oleh

The Social Dilemma: Bagaimana Sikap Seorang Muslim?

Oleh: Fatimah Azzahrah Hanifah |  Mahasiswi Universitas Indonesia

Maslahat Umat | Pembahasan mengenai dampak media sosial memang tidak pernah habis. Di tengah kondisi yang memaksa masyarakat harus di rumah, Netflix mengeluarkan sebuah film dokumenter yang berjudul ‘The Social Dilemma’. Film ini membahas mengenai permasalahan dari media sosial yang kita gunakan selama ini. Menghadirkan narasumber yang pernah bekerja di berbagai platform media social terkenal seperti Facebook, Instagram, Gmail, Pinterest, Twitter dan lain-lain. Secara garis besar film ini menjelaskan bagaimana cara media social bekerja untuk mempengaruhi tindakan manusia sehingga kita akan berlama-lama di dalam media tersebut menikmati apa yang tersajikan di sana.

Dalam film tersebut menggambarkan apa yang kita lihat selama ini di media sosial  merupakan hal yang sudah terprogram. Hal ini merupakan kumpulan data kita, mulai dari apa yang kita suka, apa yang kita cari, apa yang kita lihat, hingga siapa yang terhubung dengan kita. Salah seorang narasumber mengatakan, “if you’re not paying for the product, then you’re the product”.

Memang mengerikan ketika kita membahas efek media sosial. Terlebih lagi ketika dibenturkan dengan keidealismean sebagai seorang Muslim yang harus selalu menyaring konten yang dimasukkan ke dalam diri kita. Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang Muslim? Apakah akhirnya kita harus menerima bagaimana media sosial akan mempengaruhi kita? Ataukah kita harus mulai untuk meninggalkan media sosial?

Saat ini, intenet khususnya media sosial tidak akan bisa terpisah dari kehidupan sehari-hari. Dibuktikan di tengah kondisi pandemi seperti saat ini. Akhirnya kita mau tidak mau harus berkutat dengan internet, baik itu untuk bekerja, belajar, mencari informasi, atau sekadar saling berkomunikasi.

Maka, posisikanlah diri bukan sebagai produk, melainkan sebagai pengamat. Bagaimana caranya?

Pertama, pahami media sosial adalah alat yang pengaruhnya tergantung siapa yang menggerakkan. Karena media sosial adalah alat atau benda, maka hukum asal media sosial adalah netral (mubah). Namun, ini tidak menggugurkan tanggung jawab atas media sosial kita. Perlu digarisbawahi, pengaruh media sosial itu tergantung siapa yang menggerakkan. Maka, kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT bagaimana kita menggunakan media sosial. Media ini akan menghantarkan kepada keharaman ketika kita menggunakannya untuk melanggar syariat Islam atau melalaikan diri dari kewajiban.

Kedua,  media sosial kita ada di bawah kendali kita. Ketika kita sudah mengetahui bagaimana media sosial bekerja, yaitu dengan menyajikan konten berdasarkan apa yang kita lihat, suka, cari, hingga siapa yang terhubung dengan kita. Maka kita bisa mem-filter konten-konten tersebut dengan mem-follow akun yang bermanfaat. Bermanfaat di sini tentu bukan hanya sekadar yang kita suka, namun harus termasuk apa yang diridhai Allah SWT.

Selanjutnya, sebagai seorang Muslim tentu kita tidak ingin menjadi penyumbang keburukan bagi yang lain. Maka, gunakanlah media sosial kita untuk hal yang bermanfaat dan dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Seperti, manfaatkan untuk media belajar, mengkaji Islam, menshare hal-hal positif, berdakwah dan sebagainya.

Ketiga, bentengi diri dengan ngaji. Supaya kita tidak mudah terpengaruh dengan segala pemikiran buruk yang melanggar syariat Islam seperti feminism, terlebih dahulu kita membentengi diri dengan mengkaji Islam secara kaffah tidak parsial saja.

Inilah cara bagaimana seorang Muslim harus bersikap mengenai media sosial. Media sosial mungkin sudah menjadi dilema panjang di tengah masyarakat. Namun, ini tidaklah seharusnya membuat seorang Muslim dilema. Muslim harus memiliki pondasi kuat yang menjaganya agar tidak mudah terarus hal buruk.[]

 

 

News Feed