oleh

Terpilihnya Joe Biden Bawa Angin Segar Dunia Islam? 

Oleh: Herna Yuliana | Aktivis Dakwah di Kota Depok

Maslahat Umat | Dengan terpilihnya Joe Biden menjadi presiden AS ke- 47, tentu menarik perhatian dunia, terutama di kalangan kaum Muslimin. Pasalnya, dalam kampanyenya, dia berjanji akan memperlakukan Islam dengan baik dan sungguh-sungguh sebagaimana mestinya seperti keyakinan agama besar lainnya.  Joe Biden pun mengutip hadits Nabi Muhamad SAW  dan membuat umat Muslim di AS dan dunia bersimpati dan terharu atas pernyataannya.

Terkait isu Timur Tengah, dia berjanji akan mengembalikan dukungan ekonomi dan kemanusiaan kepada Palestina,  membuka kembali misi organisasi pembebasan Palestina di Washington dan membuka konsulat AS untuk Palestina di Yarusalem.

Namun, Joe Biden sendiri mendukung pendudukan Israel atas Palestina. Bahkan diakui sebagai teman baik Israel. Sedangkan terkait dengan negara-negara Arab, Joe Biden akan menilai ulang hubungan AS dengan Arab Saudi, mengingat Putra Mahkota Mohammed bin Salman dikenal lantang membasmi perbedaan pendapat dengan memenjarakan sejumlah aktivis.

Joe Biden juga berjanji akan mengakhiri dukungan AS di Yaman yang telah merenggut setidaknya puluhan ribu nyawa dan memicu wabah penyakit hingga kelaparan. Joe Biden ketika menjadi wapres bersama Presiden Barack Obama kala itu menjualan miliaran dolar senjata untuk Arab Saudi untuk melakukan pemboman di Yaman. Joe Biden juga sangat pro terhadap kaum LGBT, yang terlarang dalam Islam.

Joe Biden adalah presiden negara imperialis. Artinya siapa pun presiden AS, tentu saja tidak akan  mengubah karakter AS sebagai negara pengemban ideologi kapitalis yang memiliki  metode baku imperialisme.

Semestinya umat sadar jangan terpesona dengan tampilan lembut, cerdas, beradab. Berharap pada Joe Biden hanya akan membuat kaum Muslim pindah dari mulut ular ke mulut buaya. Seperti presiden AS sebelumnya,  Joe Biden akan berusaha melanggengkan imperialisme AS atas dunia, termasuk di negeri ini. Bagi AS Indonesia adalah permata berharga, kekayaan alam Indonesia untuk dieksploitasi dan dikeruk.

Pilpres AS menunjukkan demokrasi tidak akan membawa harapan apapun bagi Islam. AS akan tetap melakukan penjajahan dunia Islam,  dengan soft power ala Joe Biden. Untuk itu agar kaum Muslim  bisa bangkit harus menjadikan ajaran Islam sebagai satu-satunya kepemimpinan berpikir, melepaskan keterikatan, kecenderungan dan perasaan terhadap berbagai ajaran di luar Islam baik yang berasal dari kapitalis sekuler maupun sosialis komunis.

AS sebagai pengemban kapitalisme, tentunya memiliki perhatian dan dan sasaran penting dalam rencana strategisnya. Mengutip dari Ustadzah Lathifa Musa bahwa AS akan menjadikan suatu negara sebagai ancaman, dilihat dari dua hal yaitu musuh atau kebencian (hostility) dan  kemampuan (capability). Negeri-negeri kaum Muslimin merupakan salah satu target terbesarnya karena memiliki potensi dari dua hal tersebut.

Negara Barat sangat menyadari betul bahwa ideologi atau mabda Islam merupakan ancaman yang berbahaya dan harus diminimalisir keberadaannya. Apabila kita mengamati lebih jauh ideologi manapun di dunia ini memiliki metode (thariqah/jalan) untuk meluaskan pengaruhnya ke seluruh penjuru dunia.

Metode perluasan kapitalisme sebagai sebuah ideologi yang saat ini masih mendominasi dunia, telah berkembang sesuai zaman. Meski demikian, penjajahan tetap menjadi hal mendasar dalam kapitalisme. Baik untuk menyebarluaskan ideologi ataupun mengeksploitasi negara-negara lain demi kepentingan para kapitalis. Amerika Serikat memaksakan dominasi politik, militer dan ekonomi di dunia Islam dalam rangka mengeksploitasi manfaat-manfaat materialnya. Di samping itu AS juga berusaha menyebarkan kapitalisme pada banyak bidang, baik ekonomi, politik, pendidikan, budaya dan lain-lain.

Khithah politik (strategi politik) didefinisikan sebagai politik  umum yang dirancang untuk mewujudkan salah satu tujuan yang dituntut oleh penyebaran ideologi tertentu. Sedangkan uslub politik (cara-cara politik) adalah politik khusus mengenai suatu bagian langkah yang mendukung perwujudan atau pengokohan khithah politik. Strategi politik memungkinkan senantiasa berubah sesuai perubahan dan perkembangan konstelasi politik internasional.

Hal yang penting dipahami adalah ketika upaya menancapkan hegemoninya belum berhasil, maka negara-negara Barat tidak akan mengubah (fikrah dan thariqah) ideologinya, namun hanya akan mengubah strategi (khithah) dan cara-cara (uslub) politiknya untuk merancang strategi dan cara-cara politik baru.

Di sinilah kaum Muslimin harus mengetahui dan memahami rancangan strategi politik dan cara-cara negara-negara Barat, khususnya AS dalam menancapkan hegemoninya di negeri-negeri kaum Muslimin. Mereka tahu benar, kaum Muslimin yang sejatinya memiliki mabda tersendiri yaitu Islam akan memengaruhi eksistensi mabda kapitalisme di dunia dan juga merupakan sebuah ancaman bagi mereka.

Oleh karena itu jika kita mengamati kembali, siapapun yang menjadi pemimpin AS sebagai pengemban mabda kapitalisme, akan tetap memiliki pemikiran dan metode yang sama dalam menjalankan misi-misi mereka. Namun yang berbeda hanyalah strategi dan uslubnya (cara-cara politiknya). Kita bisa melihat kebijakan yang akan ditempuh oleh Joe Biden khususnya bagi dunia Islam yakni:  Pertama, tetap memberikan sanksi kepada negara-negara Muslim yang tidak mau tunduk kepada AS. Salah satunya dengan cara jebakan utang, seperti Iran  dan Yaman.

Kedua, perangi Islam dan kaum Muslimin atas nama perang melawan radikalisme dan terorisme, seperti Indonesia. Ketiga, eksploitasi kekayaan alam negeri-negeri Islam melalu investasi. Keempat, dukung rezim boneka dunia Islam melalui pujian atau pun dana. Kelima, politik adu domba dan stick and carrot.

Itulah salah satu kebijakan yang akan ditempuh oleh Joe Biden sebagai Presiden terpilih AS.  Dari paparan di atas, terpilihnya Joe Biden akan membawa angin segar bagi dunia Muslim, benarkah? []

News Feed