oleh

Ramadhan, Buahkan Umat yang Bertaqwa

Oleh: Anindita Ekaning Saputri, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Maslahat Umat | Sebuah kebahagiaan tiada tara karena Allah memberi kesempatan pada kita untuk bertemu dengan bulan yang penuh dengan keberkahan ini meskipun masih di tengah pandemi. Ramadhan adalah bulan istimewa, di dalamnya diwajibkan atas kita berpuasa. Ramadhan adalah bulan yang bertabur dengan penuh pahala.

Ramadhan juga merupakan bulan pengampunan atas dosa-dosa kita. Bulan yang di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan Ramadhan pulalah ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, itulah lailatul qadar. Bulan yang di dalamnya Allah menurunkan Al-Qur’an, sebuah pedoman hidup manusia, yang menjadi sumber kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Oleh sebab itu, dengan datangnya bulan yang penuh berkah ini, semestinya kita berbahagia menyambutnya, mempersiapkan diri untuk menunaikan segala amalan terbaik di bulan yang luas biasa baik. Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi: “Semua amal manusia adalah bagi mereka sendiri. Kecuali puasa Ramadhan karena sesungguhnya puasa Ramadhan itu milik-Ku. Aku sendiri yang akan memberikan pahala kepadanya tanpa lewat siapa pun (tidak bisa diukur seberapa besar pahalanya dan tidak bisa dipertanyakan).’’ Hal itu diperkuat dengan beberapa pernyataan Rasul bahwa amalan manusia yang baik akan mendapat ganjaran 10 hingga 700 kali lipat pada bulan Ramadhan dan berlaku untuk amalan apapun.

Sekalipun Ramadhan kali ini masih dalam kondisi di tengah pandemi, tapi tidak menyurutkan semangat kita untuk senantiasa menghidupkan malam-malam penuh pahala, mulai dari membaca Al-Qur’an, berpuasa, menunaikan shalat tarawih dan senantiasa memaksimalkan ibadah-ibadah yang lain. Terutama terkait masalah hati.

Hati merupakan pusat pandangan Allah. Seseorang tidaklah dipandang dari ukuran fisiknnya, melainkan dari hatinya. Semakin bersih hati seseorang, semakin cinta Allah pada orang itu. Dalam sebuah hadits Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada penampilan fisik kalian, akan tetapi Allah melihat pada hati kalian.” (HR Muslim)

Jika tempat tinggal ibarat rumah bagi jasad kita, maka hati adalah rumah bagi jiwa kita. Hati yang baik dan bersih akan membawa kita pada kebaikan dan kemanfaatan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan. Sebaliknya hati yang rusak akan merusak ibadah dan kebaikan di bulan Ramadhan itu sendiri. Apalah arti kemuliaan bulan Ramadhan, jika hati belum dibersihkan. Hati yang sudah bersih akan mampu menerima sinyal-sinyal ketuhanan lebih kuat dan dahsyat selama bulan Ramadhan, kemudian memancarkannya pasca Ramadhan hingga tahun-tahun berikutnya.

Memasuki Ramadhan kali ini, tentu kita berharap puasa kita benar-benar bisa mewujudkan ketakwaan hakiki pada diri kita, sebagaimana yang Allah SWT kehendaki: “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).

Lalu apa yang disebut dengan takwa? “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut terhadap perkara apa saja yang telah Allah haramkan atas diri mereka dan melaksanakan perkara apa saja yang telah Allah titahkan atas diri mereka.” (Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân li Ta’wîl al-Qur’ân, I/232-233).

Orang bertakwa itu yang mengimani yang gaib, mendirikan shalat, menginfakkan sebagian harta, mengimani Al-Qur’an dan kitab-kitab yang Allah SWT turunkan sebelumnya dan meyakini alam akhirat (QS al-Baqarah [2]: 1-4). Orang bertakwa juga biasa menginfakkan hartanya pada saat lapang ataupun sempit, mampu menahan amarah, mudah memaafkan kesalahan orang lain, jika melakukan dosa segera ingat kepada Allah SWT dan memohon ampunan-Nya serta tidak meneruskan perbuatan dosanya (QS Ali Imran [3]: 133-135). Tentu masih banyak ciri/sifat orang bertakwa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun Hadits.

Dengan demikian, jika memang takwa adalah buah dari puasa Ramadhan, idealnya usai Ramadhan, setiap Mukmin senantiasa berupaya menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Tentu dengan mengamalkan seluruh syariah-Nya baik terkait akidah; makanan, minuman, pakaian dan akhlak; muamalah (ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, sosial, budaya dan lainnya).

Bukan takwa namanya jika seseorang hanya mengambil sebagian dari sebagian yang lain, memilih perintah dan larangan. Bukan takwa namanya jika seseorang biasa melakukan shalat, berpuasa di bulan Ramadhan atau bahkan menunaikan ibadah haji; sementara ia masih biasa memakan riba, meminum khamr, melakukan suap dan korupsi, itu artinya ia tidak memeluk Islam secara kaffah.

Meraih takwa tak hanya melalui puasa, Di dalam Al-Qur’an sendiri tak hanya ayat tentang kewajiban puasa yang diakhiri dengan frasa; agar kalian bertakwa. Di dalam beberapa ayat lain Allah SWT juga berfirman, antara lain: “Hai manusia, beribadahlah kalian kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (TQS al-Baqarah [2] 21).

“Bagi kalian, dalam hukum qishash itu ada kehidupan, wahai orang-orang yang memiliki akal, agar kalian bertakwa.” (TQS al-Baqarah [2]: 179).

Berkaitan dengan ayat-ayat di atas jelas tak cukup dengan puasa orang bisa meraih derajat takwa. Ibadah, pelaksanaan hukum qishash serta keberadaan dan keistiqamahan kita di jalan Islam dan dalam melaksanakan seluruh syariat Islam lah yang bisa mengantarkan diri kita meraih derajat takwa.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita di bulan Ramadhan ini memaksimalkan diri untuk berjuang menegakkan Islam kaffah sebagaimana meraih derajat takwa yang sejati. Dan sambutlah Ramadhan kali ini dengan suka cita dan berharap bisa menjalankannya dengan sebaik-baiknya yang akan menghantarkan kita pada derajat takwa.[]

 

News Feed