oleh

Rezim Fir’aun Semakin Paranoid?

Oleh: Pangeran Samber Tahta | Pemerhati Sejarah dan Politik

Maslahat Umat | “Wamakaru Wamakarallah, Wallahu Khoirul Maakiriin”. Tiga tahun setelah HTI dibubarkan melalui PERPPU No.2 Tahun 2017, yang kemudian menjadi UU Keormasan No.16 Tahun 2017, sekarang giliran FPI dibubarkan melalui SKB 6 Menteri.

Tetapi anehnya, prosedur pembubarannya tidak mengacu pada UU Keormasan apalagi melalui proses Pengadilan. Rezim zalim berdalih, FPI tidak lagi memperpanjang SKT sejak 20 Juni 2019, sehingga status badan hukumnya sudah dicabut sejak itu alias bubar dengan sendirinya. Padahal waktu itu FPI berusaha keras untuk memperpanjangnya, tetapi terus dipersulit rezim zalim, sehingga waktunya habis dan akhirnya tidak bisa diperpanjang lagi.

Namun sebenarnya pembubaran FPI ini tidak terlepas dari perang antar Geng yg menjadi pendukung Istana. Mereka dg rakusnya berebut kue kekuasaan dan ingin mengamankan posisi politiknya masing-masing pada 2024. Mereka ingin mengenggam kekuasaan sebanyak-banyaknya berada ditangannya.

Ibarat para Gajah berperang, Pelanduk mati ditengah-tengah. Sebagai “Pelanduk”, FPI sengaja dikorbankan para bos Geng, agar pertarungan mereka memperebutkan Istana tidak diketahui rakyat, dan agar mereka memiliki common enemy yakni Habib Muhammad Rizieq Syihab dan FPI.

Menurut Negarawan kawakan, Rachmawati Sukarnoputri, saat ini terdapat empat Geng yg saling berebut kekuasaan di Istana, yakni Geng Mega, Geng Jkw, Geng LBP dan Geng JK. Meski Mega dan JK berada diluar Istana, namun pengaruh kekuasaan politiknya di Istana masih cukup besar. Maka tidaklah mengherankan jika rezim zalim ini tidak mampu mengatur ekonomi sehingga ekonomi nasional jadi morat marit dan kacau balau karena sibuk berebut kue kekuasaan.

Sebab mereka sibuk berperang untuk memperebutkan kekuasaan pasca 2024 sambil membuat musuh bersama FPI. Kalau sekarang FPI sudah dapat giliran, nanti ormas-ormas Islam lainnya nunggu giliran untuk dijadikan common enemy demi mengalihkan perhatian dari serunya gontok-gontokan perang antar Geng Istana.

Mengapa yg dijadikan musuh bersama untuk dibubarkan selalu ormas Islam ? Jawabannya, karena sekarang Istana sudah dikuasai para simpatisan dan gerombolan Komunis muda, Radikalis kiri, Sekularis, Liberalis dan Fundamentalis Kristen.

Sekarang sedang terjadi polarisasi kekuasaan saling membelah diantara keempat kubu Geng Istana tersebut. Ini bisa terlihat dari Reshuffle Kabinet baru baru ini dan para Menteri tidak kompak dan saling jegal satu sama lain, sementara Presiden sendiri sudah tidak mampu mengatasinya. Presiden hanya sibuk kasak kusuk sana sini untuk menyelamatkan Putra Mahkotanya akibat tuduhan kasus korupsi Kemensos, dari tentakel Gurita KPK yg baru saja bangkit dari tidur panjangnya.

Ibaratnya Istana Raja Fir’aun di Mesir, dimana didalamnya terdapat Geng Firaun, Geng Bal’an, Geng Hamman dan Geng Korun. Mereka saling gontok-gontokan untuk memperebutkan kursi kekuasaan demi suksesi nantinya. Para Menterinya sibuk saling jegal satu sama lain, sehingga perekonomian hancur lebur dan kemiskinan rakyat Mesir sudah mewabah di seantero negeri.

Agar rakyat Mesir tidak mengetahuinya segala tragedi di Istana, maka dicarilah musuh bersama yakni Nabi Musa AS dan saudaranya Nabi Harun AS. Dengan kekuatan media massanya dan intelijen Fir’aun waktu itu, Nabi Musa difitnah dengan kejinya dan dituduh sebagai radikalis, fundamentalis, ekstrimis, teroris dan sederetan fitnah mengerikan lainnya.
Dengan fitnah media massa seperti itu, pengikut Nabi Musa bukannya berkurang, bahkan semakin besar.

Karena pengaruh dan pengikut Nabi Musa semakin membesar, akhirnya para bos Gang Istana Fir’aun semakin panik bahkan paranoid. Akhirnya mereka sepakat untuk membunuh Nabi Musa dan para pengikutnya dari Bani Israil.

Namun apa yg terjadi ? Bukannya Fir’aun dan para bos Gengnya berhasil menghabisi Nabi Musa dan pengikutnya, justru mereka sendirilah yg dihabisi Allah SWT dengan ditenggelamkan di Laut Merah.

Itulah akhir yg mengenaskan dari kekuasaan rezim zalim Fir’aun yang paranoid, diktator dan otoriter. Apakah mungkin sejarah akan terulang, seperti kata sejahrawan Inggris, Arnold Tonybee ? Wallahu A’lam. (*)

News Feed