oleh

Substansi, Ragam dan Dhowabith Maqashid Syariah

Maslahat Umat | Dalam kamus bahasa arab, Maqashid adalah kata yang menunjukkan banyak (Jama’), Mufradnya adalah maqashad yang berarti tujuan atau target. Sedangkan menurut istilah tentang definisi Maqashid Syariah.

Menurut imam ath-Thahir ibnu A’syur, Maqashid syariah adalah Makna atau hikmah yang bersumber dari allah Swt. Yang terjadi pada seluruh mayoritas ketentuan-nya (bukan pada hukum tertentu)

Menurut Al-allamah ‘Ilal al-fasi Maqashid syariah :  Tujuan atau rahasia Allah swt. Dalam setiap hukum syariat-nya. Menurut  Ar-risuni Maqashid Syariah : Tujuan yang ingin dicapai oleh syariat ini untuk merealisasikan kemaslahatan hamba.

Ragam Maqashid Syariah

Imam Asy-syatibi menjelaskan ada 5 (lima) bentuk maqashid syariah atau yang bisa di sebut kulliyat al-khamsah (lima prinsip umum). Kelima maqashid tersebut yaitu:

  1. Hifdzun din (Melindungi agama)
  2. Hifdzun nafs (Melindungi jiwa)
  3. Hifdzun aql (Melindungi pikiran)
  4. Hifdzun mal (Melindungi harta)
  5. Hifdzun nasab (Melindungi keturunan)

Kelima maqashid tersebut di atas bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat maslahat dan kepentingannya. Tingkatan urgensi dan kepentingan tersebut ada 3 (Tiga), yaitu:

Dharuriyat yaitu kebutuhan yang harus di penuhi; yang jika tidak di penuhi akan membuat kehidupan menjadi rusak. Hajiyat yaitu kebutuhan yang seyogianya di penuhi; yang jika tidak di penuhi akan mengakibatkan kesulitan.

Tahsinat yaitu, kebutuhan perlengkap;  yang jika tidak dipenuhi akan membuat kehidupan menjadi kurang nyaman.

Kelima Hajat tersebut di atas di dasarkan pada istiqra (telaah) terhadap hukum-hukum furu (juz’iyyat) bahwa seluruh hukum-hukum furu’ tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu melindungi kelima hajat manusia tersebut.

Bahwa setiap perilaku yang bertujuan untuk memenuhi kelima hajat itu adalah mashlahat dan sebalik nya yang setiap perilaku yang menghilangkan kelima hajat tersebut itu adalah mafsadat.

Batasan-batasan Mashlahat

Mashlahat dalam syariat islam memiliki dhowabith (batasan) yang harus di penuhi untuk menentukan substansi mashlahat yang bersifat umum (kulli) dan mengkaitkannya dengan dalil hukum (tafshili), sehingga ada keterkaitan antara aspek kulli dan aspek tafhsilinya. Di samping itu, juga agar mashlahat itu mempunyai kekuatan hukum.

Batasan ini juga sangat penting agar mashlahat yang dimaksud adalah mashlahat yang di kehendaki oleh allah SWT. Dhowabith mashlahat yang di maksud tersebut adalah : Batasan pertama Mashlahat adalah salah satu dari 5 maqashid syariah. Maka Setiap perilaku yang bertujuan untuk memenuhi kelima hajat itu adalah mashlahat, dan sebaliknya setiap perilaku yang menghilangkan kelima hal tersebut itu adalah mufradat.

Batasan ke-dua Tidak bertentangan Dengan Al-Quran Dan As-sunnah dan Qiyas . Karena Al-Quran dan As-sunnah itu adalah Sumber hukum (al-ash),dan mashlahat adalah salah satu muatan hukumnya (al-faru) maka tidak mungkin muatan hukumnya bertentangan dengan sumber hukum. Oleh karena itu, mashlahat yang bertentangan dengan sumber hukum, itu bukan mashlahat.

Batasan ketiga Tidak bertentangan mashlahat yang lebih besar. Mashlahat menjadi berkekuatan hukum, jika tidak bertentangan dengan mashlahat yang lebih besar. Jika terdapat mashlahat yang lebih besar, maka mashlahat lebih kecil itu menjadi batal.

Setiap hukum fikih tidak akan melahirkan mashlahat atau tidak mengandung mashlahat kecuali jika mashlahat tersebut dengan hukum tersebut. Dan mashlahat bisa sesuai dengan hukum tersebut jika tidak bertentangan dengan mashlahat yang lebih besar atau yang setara.

SUMBER BUKU MAQASHID BISNIS & KEUANGAN ISLAM SINTESIS FIKIH DAN EKONOMI

Karya :

Dr Oni Sahroni, M.A

Ir   Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A  M.A.E.P

News Feed