oleh

Syekh Ali Jaber Berdakwah Memuliakan Tuna Netra

MASLAHAT UMAT  | Tahukah, kenapa Allah menegur Rasulullah Saw hingga turun ayat yang menjelaskan tentang wajah bermuka masam (QS Abasa). Ketika itu beliau sedang mendakwahi pemimpin Quraisy, sementara orang buta yang hendak meminta petunjuk menjadi terabaikan. Syekh Ali Jaber merasa tersentil untuk tidak mengabaikan tunanetra dan memfokuskan dakwahnya memuliakan orang buta.

Tak banyak mubaligh yang konsen berdakwah kepada mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan. Kedekatannya Syekh Ali Jaber dengan tunantera bukan seketika dan momentum saja. Melainkan sudah lama terjadi. Syekh Ali punya kisah dan pengalama sendiri tentang kedekatannya dengan penyandang tunanetra.

Di kediamannya, Syekh Ali Jaber berkisah. Inilah kisahnya. Dahulu, ketika duduk dikelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Madinah, Syekh Ali pernah bertemu dengan seorang tunanetra di pinggir jalan saat pulang sekolah. Lelaki kecil itu bernama Thariq As-Syarif.  Di sekolah umum, ia belajar agama dan tahfizh Qura’n, dan dialah satu-satunya tunanetra di sekolah itu.

“Saya melihat pria buta itu seperti kebingungan. Lalu, saya hampiri dia, seraya bertanya, kamu hendak kemana? Orang buta itu menjawab, bahwa ia sedang menunggu jemputan ayahnya, tapi sudah sekian jam tak kunjung datang. Saat itu belum ada handphone,” kisah Syekh Ali.

Setelah ditanya lebih jauh, rumah Thariq sebetulnya dekat, tak jauh dari sekolahnya.  Merasa iba, Syekh Ali menawarkan diri untuk menghantarkan hingga kerumahnya, tapi dengan catatan, pria buta itu yang menjadi penunjuk jalan.

Mendengar pertanyaan Syekh Ali, pria buta itu tersenyum. Katanya, kenapa dirinya yang buta yang harus menjadi penujuk jalan. Seharusnya orang yang normal penglihatannya yang menjadi penunuk jalan. Lalu dihantarlah pria buta itu oleh Syekh Ali. Yang membuat Syekh terheran-heran adalah pria buta itu betul-betul hafal setiap langkah jalan menuju pulang.

“Dia tahu betul toko di sebelah kanannya, hingga sampailah menuju apartemen, tempat tinggalnya.  Bahkan dia tahu posisi lift dan tangga aparatemen. Begitu sampai, kami berdua disambut oleh ibunya dan saudara-saudaranya. Ternyata,  Tharif adalah anak kelima dari enam bersaudara. Diantara saudara-saudaranya, dua orang saudaranya juga tunanetra. Sejak itulah saya tersentuh.”

Sejak menghantar pria buta itu ke rumahnya, hubungan persahabatan Syekh Ali dengan Thariq As Syarif semakin akrab. Sejak SMP, SMA, hingga tamat kuliah, Syekh Ali kerap mendampingi Tharif saat mengikuti ujian sekolah. Saat itu Syekh Ali menjadi orang kepercayaan yang membacakan pertanyaan soal-soal ujian. Mengingat belum disediakan ujian dengan bahasa braile.

Setelah dijawab dengan lisan, kemudian Syekh Ali lah yang menuliskan jawabannya di atas kertas. Selesai mengisi jawaban, Thariq hanya melakukan sidik jari. Itu terjadi sekitar tahun 1410 H  (1988). “Kini, Thariq sudah menikah dan telah dikaruniai empat orang anak. Itulah cerita awal, saya punya kedekatan dan histori dengan orang buta.”

Selain Thariq As Syarif, Syekh Ali Jaber juga bertemu oleh seorang tunanetra penghafal Al Qur’an bernama Ahmad.  Melaui Ahmad, Syekh Ali kemudian dipertemukan oleh seorang anak berusia 12 tahun bernama Jihad. Jihad juga seorang tuna netra penghafal al Qur’an. Meski punya keterbatasan penglihatan, Jihad tahu angka, halaman kanan kiri, serta asbabul nuzul, serta tafsir Al Qur’an. Dua tahun yang lalu, Jihad mengikuti Musabaqah Al Qur’an tingkat internasional, dan ia meraih predikat Juara I.

Selain hafal Al Quran, Jihad memenangkan Juara I Lomba Menghafal Hadits. Bahkan ia hafal  8.000 hadits. Ternyata keistimewaan dan kekuatan seorang Jihad dalam menghafal adalah melalui suara. Qur’an atau hadits itu dibacakan oleh ibunya, atau kadang ayahnya, lalu Jihad menyimak dan menghafalnya. Beberapa waktu lalu, Jihad sempat diundang ke Indonesia.

“Di Saudi, perhatian pemerintah terhadap tunanetra dan berkebutuhan  khusus lainnya sangat diperhatikan. Bentuk perhatian itu diwujudkan dengan tersedianya Al Qur’an Braile, buku-buku pengetahuan  agama untuk tunanetra.

Dikatakan Syekh Ali, meski tunanetara memiliki keterbatasan penglihatan, ia punya kekuatan pendengaran yang tajam. “Saya banyak kenal dengan guru tunaantera. Begitu saya ucapkan salam Assalamualaikum, ingatan dan pendengaran mereka luar biasa, mereka langsung mengenal dan mengingatnya, bahwa yang menyapanya tadi adalah Syekh Ali Jaber. Sejak itulah muncul gagasan membuat Program Qura’an Braile Digital.”

Program Wakaf Braile Digital

Syeikh Ali Jaber mengaku sempat menjual rumah untuk mewujudkan program wakaf 10 ribu Al Quran Braille digital untuk tuna netra di  seluruh Indonesia. “Program Al Quran Braille digital kami mulai dari nol. Untuk mewujudkan program ini saya dan istri sepakat untuk menjual rumah. Alhamdulillah, saya memiliki istri yang luar biasa komitmennya untuk dakwah,” kata Syekh Ali Jaber dalam seminar sehari membaca Al Quran di Jakarta, Ahad (15/05/2016). Sembari tertawa, Syeikh Ali mengaku ia dan keluarganya sempat tinggal di rumah kontrakan. Dia menyatakan bahwa untuk dakwah harus total dan memberikan apa yang dimiliki.

Program Al Quran Braille merupakan program yang diperuntukkan bagi tuna netra. Dia melihat minat masyarakat Muslim di Tanah Air semakin meningkat, hal itu dibuktikan dengan maraknya lembaga-lembaga dan komunitas-komunitas cinta Al Quran yang menggerakkan kegiatan syiar dakwah Al Quran dengan berbagai kemasan yang kreatif dan menarik. “Dengan program wakaf Al Quran Braille ini, kami berharap keterbatasan tidak menjadi halangan bagi seseorang untuk belajar Al Quran,” katanya menjelaskan.

Syeikh Ali mengaku datang ke Indonesia pada 2008, bukan untuk berleha-leha, tapi mewujudkan mimpi bisa mencetak satu juta penghafal Al Quran dalam lima tahun ke depan. “Kalau hanya untuk beristirahat, saya tinggal duduk-duduk saja di Madinah. Saya datang untuk membenarkan bacaan Al Quran sebagaimana Allah SWT turunkan,” tukasnya.

Menurut Syekh Ali Jaber, menghafal Al Quran merupakan perkara mudah. Namun, yang sulit adalah bagaimana membaca Al Quran sebagaimana mestinya. Kalau menghafal Al Quran dalam sebulan juga bisa. Tapi memperbaiki bacaannya yang sulit.

Selain program Al Quran Braille, Syeikh Ali juga meluncurkan gerakan wakaf Al-Quran Terjemah Mushaf Madinah untuk daerah-daerah terpencil dan Koin infaq Majelis Bulanan (Makbul) untuk donasi program Dakwah Al Quran.

Syekh Ali Jaber telah bersusah payah, mengajak pemerintah dan instansi terkait untuk mensukseskan Program Wakaf  Qur’an Braile Digital. Namun, hingga saat ini ajakan itu belum sepenuhnya terealisasi. Syekh akhirnya bergerak sendiri dan hanya bisa menyanggupi 2.300 dari 10.000  Qur’an Braile Digital. Sampai-sampai ia meminta maaf kepada Allah, bahwa kesanggupannya hanya sampai disini.

Kecintaanya dan kasih sayang Syekh Ali Jaber pada kaumnya yang buta, membuatnya rela berkorban dengan menjual rumahnya senilai 1,9 Miliar untuk membantu saudara muslimnya yang buta untuk mendapatkan Qur’an Braile Digital. Ia bahkan telah mendirikan yayasan khusus untuk program yang mulia ini dengan nama Yayasan Qur’an Braile Digital.

“Setelah yayasan berdiri, saya menjalin silaturahim dengan Kementrian Sosial yang ketika itu dipimpin oleh Salim Segaf Al Jufri. Termasuk dengan para dirjennya. Mensos berjanji akan membantu program ini, dengan menyediakan anggarannya. Setidaknya, saya meminta data terkait angka tunanetra di Indonesia. Tapi sudah 8 bulan berjalan, data itu belum saya terima.”

Selain Kemensos, Syekh Ali juga sempat bertemu dengan Wakil Presiden RI Jusuf  Kalla di Makassar dengan membawa proposal program wakaf Qur’an Braile Digital. Salah seorang staf JK bahkan mengatakan program ini sangat bagus, terlebih jika setiap satu masjid dibagikan satu Qur’an Braile Digital. Jika seluruh di Indonesia terdapat 800 masjid, tentu membutuhkan anggaran yang besar untuk mewujudkan program ini.

Berbagai cara dilakukan untuk mencari dukungan dana untuk mewujudkan program ini. Pernah, Syekh Ali bertemu dengan seorang direksi bank swasta. Dalam pertemuan tersebut, pengajuan proposal Syekh direspon oleh direksi tersebut, meski baru menegaskan komitmen memberikan donasi sebesar Rp. 150 juta. Secara formal, komitmen itu diabadikan dengan foto. Hingga sekarang tanda komitmen pemberian donasi itu masih ada. Namun donasi itu belum juga diterima sepersen pun.

Ketika pihak yayasan menanyakan komitmen bank tersebut, rupanya pemberian donasi itu tidak terjadi, dengan dalih ada pergantian direksi. Sementara direksi yang baru tersebut justru berganti kebijakan, dengan tidak menyetujui program yang sebelumnya telah diajukan oleh pihak yayasan. Alhasil, batal lah perjanjian tersebut.

“Jujur saja, saya hampir putus asa, dan lelah memikirkan ini. Apa yang saya usahakan belum direspon pemerintah dan instansi terkait. Saya bukan pengusaha yang punya banyak uang. Saya hanya mengandalkan titipan dari jamaah. Setiap kali ceramah, saya mengumpulkan uang untuk mewujudkan program ini.”

Syekh Ali Jaber kemudian  berinisiatif untuk bergerak sendiri. Secara sukarela, ia kumpul uang hasil ceramahnya dalam setahun untuk program ini. Yang jelas, tidak ada uang satu rupiah sekalipun masuk ke kantong saya. Akhirnya, saya baru bisa menyanggupi 2.300 Qur’an Braile Digital untuk dibagikan kepada tunanetra.

“Saya sempat minta maaf sama Allah, cuma ini kesanggupan saya. Inilah  perjuangan saya untuk program ini. Saya tetap berprasangka baik kepada Allah, bahwa perjuangan tak selalu berjalan mulus, selalu saja menemukan kendalanya. Ini ujian dari Allah, apakah saya sungguh-sungguh atau pura-pura saja.”

Sejak itu, Syekh Ali berkomitmen untuk tidak putus asa mewujudkan program Wakaf Qur’an Braile Digital. Dengan jiwa besar, Syekh Ali sampai menjual rumah senilai Rp. 1,9 M. Uang itu kemudian digunakan untuk mencetak awal 1.000 Qur’an Braile Digital.”Oleh karena gerakan Qur’an Braile Digital bersifat  sosial, bukan bisnis.

Yang membuat Syekh tambah semangat untuk mewujudkan program tersebut, adalah ketika ia ceramah didepan TKI di Hongkong. “Sebagian besar TKI bekerja sebagai pembantu, tapi mereka malah mau membantu. Mereka sangat merespon program ini. Alhasil uang terkumpul Rp. 400 juta. Bahkan ada yang datang ke Syekh, seraya berkomitmen untuk mengikhlaskan gajinya selama satu tahun untuk program Quran Braile Digital. “Yang membuat saya speakless adalah ketika TKI menyumbangkan emas, khusus untuk program ini. Komitmen mereka inilah yang membuat saya malu. Kenapa pemerintah tidak memberi perhatian terhadap program ini.

Belum lama ini, Yayasan Syekh Ali Jaber menggelar Gerakan 1000 wakaf Qur’an Braile Digital di Surabaya. Yayasan bekerjasama dengan Yayasan Nurul Hayat. Tak dinyana, dari 1000 tunanetra yang ditargetkan, membengkak lebih dari 1.500. Sementara pihak Yayasan hanya bisa menyanggupi 1.300.

“Hampir seluruh tunanetra tahu program ini. Sebetulnya kami hanya menyanggupi 1.300, tapi yang mendaftar malah lebih. Kalau kami tolak mereka kecewa. Bahkan, mereka ancam untuk demo, jika tidak diterima.

Lalu saya usulkan, terima saja pendaftaran, tapi jangan dijanjikan. Yang jelas, kami sudah mengeluarkan uang sebesar 600 juta hanya untuk biaya transport saja. Itu di luar Qur’an Braile.”

Target Syekh Ali, setelah Surabaya dengan Gerakan 1000 Quran Braile Digital. Saya ingin Jakarta tidak kalah dengan Surabaya, dengan menargetkan 10.000 Qur’an Braile. Insya Allah akan dilaksanakan enam bulan kedepan, saat menyambut Ramadhan nanti. Tempatnya belum ditetapkan, antara di Monas, Senayan atau Masjid At-Tin. Program wakaf 10.000 Qur’an Braile Digital ini, kalau bisa akan dihadiri Presiden Jokowi. Semoga Presiden terketuk hati untuk program ini.

Syekh Ali mengatakan, program ini tentunya bukan sebatas membagi-bagikan Qur’an Braile, tapi ada kelanjutannya. Salah satunya adalah program penghapalan Qur’an khusus tunanetra.

“Saat ini, kami butuh data lengkap, jumlah tunanetra di Indonesia, terutama yang disebabkan oleh penyakit. Karena ada donatur dari Timur Tengah yang berkomitmen untuk membantu. Saya pernah mendengar berita di Al Jazirah, data penderita yang menyebabkan kebutaan mencapai 44 juta jiwa di seluruh dunia. Jika data sudah saya dapatkan, ada pihak yang ingin membantu untuk biaya operasinya,” ungkap Syekh (des)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

News Feed