oleh

Safar; Antara Puasa dan Tidak?

Diasuh oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Maslahat Umat | Ustadz, saya mau bertanya, apabila kita Safar di Bulan Ramadhan, manakah yang lebih utama, mengambil rukhsah berbuka atau tetap shaum?

Jawaban

Safar adalah salah satu udzur mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk tidak puasa Ramadhan. (QS. Al Baqarah: 184)

Yaitu Jika safarnya telah memenuhi syarat boleh untuk tidak berpuasa. Syaikh Sayyid Sabiq menerangkan: Safar yang membuat bolehnya tidak puasa adalah safar yang juga menyebabkan boleh qasharnya shalat. Rentang waktunya pun sama dengan rentang waktu dibolehkannya qashar. (Fiqhus Sunnah, 1/444)

Jika dia memilih tetap puasa, itu tidak salah, jika mengambil rukhshah tidak berpuasa maka itu baik, begitulah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan.

Dari Hamzah bin Amru Al Aslami Radhiallahu Anhu, katanya: “Wahai Rasulullah, saya punya kekuatan untuk berpuasa dalam safar, apakah salah saya melakukannya? Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab: Itu adalah rukhshah dari Allah, barang siapa yang mau mengambilnya (yakni tidak puasa) maka itu baik, dan barang siapa yang mau berpuasa maka tidak ada salahnya. (HR. Muslim No. 1121)

Antara Baik dan tidak salah, tentu cita rasanya lebih dalam yang “baik”.

Ini juga dikuatkan oleh riwayat lainnya, dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma, katanya:
“Tidak ada kesulitan bagi orang yang berpuasa, dan tidak ada kesulitan bagi yang berbuka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berpuasa dalam safar dan juga berbuka.” (HR. Muslim No. 1113)

Dari Ibnu Abbas juga: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengadakan perjalanan pada Ramadhan, dia berpuasa singga sampai ‘Asfan. Kemudian dia meminta sewadah air dan meminumnya siang-siang. Manusia melihatnya, lalu dia berbuka hingga masuk Mekkah. Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berkata: Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa dan berbuka. Barang siapa yang mau maka dia puasa, dan bagi yang mau buka maka dia berbuka. (Ibid)

Namun jika seseorang memilih puasa, tapi malah menyulitkannya atau safarnya semakin berat, maka tidak disarankan berpuasa.

Berdasarkan hadits berikut: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tengah dalam perjalanannya. Dia melihat seseorang yang dikerubungi oleh manusia. Dia nampak kehausan dan kepanasan. Rasulullah bertanya: “Kenapa dia?” Meeka menjawab: “Seseorang yang puasa. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam1 bersabda: Tidak ada kebaikan kalian berpuasa dalam keadaan safar. (HR. Muslim No. 1115)

Sebagian ulama ada yang dengan tegas menyebut TIDAK BOLEH orang yang berpuasa dalam keadaan safar, sebab Rasulullah telah menyebut DURHAKA orang yang puasa di saat safar.

Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya menuliskan: “Bab tentang khabar dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang penamaan berpuasa saat safar adalah DURHAKA tanpa menyebut alasan penamaan mereka dengan nama ini. Sebagian ulama menyangka bahwa berpuasa ketika safar adalah TIDAK BOLEH karena hadits ini.”

Dalilnya, Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar pada tahun Fath (penaklukan) menuju Mekkah pada saat Ramadhan. Dia berpuasa hingga sampai pinggiran daerah Ghanim. Manusia juga berpuasa bersamanya. Dikatakan kepadanya: Wahai Rasulullah, nampaknya manusia kepayahan berpuasa. Kemudian Beliau meminta segelas air setelah asar, lalu beliau minum, dan manusia melihatnya. Maka sebagian manusia berbuka, dan sebagian lain tetap berpuasa. Lalu, disampaikan kepadanya bahwa ada orang yang masih puasa. Maka Beliau bersabda: Mereka durhaka. (HR. Muslim No. 1114)

Dengan memadukan berbagai riwayat yang ada ini, bisa disimpulkan bahwa anjuran dasar bagi orang yang safar adalah berbuka/tidak berpuasa.

Namun, bagi yang kuat dan sanggup untuk berpuasa maka boleh saja tidak berpuasa sejak awalnya, dan boleh pula berpuasa. Namun bagi yang sulit dan lelah, maka lebih baik dia berbuka saja.

Dalam konteks ‘boleh buka dan boleh puasa’ bagi yang sanggup, lalu manakah yg lebih utama?

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah meringkas sebagai berikut: “Menurut Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, puasa adalah lebih utama bagi yang kuat menjalankannya, dan berbuka lebih utama bagi yang tidak kuat. Ahmad mengatakan: berbuka lebih utama. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz berkata: Yang paling utama dari keduanya adalah yang paling mudah. Barangsiapa yang lebih mudah puasa saat itu, dan mengqadha setelahnya justru berat, maka berpuasa baginya adalah lebih utama.”

Asy Syaukani melakukan penelitian, dia berpendapat bahwa bagi yang berat berpuasa dan membahayakannya, dan juga orang yang tidak mau menerima rukhshah, maka berbuka lebih utama. Demikian juga bagi orang yang khawatir pada dirinya ada ujub dan riya jika puasa dalam perjalanan- maka berbuka lebih utama. Ada pun jika puasanya sama sekali bersih dari perkara ini semua, maka puasa lebih utama. (Fiqhus Sunnah, 1/443. Nailul Authar, 4/225)

Demikian. Wallahu a’lam

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

News Feed