oleh

Polemik Konten Promosi Pernikahan Dini

Oleh: Tiara Mailisa, Alumni Universitas Lampung

Maslahat Umat | Beberapa waktu lalu publik diramaikan dengan perbincangan terkait wedding organizer (WO) bernama Aisha Wedding yang mempromosikan pernikahan dini dan layanan nikah siri. Sontak kejadian ini menimbulkan respon, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Promosi pernikahan dini yang menganjurkan perkawinan anak di usia 12-21 tahun ini dinilai bertentangan dengan hukum.

Dikutip dari KOMPAS.com, Kamis (11/2/2021), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menilai, Aisha Weddings telah melanggar Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dalam peraturan itu, disebutkan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun. Selain itu, mereka juga melanggar Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan, dengan batas usia yang tercantum adalah 19 tahun untuk laki-laki dan perempuan.

WO Aisha Wedding juga dianggap telah mengabaikan imbauan pemerintah yang sedang intensif menggalakkan Gerakan Bersama Pencegahan Perkawinan Anak hingga ke tingkat desa. Isu penurunan angka perkawinan anak menjadi salah satu dari lima isu prioritas arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Kementerian PPPA. Selain itu, pernikahan anak di bawah umur disinyalir dapat menimbulkan dampak psikologi, kesehatan dan sosial.

Padahal pemerintah Indonesia bersama United Nations Population Fund (UNFPA) telah menandatangani Rencana Aksi Program Kerja Sama atau Country Programme Action Plan (CPAP) 2021-2025 senilai USD 27,5 juta. CPAP RI-UNFPA 2021-2025 memuat program-program yang bertujuan untuk mencapai lima sasaran utama, yaitu penurunan angka kematian ibu, penyelenggaraan kesehatan ibu dan Keluarga Berencana yang terintegrasi, peningkatan potensi anak muda dan kespro remaja, penurunan kekerasan dan praktik-praktik berbahaya terhadap perempuan dan anak, serta data kependudukan yang terintegrasi.

Alih-alih memperkenalkan dan memfasilitasi pernikahan sesuai syariat Islam, apa yang telah dilakukan oleh WO Aisha Wedding dalam mempromosikan pernikahan dini dan layanan nikah siri ini justru menjadi celah bagi aktivis sekuler untuk menyerang syariat pernikahan dan mengampanyekan larangan pernikahan dini. Media ramai-ramai memberitakan kejadian ini dan tidak sedikit pula masyarakat yang akhirnya terprovokasi.

Belum lagi munculnya opini-opini berupa cap negatif atas pernikahan dini sebagai penyebab terjadinya KDRT dan tingginya perceraian serta merampas hak-hak anak. Seolah-olah usia menjadi standar keberhasilan dalam suatu pernikahan. Lalu dengan adanya larangan pernikahan dini, apakah memang menjadi solusi atau bahkan justru memicu permasalahan lain seperti seks bebas?

Sudah fitrannya manusia memiliki gharizah an-nau’ (naluri berupa kasih saying). Terlebih lagi di kehidupan sekuler yang menganut paham kebebasan saat ini yang tidak ada batasan interaksi dengan lawan jenis, tontonan yang dapat mengundang nafsu syahwat, kebebasan berpakaian yang tidak menutup aurat dan kebebasan lainnya yang justru memicu timbulnya rangsangan gharizah an-nau’.

Sesungguhnya kehidupan sekulerlah yang bertanggung jawab atas ketidakmampuan para anak dan remaja dalam menjaga ‘izzah (kemulian diri) dan ‘iffah (menahan diri). Para aktivis sekuler lebih sibuk mengambinghitamkan syariat pernikahan dibandingkan berupaya menghentikan arus liberalisme yang memicu pergaulan bebas dan pornografi. Tidak heran bila anak dan remaja saat ini terjerumus dalam pergaulan bebas hingga bermuara kepada pernikahan dini atau bahkan kepada seks bebas. Adanya seks bebas dapat menyebabkan penyakit kelamin dan juga memicu kasus aborsi karena adanya kehamilan di luar pernikahan yang berpeluang pada gangguan kesehatan reproduksi. Larangan pernikahan dini justru tidaklah menjadi solusi.

Di dalam Islam, pernikahan bukan persoalan usia melainkan dilihat dari kesiapannya dalam memikul beban dan tanggung jawab dalam pernikahan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dalam HR. Muslim: “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu memikul beban (rumah tangga), maka menikahlah. Karena sesungguhnya, pernikahan itu lebih menahan pandangan mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu melaksanakannya, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai (akan meredakan gejolak hasrat seksual).”

Sejatinya  dengan adanya pernikahan akan menjaga pandangan dan kemaluan manusia, menjauhkan dari perbuatan zina. Namun pernikahan bukan hal yang hanya dipandang sebelah mata. Meskipun usia tidak menjadi persoalan, namun pasangan yang akan menikah haruslah memiliki kesiapan sebelum pernikahan. Pentingnya kesiapan dalam pernikahan dikarenakan Islam memandang pernikahan sebagai perjanjian yang kuat sebagaimana Allah sebutkan dalam surah an-Nisa ayat 21. Sebagaimana perjanjian yang kuat, maka pernikahan itu adalah ikatan yang sakral dan harus dijaga dengan baik.

Dalam pernikahan itu setidaknya harus memiliki kesiapan ilmu, kesiapan materi dan kesiapan fisik/kesehatan. Pasangan yang akan menikah harus paham tentang ilmu pernikahan,  bagaimana hak dan kewajiban sebagai suami/istri dan orang tua, serta bagaimana membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Pernikahan juga harus siap dari segi finansial. Karena dalam Islam suami memiliki kewajiban dalam memberi nafkah dan harus memiliki penghasilan untuk membiayai kehidupan keluarganya. Islam juga sangat memperhatikan kesiapan kesehatan bagi pasangan yang akan menikah karena salah satu tujuan pernikahan untuk melangsungkan keturunan. Maka kesehatan baik fisik maupun mental, kesehatan seksual dan reproduksi haruslah dipersiapkan.

Dalam mewujudkan kesiapan ilmu, materi serta fisik/kesehatan, tidak hanya butuh peran individunya saja namun juga peran negara. Negara seharusnya dapat mewujudkan kesiapan ilmu dengan memberikan edukasi terbaik yang dapat membentuk kepribadian mulia masyarakatnya yaitu kepribadian Islam yang mematuhi syariat termasuk syariat pernikahan.  Kesiapan finansial dengan memberikan lapangan pekerjaan dan kesiapan kesehatan dengan menyediakan serta menjamin sarana kesehatan memadai bagi masyarakat.

Segala masalah pernikahan seperti KDRT, perselingkuhan dan perceraian masyarakat hakikatnya dikarenakan masyarakat sekuler tidak memahami tujuan pernikahan sebenarnya yang memandang pernikahan hanya tentang pemenuhan seks serta materi. Sesungguhnya yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah edukasi utuh tentang syariat pernikahan. Solusi permasalahan ini akan terwujud ketika syariah Islam diterapkan secara kaffah.

Hanya dengan menerapkan syariah secara kaffah maka akan terwujud masyarakat yang edukatif, lingkungan sosial yang mendukung untuk menjaga masyarakat dari kerusakan moral, kemakmuran ekonomi dan tegaknya hukum yang adil.  Pemberlakuan penerapan syariah kaffah akan menyadarkan masyarakat bahwa sekularisme yang sesungguhnya menjadi sumber permasalahan dalam hubungan sosial dan pernikahan sehingga akan mengakhiri serangan terhadap syariat pernikahan.  Wallahu ‘alam bishawab.[]

 

 

 

 

 

News Feed