oleh

Rezim Jokowi Kriminalisasi Imam Besar Tiada Henti

Maslahat Umat | Ngototnya Wali Kota Bima Arya menuntut pemeriksaan ulang tes swab terhadap Habib Rizieq Shihab (HRS) sudah keterlaluan. Dia bahkan rela mondar-mandir ke RS Ummi – Bogor, untuk memaksa manajemen RS menuruti keinginannya. Dia bahkan melaporkan RS Ummi  ke polisi dengan tuduhan menghalang-halangi pemeriksaan dan pemberantasan Covid-19.

Padahal Dirut RS itu sudah mengumumkan, termasuk kepada media, bahwa hasil tes swab HRS negatif. Habib hanya kelelahan karena kegiatan bertubi-tubi usai kepulangannya dari Saudi. Hasil tes juga sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala ke arah Covid-19.

Sejumlah UU tentang Rumah Sakit, UU Kesehatan, bahkan UU Keterbukaan Publik sudah mengatur soal ini dengan benderang. Intinya, melarang membuka informasi kesehatan pasien kehadapan publik.

“Jadi, kenapa Bima ngotot terus? Adakah tangan-tangan kekuasaan yang menekan dia? Atau, dia sedang menjalankan tugas untuk mengamankan jabatannya?” tukas  Presidium Aliansi Selamatkan Merah Putih (ASMaPi), Edy Mulyadi.

Dikatakan Edy Mulyadi, penguasa telah mengerahkan segenap sumber daya yang dimiliki untuk mengurusi Habib Rizieq Shihab (HRS). Presiden, para menteri, Panglima TNI, Kapolri, para Kapolda, para Pangdam, gubernur, walikota/bupati dan semua sibuk mengurus HRS! Seolah-oleh Habib adalah problem besar negeri ini. Seolah-olah Habib adalah ancaman dahsyat yang akan menenggelamkan dan menghancurkan NKRI.

Edy Mulyadi sangat menyayangkan kekeliruan besar rezim yang seperti ini. Menurut dia, masalah utama NKRI adalah ketidakadilan dan ekonomi yang salah urus.

“Problem besar Indonesia adalah korupsi yang merajalela, utang negara yang menggunung dan berbunga sangat tinggi, perusahaan banyak yang tutup, pengangguran dan PHK, rakyat yang tergerus daya belinya, dan berbagai problem ekonomi lainnya. Jadi, problem Indonesia bukanlah Habib Rizieq,” papar Edy.

Bukan Kabur

Sementara itu, Wakil Sekretaris Umum (Sekum)  Front Pembela Islam (FPI), Aziz Yanuar, membantah Habib Rizieq Shihab (HRS) kabur dari RS Ummi Bogor, Jawa Barat.

“Berita dan informasi itu muncul dari pihak-pihak dan orang-orang yang menderita sakit jiwa akut dan keterbelakangan mental tingkat tinggi karena kebencian mendalam terhadap HRS,” katanya melalui pesan WhatsApp, Ahad lalu (29/11/2020).

Ia menjelaskan, HRS meninggalkan RS Ummi Bogor, karena memang sudah diizinkan pulang oleh dokter di rumah sakit itu. “Beliau keluar lewat pintu belakang untuk menjaga privasinya, dan itu hak beliau,” imbuhnya.

Aziz juga mengatakan kalau pihak RS Ummi tahu soal kepulangan HRS melalui pintu belakang tersebut. Data yang dihimpun menyebutkan, HRS meninggalkan RS Ummi Bogor pada Sabtu (28/11/2020) sekitar pukul 21:00 WIB dengan mobil Toyota Kijang.

Tidak seperti umumnya pasien rumah sakit, HRS pulang melalui pintu gerbang belakang. Okezone melansir, Sofyan, petugas Satpam RS UMMI yang berjaga di belakang, memberi kesaksian kalau HRSeninggalkan rumah sakit dengan didampingi keluarga dan sejumlah anggota FPI.

“Kebetulan yang tugas malam teman saya, tapi saya dapat informasi HRS keluar jam 9 an gitu. Sebetulnya dia memang sudah ada rencana keluar sejak jam 7 malam,” katanya.

Belum diketahui apakah saat ini HRS telah berada di kediamannya di Megamendung, Bogor, atau di tempat lain. “Saat ini beliau dimana, saya tidak tahu dan tidak merasa harus tahu karena itu privasi Beliau,” tutup Aziz. (des)

News Feed