oleh

Take Me Out University: Blind Date Jadi Tren

Oleh: Nora Trisna Tumewa, Mahasiswa Universitas Gunadarma

Maslahat Umat | Blind date atau kencan buta mungkin jadi hal yang tabu bagi kita, namun di beberapa negara hal tersebut sudah menjadi budaya. Pernah tidak sih ketika kamu menyukai seseorang tetapi tidak tahu apakah orang tersebut jomblo juga atau tidak? Seandainya jomblo juga pun, kamu juga tidak tahu apakah dia tertarik untuk pacaran atau tidak. Nah, jika ikut blind date, bisa dipastikan kalau kamu akan bertemu dengan orang yang sama-sama jomblo dan sama-sama ingin punya pacar juga.

Tidak perlu bertanya-tanya lagi. Begitulah menurut pendapat sebagian orang mengenai sebuah kegiatan blind date. Biasanya blind date akan diatur oleh orang terdekat, seperti, teman atau saudara bahkan orang tua. Kriteria seseorang yang akan dikenalkan pun biasanya juga telah dipilih sesuai dengan kriteria yang diharapkan.  Jadi tinggal cocok atau tidak untuk menentukan lanjut jalan atau atau tidaknya sebuah hubungan.

Selain itu, ada juga yang namanya meeting atau blind date secara kelompok. Kegiatan ini yang kini tengah menjadi tren kembali di berbagai kalangan. Belakangan ini bahkan beberapa universitas pun mengadakan kegiatan semacam ini. Hal ini bertujuan untuk memfasilitasi bagi siapa saja yang tidak berani untuk ketemuan berdua saja.

Selanjutnya kegiatan ini tak hanya ditujukan untuk yang ingin melangkah ke hubungan serius atau mencari jodoh saja untuk menikah. Selain itu, juga dapat dilakukan untuk sekadar mencari teman ngobrol ataupun sosial eksperimen. Tujuannya untuk kenalan pertama kali dengan orang yang benar-benar tidak dikenal sebelumnya, tanpa mengobrol di chat dulu sebelumnya.

Dari fenomena di atas dapat terlihat bahwa kegiatan tersebut merupakan eksploitasi terhadap gharizah (naluri) manusia yang merupakan ciri khas dari ideologi kapitalisme sekuler dengan menentukan kebahagiaan berdasarkan hanya pada materi. Naluri tersebut timbul atas 2 faktor eksternal yaitu fakta/realitas dan pemikiran yang kemudian apabila kedua faktor tersebut terpenuhi akan menghasilkan sebuah pemahaman yang nantinya akan menjadi dasar serta landasan kita di dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk pemenuhannya haruslah berdasarkan kaidah yang diimani dan diyakininya.  Pemenuhan tersebut harus dilaksanakan dengan sempurna berdasarkan akidah Islam. Jika pemenuhan tersebut tidak dilakukan dengan cara yang benar maka pola sikap yang akan dihasilkan merupakan pola sikap yang lain, sehingga tidak akan mampu untuk mengenali hukum dan mengetahui halal dan haram suatu perbuatan.

Dengan membudayanya blind date di lingkungan masyarakat, membuktikan kini semakin tergerusnya jati diri seorang Muslim akibat penerapan sistem sekuler di negeri-negeri Muslim sehingga tidak lagi mengenali hukum-hukum syari’at agamanya sendiri.

Umat Muslim kini tanpa sadar terarus oleh budaya Barat yang tidak lagi memiliki batasan-batasan dalam berinteraksi maupun berkehidupan. Dalam Islam telah diatur bagaimana interaksi antara lawan jenis yaitu semata-mata hanya untuk dalam rangka tolong-menolong dalam ketaatan kepada Allah, bukan semata-mata hanya untuk bergaul, melakukan sosial eksperimen yang tidak dibingkai ketaatan untuk mewujudkan sebuah ketaatan.

Islam juga sesungguhnya telah mengatur dalam pemenuhan naluri kasih sayang dengan mengarahkan agar dalam pemenuhannya tidak menzalimi diri sendiri dan orang lain. Islam sendiri mengarahkan memenuhinya dengan cara yang elegan dan mulia agar mampu menenangkan jiwa manusia. Islam pun mengajarkan untuk mencintai dengan melalui pernikahan dan melarang tegas memenuhinya dengan cara yang tidak sesuai dengan syari’at seperti berkumpul melakukan pertemuan antar lawan jenis tanpa adanya mahram dan melakukan perbuatan zina.

Pernikahan dalam Islam termasuk ke dalam ibadah maka sudah barang tentu sebuah ibadah tersebut tidaklah dinodai dengan perbuatan maksiat. Sebuah pernikahan haruslah diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah. Maka, jalan yang dilalui untuk itu ialah dengan jalan yang memang tidak dilarang oleh syariat.

Oleh karena itu, pentingnya sebuah negara dalam mewujudkan sebuah kehidupan sosial dalam interaksi antar lawan jenis untuk menuju ke sebuah pernikahan dengan menerapkan syari’at sebagai dasar dalam pemerintahannya sehingga dapat mengatur pola kehidupan masyarakatnya.

 

News Feed