oleh

Revolusi Akhlak, Antara Harapan dan Kenyataan

Oleh : Ahmad Khozinudin, SH | Advokat, Aktivis Islam

Maslahat Umat | Pada Senin, 16 November 2020, Pukul 19.30 – 21.00 WIB, penulis kembali diminta untuk menjadi Nara Sumber Diskusi Cangkru’an Cak Slamet. Tema diskusi, masih seputar kepulangan Habib Rizieq Shihab (HRS).

Sebagaimana diketahui, HRS menjanjikan akan melakukan Revolusi saat pulang ke Indonesia. Atas wacana tersebut, pemerintah bereaksi keras.

Pada saat Ketum FPI KH Ahmad Shabri Lubis menyebut Habib Rizieq Syihab akan segera pulang ke Indonesia untuk memimpin revolusi, muncul anggapan revolusi yang akan dipimpin Habib Rizieq adalah tindakan makar. Ketua MPR Jazilul Fawaid, yang menyebut revolusi itu sebagai salah satu tindakan makar. (14/10/2020).

Saat itu, FPI mempersoalkan Revolusi yang diusung Jokowi. Pada faktanya, Jokowi yang mengusung Revolusi Mental juga tak ada yang mempersoalkan.

Entah sebuah antitesa atau reaksi politik untuk mengimbangi narasi rezim, mulailah diperkenalkan Revolusi Akhlak sebagai kontra Revolusi Mental yang dijajakan Jokowi. Saat itu, belum ada devinisi rincian mengenai istilah Revolusi Akhlak.

Barulah, setelah kepulangannya HRS menjelaskan pemakaian istilah revolusi akhlak dan tidak revolusi mental. Menurutnya, revolusi mental bersumber dari paham komunis. Revolusi mental digunakan oleh peletak paham komunisme, Karl Marx.

Didepan jemaahnya, HRS menjelaskan pengertian revolusi sebagai perubahan secara cepat dan mendasar. Jika perubahan itu dilakukan secara perlahan, bukan revolusi.

“Kenapa dipilih revolusi akhlak, kenapa bukan revolusi moral, revolusi budi pekerti, revolusi mental? Karena kata akhlak itu dipakai oleh Nabi kita Muhammad SAW. Nggak ada kata lebih baik dipilih kecuali kata yang digunakan oleh Nabi Muhammad SAW,” ungkapnya. (10/11).

Lantas, bagaimana idealita Revolusi Akhlak ditengah realitas mental rakyat dan terutama pemimpinnya yang jauh dari Akhlak Rasulullah Saw ?

Inilah tantangan revolusi akhlak. Gerakan ini jelas akan bertentangan dan berbenturan dengan rezim yang bermental pendusta, ingkar dan khianat. Padahal, tiga sifat ini (pendusta, ingkar dan khianat) bertentangan dengan akhlak Rasulullah Saw yang terkenal jujur, terpercaya dan amanah. Rezim ‘Ruwaibidhoh’ yang jahil tentu bertentangan dengan akhlak Rasulullah Saw yang Fathonah (cerdas).

Apalagi, jika ditilik dari sistem tata kelola pemerintahan yang ada, sangat jauh dari akhlak Rasulullah Saw. Saat Rasulullah Saw memimpin Daulah Islam di Madinah, akhlak Al Qur’an bukan hanya diterapkan pada pribadi Rasulullah Saw, melainkan juga diterapkan sebagai konstitusi dan perundangan Negara.

Rasulullah Saw menghukum pezina dengan dirajam, memotong tangan pencuri, memimpin jihad fi Sabilillah, membagikan harta, menyantuni fakir miskin, mengelola harta zakat, mengirim utusan ke berbagai penguasa untuk menyeru kepada Islam, mengadakan perjanjian damai dan menyatakan perang, dan seterusnya.

Sementara akhlak rezim saat ini ? Menelantarkan fakir miskin, menerapkan hukum warisan penjajah Belanda,  membiarkan aseng dan asing baik komunisme China dan kapitalisme Amerika merampok negeri ini, mengutus Menkeu ke berbagai negara untuk cari utang, tak ada dakwah Islam yang ada hanyalah seruan untuk membangun infrastruktur.

Jelas ada gap yang menganga antara realitas dan idealitas, antara mental rezim yang ada dengan akhlak Rasulullah Saw yang diperjuangkan. Karena itu, revolusi akhlak sudah pasti akan mendapatkan tantangan tersendiri.

Revolusi akhlak bertujuan pada terwujudnya keadilan, berlakunya hukum Allah SWT. Sementara mental yang ada, masih terus berbuat zalim dan menerapkan hukum jahiliah.

Revolusi akhlak tak mudah, tapi ini adalah revolusi yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw, karenanya segenap umat Islam wajib mendukungnya. Revolusi akhlak adalah jembatan menuju ketundukan manusia pada hukum Allah SWT. [].

News Feed