oleh

PKS, Anies Matta, Fahri Hamzah dan Sebuah Jawaban

Oleh: Yons Achmad | Kolomnis

Maslahat Umat | Agustus 2015, semuanya berubah bagi Anis Matta, Fahri Hamzah dan para pengikutnya. Tak dinyana pemilihan ketua majelis syuro dan presiden partai tak seperti dugaan mereka. Upaya menguasai partai secara total berbuah kegagalan total.

Jauh sebelum dilaksanakan pemilihan KMS dan presiden partai, diadakan lebih dulu pemira, untuk mengetahui suara kader PKS, hasilnya mayoritas ingin Anis Matta lanjut sebagai presiden partai, ada suara juga menginginkan AM sebagai ketua majelis syuro. Muncul suara-suara untuk mengganti KMS saat itu ustad Hilmi Aminudin.

Tak disangka Habib Salim mendapatkan suara tertinggi dan menjadi KMS, lalu ustad Hidayat Nur Wahid menjadi wakil. KMS punya hak prerogative untuk menunjuk presiden partai. Disnilah keringat mengucur keras dari kening AM, berulang kali keluar masuk ruang syuro. Dan yang ditakutkan AM terjadi, Habib Salim memilih Sohibul Iman sebagai presiden PKS 2015-2020.

Sohibul Iman bukan orang baru di PKS, termasuk intelektual PKS seperti halnya Zulkiflimansyah yang kini menjadi gubernur NTB. Kurang terasa aroma politis, bahkan masih banyak kader yang belum mengenal beliau saat itu. Sebagai rasa hormat kepada ustad Hilmi, beliau diberikan kesempatan memilih sekjen.

Ustad Hilmi menyampaikan, agar tidak ada friksi kedepan, sekjen dipilih adalah Taufik Ridho, dengan pertimbangan dekat dengan Anis cs. Semacam pembagian kekuasaan agar Anis cs tidak merasa ditinggalkan, hal yang sangat bijak dari seorang Ustad Hilmi.

Pada saat diumumkan Sohibul Iman sebagai presiden PKS selanjutnya, ada penolakan dari Triwicaksana, mengatasnamakan kader Jakarta, namun penolakan itu langsung dibantah oleh ustad Abu Ridho.

Pasca itu semua berjalan biasa, walau ada nada sumbang dari para pendukung Anis Matta. “PKS telah dikuasai liberal” begitu tuduhan mereka, berpijak pada fakta bahwa Sohibul Iman adalah mantan rektor universitas paramadina sepeninggal Nurcholis Madjid, yang pasca Sohibul Iman dilanjutkan oleh Anies Baswedan.

Namun tuduhan liberal itu relatif tidak mempan. Pada akhir 2015 ramai kasus sadapan freeport yang melibatkan Setya Novanto. Akibatnya Setnov digoyang dan lengser dari kursi ketua DPR digantikan oleh Ade Komarudin.

Dalam kasus setnov ini, Fahri Hamzah berkali-kali membela setnov. Hal ini membuat presiden PKS buka suara dan beda suara dengan Fahri Hamzah. Sohibul Iman secara tegas mendukung langkah-langkah untuk menginvestigasi setnov. AKhirnya FH dipanggil KMS, tidak ditemukan komitmen untuk seirama dengan langkah partai, akhirnya FH dipecat.

Namun dengan koneksinya yang kuat di DPR dan bantuan jaringan AM di dalam struktur PKS, FH berhasil bertahan sampai akhir 2019. Dari kasus setnov dan pemecatan FH dari PKS inilah kubu AM melihat ada peluang melengserkan Sohibul Iman dari kursi presiden PKS.

FH mengguagat pimpinan PKS atas pemecatan dirinya dan meminta ganti rugi 30 miliar yang alasannya nanti uang tersebut akan diberikan ke pengurus PKS di seluruh Indonesia. Dengan segala sumber daya yang dimiliki FH menang. Berharap internal PKS goyang dan MSI (Mohammad SOhibul Iman) segera diganti, namun Allah berkehendak lain, MSI tetap sebagai presiden partai dan didukung penuh oleh KMS.

Di tahun 2016 inilah AM mulai melakukan banyak daurah gelap (amniyah) untuk menggembosi struktur PKS sekaligus mengkonsolidasikan kekuatan nantinya menjadi Garbi dan Gelora. Daurah gelap berlangsung di hampir seluruh propinsi, bahkan ad ayang diajak jalan-jalan ke Turki. Strategi ini bocor karena tidak semua peserta setuju dengan gerakan ini. Salah satu yang sering disampaikan dalam daurah dan juga disampaikan ke kader-kader di bawah adalah underkapasitas MSI dalam memimpin partai dan juga PKS akan koalisi dengan Jokowi lalu masuk istana.

Kedua hal tersebut sekarang ini alhamdulillah tidak terbukti. Coba ingat bagaimana menjelang pemilu 2019, garbi dideklarasikan. Timing-nya jelas untuk mengganggu proses kampanye PKS untuk pileg 2019. Isu yang digunakan adalah PKS tidak akan lolos ke DPR, beberapa aleg goyang dan akhirnya meski sudah dapat nomor urut memilih untuk mundur dari PKS dan deklarasi garbi.

Lalu sebulan menjelang pencoblosan, berkali-kali Fahri Hamzah menuduh PKS dekat dengan Jokowi. Bahkan dengan sangat percaya diri di depan media nasional mengatakan bahwa dirinya dipecat PKS, karena desakan istana, karena PKS ingin koalisi dengan Jokowi. Tujuannya jelas untuk mendowngrade suara PKS dengan aharapan PKS tak lolos parliamentary threshold.

Hasil pemilu berkata lain, suara PKS naik dari 40 kursi menjadi 50 kuris, bahkan harusnya bisa lebih. PKS mendapatkan 11.493.663 atau 8,21 persen suara. Sementara, perolehan suara partai PKS pada 2014 sekitar 6,79 persen atau 8.480.204 suara.

Alhamdulillah, Allah SWT Maha Adil Maha Tahu, semua dibuka oleh Sang Sutradara Sang Pemilik alam semesta. Akhirnya setelah AM dan FH mendeklarasikan partai Gelora, mereka resmi mendukung Gibran putra Jokowi di pilkada solo dan Bobby Nasution menantu Jokowi.

Demikian, semoga membantu umat dan kader PKS untuk mantap berjuang. Selalu ada jalan pulang saudaraku, akan kami terima dengan tangan terbuka, salam..

News Feed