia digegerkan dengan video Menteri Agama Yaqut di kanal YouTube Kementerian Agama berisi ucapan selamat Natal pada 23 Desember 2020 silam (25/12/2020 suara.com).

Hal ini menunjukkan bahwa pengertian dan penerapan toleransi beragama masih simpang siur. Masih banyak kaum Muslim yang menganggap sepele terkait makna toleransi ini. Misalnya dalam hal mengucapkan selamat hari raya kepada non-Muslim, memakai atribut keagamaan, mengikuti pesta hari raya, membantu dalam pelaksanaan hari raya agama lain dan mengawali pidato dengan kalimat salam, semua agama dianggap hal yang biasa. Padahal sebagai seorang Muslim, perbuatan ini diharamkan dalam Islam.

Fenomena kesimpangsiuran makna toleransi semakin diperparah dengan maraknya tudingan intoleransi yang sering ditujukan kepada Islam dan umatnya. Hal ini menunjukkan bahwa kita masih terjangkit toleransi salah kaprah, toleransi yang tidak pada tempatnya. Bagaimanakah makna toleransi yang sebenarnya?

Toleransi secara bahasa berasal dari kata tolerance. Oxford Dictionary mendefinisikan toleransi sebagai kemampuan atau kemauan untuk mentolerir sesuatu, khususnya adanya pendapat atau perilaku yang belum tentu disetujui oleh seseorang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), toleransi diartikan sebagai sifat atau sikap toleran. Adapun toleran diartikan sebagai bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Apabila penerapan toleransi konsisten dengan definisi KBBI, semestinya tidak akan ada tuduhan intoleran terhadap siapa pun termasuk kepada umat Islam yang berkeinginan menerapkan ajaran agamanya dalam seluruh aspek kehidupan. Adanya tuduhan intoleran semacam ini justru menunjukkan sikap anti toleransi.

Salah kaprah penerapan makna toleransi saat ini diakibatkan oleh paham pluralisme (paham yang mengajarkan bahwa semua agama sama) yang lahir dari sistem kehidupan sekuler. Kebenaran setiap agama adalah relatif. Setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim hanya agamanya saja yang benar, sedangkan agama yang lain salah. Adapun sekularisme merupakan paham yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga masalah pelaksanaan agama hanya pada tataran ibadah ritual saja, sedangkan pada tataran lain seperti politik, ekonomi dan pergaulan dianggap tidak perlu “bawa-bawa agama”.

Makna toleransi yang diributkan saat ini merupakan toleransi ala Barat yang menganggap semua agama sama saja (pluralisme), sehingga perwujudannya bisa sampai salah kaprah seperti mengikuti perayaan agama lain. Tanpa disadari, atas nama toleransi, umat Islam banyak yang terjebak pada racun akidah dengan mencampuradukkan kebatilan dan kebenaran.

Islam mengakui adanya pluralitas, namun tidak mengakui pluralisme. Keragaman agama dalam pandangan Islam merupakan sebuah keniscayaan. Namun, mengucapkan selamat hari raya agama lain, misalnya, adalah bentuk pluralisme diharamkan Islam. Mencampuradukkan ajaran Islam dengan agama lain dengan dalih toleransi adalah kemungkaran. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah ali-Imran ayat 19 yang artinya, “Sungguh agama yang diakui di sisi Allah hanyalah Islam.”

Allah SWT melarang dengan tegas upaya mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran lainnya. Hal ini, misalnya, tertera dalam Al-Qur’an Surah al-Kafirun ayat 1-6. Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya menjelaskan asbâb an-nuzûl surat tersebut.

Diriwayatkan beberapa orang kafir Quraisy, yaitu Walid bin Mughirah, Al-‘Ash bin Wail, Aswad Ibnul Muthallib dan Umayyah bin Khalaf, menemui Rasulullah SAW. Mereka menawarkan toleransi kepada beliau, “Wahai Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (kaum Muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.

Namun berkat tuntunan dari Allah SWT yang tahu betul bagaimana sifat dan karakter orang kafir, Allah menegaskan bahwa mereka tidak akan mau menyembah tuhan umat Islam dan umat Islam pun tidak akan pernah menyembah tuhan mereka.  Kemudian turunlah Surah al-Kafirun sebagai penolakan terhadap tawaran toleransi versi kafir Quraisy tersebut.

Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi toleransi. Toleransi tersebut diwujudkan dengan menjunjung tinggi keadilan bagi siapa saja, termasuk non-Muslim. Islam telah memiliki seperangkat aturan yang sempurna terkait hubungan antara kaum Muslim dan non-Muslim, yang apabila diterapkan maka terwujudlah keadilan bagi seluruh umat.

Toleransi beragama tentu jelas berbeda dengan sinkretisme agama. Sinkretisme agama sebagai salah satu wujud dari paham pluralisme merupakan aktivitas mencampuradukkan keyakinan, paham atau aliran agama. Sebagai seorang Muslim, aktivitas ini jelas diharamkan dalam Islam. Contohnya melakukan perayaan hari raya agama lain, memakai simbol-simbol agama lain, mengucapkan salam milik agama lain dan sebagainya. Seluruh aktivitas tersebut bukanlah wujud dari toleransi. Inilah toleransi yang salah kaprah dan merupakan wujud pluralisme yang diharamkan dalam Islam. Rasulullah SAW melarang kaum Muslimin untuk menyerupai kaum kafir. Beliau bersabda yang artinya, Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Islam telah mengajarkan dan memperagakan toleransi sejak masa Rasulullah SAW  dan memberikan tuntunan bagaimana menghargai dan menghormati pemeluk agama lain. Tidak memaksa non-Muslim untuk masuk Islam. Rasul SAW pernah menjenguk orang Yahudi yang sedang sakit, melakukan transaksi jual-beli dengan non-Muslim, menghargai tetangga non-Muslim dan sebagainya. Salah satu penerapan toleransi beragama dalam bernegara pun telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam Piagam Madinah ditetapkan pada 1 Hijriyah atau 622 M. Saat itu belum ada satu negara pun yang memiliki peraturan tentang cara mengatur hubungan antar umat beragama. Piagam Madinah, dalam beberapa pasalnya, telah cukup rinci mengatur hubungan tersebut.

Islam adalah agama amar makruf nahi mungkar dengan cara memberikan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat akan kebenaran Islam, tanpa ada unsur paksaan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 256 yang artinya, Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat…”

Islam mengajarkan tidak ada paksaan dalam masalah akidah dan keyakinan, namun orang yang sudah beriman wajib membuktikan keimanannya dalam bentuk keterikatan terhadap hukum Islam. Dalam Islam, toleransi itu cukup dengan membiarkan mereka yang berakidah lain untuk beribadah, tanpa diganggu dan dihalang-halangi.

Kita pun sebagai Muslim tidak boleh ikut merayakan bersama mereka. Tolok ukur seorang Muslim dalam memahami toleransi haruslah bersandarkan pada aturan Islam, bukan penerimaan masyarakat kebanyakan. Karena pada akhirnya, sebagai Muslim, tujuan hidup kita adalah untuk mencari ridha Allah, bukan penerimaan manusia. []

 

 

News Feed