oleh

Sejarah Uang Kertas

Oleh: Miranthi Dhaifina Sabila, S. E., Alumni Institut Pertanian Bogor

Maslahat Umat | Kekalahan Kekhalifahan Utsmani dan blok Timur pada Perang Dunia ke-2 menandai akhir masa rezim bimetalik (rezim mata uang dua uang logam, yaitu emas dan perak) sekaligus menjadi momen awal lahirnya rezim uang kertas. Negara-negara pemenang Perang Dunia ke-2 yaitu blok Barat yang terdiri dari Amerika Serikat (AS), Inggris dan Prancis bertemu di Bretton Woods pada 1944 untuk membahas sistem moneter (keuangan) yang akan diterapkan di dunia. Dari pertemuan tersebut lahirlah Perjanjian Bretton Woods.

Berikut ini beberapa implikasi dari Perjanjian Bretton Woods, yakni: Pertama, melarang penggunaan emas sebagai mata uang (Pasal 4 bagian 2b dalam pasal-pasal persetujuan IMF). Pasal ini melarang seluruh negara kecuali AS untuk menstandarkan mata uangnya pada emas, hanya dolar AS saja yang boleh menstandarkan mata uangnya pada emas. Sementara negara-negara lainnya harus menstandarkan mata uangnya pada dolar AS. Inggris dan Prancis menyetujui perjanjian ini karena pada saat itu AS memegang 70% cadangan emas dunia, hasil dari harta rampasan perang dunia ke-2. Dalam perjanjian ini disepakati bahwa AS hanya boleh mencetak 35 dolar untuk setiap satu ons (28,35 gram) emas yang mereka simpan.

Kedua, AS menjadi satu-satunya negara yang menstandarkan mata uangnya pada emas. Meskipun dalam Perjanjian Bretton Woods dikatakan bahwa AS hanya boleh mencetak 35 dolar untuk setiap satu ons emas yang mereka simpan, pada kenyataannya tidak ada negara yang dapat bertindak sebagai polisi untuk mengawasi AS apakah mereka mentaati perjanjian tersebut.

Dampaknya AS bebas mencetak dolar tanpa batas, tanpa perlu distandarkan pada emas. Bank Sentral AS memperoleh keuntungan besar dari seignorage (selisih biaya cetak dengan nominal uang yang dicetak). Jika dimisalkan biaya cetak satu dolar Rp600 dan nilai satu dolar adalah Rp15.000, maka seignorage yang diperoleh adalah Rp14.400. Berbeda jika yang dicetak adalah seratus dolar, maka seignorage yang diperoleh oleh Bank Sentral AS adalah Rp 1.499.400 untuk setiap seratus dolar yang dicetak.

Bagi  negara-negara yang menstandarkan mata uangnya kepada dolar, untuk mencetak mata uang mereka disyaratkan harus menyimpan sekian dolar di bank sentralnya. Misalkan Indonesia, jika Indonesia ingin mencetak rupiah maka Indonesia harus punya cadangan devisa (dolar). Ada dua cara untuk mendapatkan dolar yakni: Pertama,  dengan berutang ke IMF dan kedua, dengan ekspor komoditas ke luar negeri untuk memperoleh dolar.

Konsekuensi dari cara pertama, Indonesia mau tidak mau harus memberikan informasi terkait aset-aset potensial negaranya kepada IMF. Sama halnya jika kita mau mengajukan pinjaman ke bank, maka bank harus menilai aset kita untuk menentukan apakah kita layak diberikan pinjaman atau tidak. Konsekuensi selanjutnya Indonesia akan terikat dengan IMF, akan ada beberapa persyaratan atau bahkan undang-undang yang harus disetujui Indonesia agar pinjaman dari IMF bisa cair.

Secara kasat mata cara kedua yaitu melalui ekspor komoditas bukan pilihan buruk di mata Indonesia, namun harus dikembalikan lagi pada hakikat dolar. Dolar dicetak tanpa distandarkan pada emas, maka ini sebenarnya bentuk perampokkan komoditas negara-negara selain AS dengan kertas bertuliskan dolar AS. Komoditas berharga seperti minyak bumi, batu bara, kayu dan lain sebagainya ditukar dengan kertas.

Ketiga, seluruh anggota IMF diwajibkan menaruh 25% cadangan emas miliknya di IMF dan melaporkan setiap penjualan dan pembelian emas yang mereka lakukan. Informasi penjualan dan pembelian emas ini bisa menjadi salah satu tolak ukur untuk melihat kekuatan suatu negara dengan melihat pasokan emas yang dimiliki dan informasi ini diambil oleh IMF secara gratis.

Keempat, hanya pemerintah melalui bank sentral, kementerian keuangan atau badan fiskal sejenis yang dapat menukar dolar Amerika dengan emas. Rakyat biasa tidak bisa menukar dolar yang mereka miliki dengan emas sebesar apapun simpanan dolar mereka.

Rezim Bretton Woods ini hanya bertahan kurang lebih selama 27 tahun. Pada masa-masa akhirnya, Amerika Serikat ketahuan menyalahi Perjanjian Bretton Woods. AS hanya menyimpan 1 ons emas untuk setiap pencetakkan 350 dolar dan angka ini masih terus mereka lipat gandakan. Pencetakkan dolar tanpa menstandarkan pada emas mengakibatkan inflasi yang tinggi.

Richard Nexon selaku Presiden AS ke-37 pun mengakhiri secara sepihak Perjanjian Bretton Woods pada 12 Agustus 1971. Pengakhiran Perjanjian Brettin Woods menandakan bahwa AS dalam pencetakkan dolarnya tidak terikat lagi dengan perjanjian 35 dolar untuk setiap satu ons emas, berarti AS sekarang bebas untuk mencetak dolarnya tanpa perlu menstandarkan pada emas.

Pada 1971 AS mencetak dolar sudah tidak berstandarkan pada emas. Pencetakkan dolar pada saat itu menjadi semakin liar dan sesuai hukum moneter jika dolar dicetak terus menerus maka jumlah uang beredar akan semakin banyak dan inflasi (kenaikan harga-harga) tidak dapat dihindari lagi. Inflasi tersebut mengakibatkan daya beli dolar jatuh hingga hanya senilai 18 sen  pada 2010. Dolar telah kehilangan 92% daya belinya sejak  1944 sampai 2009.

Hari ini harga emas per satu gram kurang lebih sekitar Rp932.000 sementara harga 1 dolar saat ini sekitar Rp14.292. Jika mengacu pada Perjanjian Bretton Woods (35 dolar untuk 28,35 gram emas) maka satu dolar dulu daya belinya sekitar Rp747.630. Perubahan nilai satu dolar dari Rp747.630 pada 1944 menjadi Rp14.292  pada 2021. Ini berarti dolar telah kehilangan 98,1% daya belinya.

Meski demikian, negara-negara lainnya masih tetap menstandarkan mata uangnya pada dolar, ini dikarenakan sistem moneter hari ini sudah terkunci dari awal oleh dolar AS lewat Perjanjian Bretton Woods. Ibarat seperti syarat pengajuan pinjaman adalah mempunyai BPKB mobil, meskipun mobilnya sudah rusak atau tidak dapat jalan lagi, BPKB masih diterima sebagai syarat sah untuk melakukan pinjaman.

Berbeda dengan Islam yang menjadikan emas dan perak sebagai mata uang sah negara. Pada 2000 di Indonesia satu dinar senilai dengan Rp268.251, kemudian pada 2020 satu dinar senilai dengan Rp3.240.768, ini bukan diartikan dinar mengalami kenaikkan, tetapi rupiahlah yang mengalami devaluasi. Pada 2000, satu dinar cukup untuk membeli satu kambing dan sampai 2021 satu dinar pun masih cukup untuk membeli satu kambing. Bahkan sejak zaman Rasulullah 14 abad yang lalu harga satu kambing adalah satu dinar dan satu ayam adalah satu dirham. Harganya tetap sama selama 14 abad lamanya.

Perkara dinar dan dirham juga dibahas oleh Rasulullah dalam hadist berikut: “Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada masa itu tidak ada yang bermanfaat kecuali dinar (uang emas) dan dirham (uang perak).” (HR Imam Ahmad).

“Apabila di akhir zaman, manusia di kalangan mereka itu harus menggunakan dirham-dirham dan dinar-dinar sehingga dengan kedua mata uang itu seorang laki-laki menegakkan agama dan dunianya.” (HR Imam Al-Thabrani).

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa di akhir zaman nanti, manusia akan kembali menggunakan dinar dan dirham sebagai mata uangnya. Ini merupakan suatu pertanda Islam akan kembali memimpin di dunia sebagai negara adidaya. Hadits tersebut sangat berkaitan dengan hadits berikut, “Nabi SAW bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim) dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa) dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, Beliau diam.”(HR  Imam Ahmad).

Kecacatan ekonomi kapitalisme sudah di depan mata bahkan diakui oleh banyak ahli ekonomi Barat. Di sisi lain Islam mulai kembali bersinar dan menunjukkan kesempurnaan aturan kehidupannya termasuk dalam aturan perekonomian. Kebangkitan Islam suatu kepastian maka pilihannya menjadi bagian dari kebangkitan Islam atau menjadi penonton dari kebangkitan Islam itu sendiri. []

 

 

News Feed