oleh

Simbol Perlawanan Sang Imam Besar

Oleh: Yons Achmad | Kolumnis, tinggal di Depok

Maslahat Umat | Kenapa Habib Rizieq Shihab (HRS) begitu dirindukan kedatangannya ketika kembali ke tanah air? Saya kira bukan karena semata beliau ulama, tapi lebih dari itu. Beliau adalah simbol perlawanan terhadap rezim. Mengutip istilah Megawati, “Amburadul”. Ya, memang istilah itu digunakannya untuk menyebut era kepemimpinan Anies Baswedan. Pendapat yang “Super ngawur” tak terkira dengan fakta segudang prestasi yang diraih DKI Jakarta. Tapi, kalau boleh jujur, rezim Jokowi inilah yang sebenarnya “Ambudarul” dilihat dari sisi apapun.

Politik gaduh, ekonomi jeblok, penegakan HAM jauh dari harapan, kesejahteraan masyarakat tanpa peningkatan bahkan diprediksi akan lebih memburuk kalau UU Cipta Kerja “Omnibus Law” diberlakukan. Sementara, kebebasan pers sekadar mimpi, penangkapan aktivis terus terjadi. Kalau boleh menilai secara obyektif, kurang “Amburadul” apa rezim Jokowi ini?

Setelah periode pertama pemerintahan Jokowi berakhir, memang muncul Prabowo sebagai penantang terberat Jokowi. Munculnya Prabowo banyak didukung kalangan Islam, termasuk “Umat” 212 pimpinan Sang Imam Besar HRS itu. Munculnya Prabowo sebenarnya bukan harapan luar biasa. Banyak orang dulu memilih Prabowo bukan semata-mata karena kapasitas pribadi Prabowo. Tapi lebih karena banyak orang tak mau Jokowi terpilih lagi. Dalam suasana kebatilan itulah banyak orang tutup mata atas segala kasus, kontroversi dan keburukan yang melekat dalam diri Prabowo. Intinya banyak orang ingin Jokowi jangan sampai terpilih lagi. Hanya saja, fakta bicara lain. Jokowi menang dan kembali menjadi presiden sampai 2024 nanti. Sementara, Prabowo yang digadang-gadang itu ternyata punya jalan lain. Rela menjadi bawahan Jokowi sebagai menteri pertahanan. Banyak orang menyayangkan, bahkan menyebut apa yang dilakukan Prabowo itu sebuah pengkhianatan.

Kini, umat seolah rindu pimpinan. Sebenarnya, di level formal, ada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menjadi oposisi di parlemen. Sayangnya, kehadiran PKS rupanya belum mewakili harapan umat di luar partai. Dalam tubuh PKS sendiri, walaupun secara internal kondisinya begitu solid, tapi sepertinya belum muncul tokoh yang bisa merangkul kelompok-kelompok Islam lain, termasuk komunitas 212. Maka, tak heran ketika kemudian muncul partai-partai baru yang dipelopori aktivis-aktivis Islam, seperti Anis Matta dan Fahri Hamzah dengan Partai Gelora, Amien Rais dengan Partai Ummat, begitu juga kembali muncul Partai Masyumi yang dimotori MS Kaban yang konon kabarnya partai itu didirikan lantaran kecewa PKS tak merangkulnya.

Maka, tak heran kehadiran HRS begitu dielu-elukan. Kenapa? Sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Jokowi. HRS begitu keras melakukan kritik terhadap sepak terjang dan kebijakan Jokowi. HRS bukan sosok ulama yang cari aman dengan sekadar melakukan amar ma’ruf (mengajak kebaikan), tapi, tokoh ini satu-satunya ulama yang berani, punya nyali, tidak takut pada apapun dalam upaya mencegah kebatilan (nahi munkar). Setidaknya, hal ini yang bisa menjadi penjelasan kenapa kehadiran HRS begitu dirindukan, begitu dielu-elukan. Hanya saja, akankah kemudian HRS tetap garang atau malah jadi lembek sekembalinya ke tanah air? Kita tunggu saja kabar selanjutnya.

Terlepas dari itu, sepertinya para aktivis Islam arus bawah harus belajar dari sejarah. Sudah sering umat ini dikhianati oleh elit-elit politik maupun ulama yang kemudian setelah masuk kekuasaan, pandangan, pikiran, perkataan dan perbuatannya jauh dari yang diharapkan. Maka, melakukan pengawalan terus menerus perlu dilakukan. Sampai menemukan sosok pemimpin yang selaras kata perbuatan serta mampu memberikan angin segar pada kemajuan dan kesejahteraan. Tak hanya bagi umat Islam, tapi bagi rakyat Indonesia secara keseluruhan. []

News Feed