oleh

Perpres RAN PE: Berbahaya dan Memecah Belah Umat Islam

Oleh: Jubaidah Yusuf | Aktivis Dakwah di Kota Depok

Maslahat Umat | Terbitnya Perpres Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) dianggap berbahaya dan dapat memecah belah kaum Muslim karena ada kemungkinan persekusi terhadap para tokoh, aktivis, ajaran Islam dan juga simbol-simbol Islam akan semakin gencar dilakukan. Adannya potensi tumpang tindih dengan undang-undang  lainnya seperti UU Ormas, UU terorisme yang pada akhirnya terkesan UU ini saling balap.

Kemudian juga RAN PE ini akan menimbulkan sikap reaktif dalam masyarakat, siapa saja yang dianggap terpapar radikalisme akan dipecat. Pada akhirnya perpres ini justru memberangus kebebasan (bertentangan dengan HAM) karena dianggap menyelewengkan atau melarang orang-orang untuk berkeyakinan. Bukan tidak mungkin akan menimbulkan konflik horizontal dan memecah belah sehingga timbul aksi ektremisme antar umat akibat saling curiga.

Timbulnya konflik karena dalam lampiran perpres disebutkan adanya optimalisasi peran pemolisian masyarakat dalam pencegahan ektremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme. Selain itu tidak dijelaskan apa itu konsep pemolisian masyarakat yang dimaksud. Apabila yang dimaksud dengan pemolisian masyarakat adalah community policing (menciptakan kolaborasi antara polisi/penegak hukum dan komunitas kelompok masyarakat dalam mengidentifikasi kejahatan) maka hal tersebut bisa berbahaya dan berpotensi melanggar HAM.

Karena belum ada kesepahaman baik dari rujukan UU yang ada maupun kesepakatan pembahasan di DPR mengenai istilah ektremisme, dikhawatirkan adanya kelompok yang gampang sekali dicap ekstrem, padahal mereka hanya ingin menjalankan ajaran agamanya atau mereka diframing melakukan tindakan ekremisme atau karena individu/kelompok tersebut berseberangan kelompok politik maupun sosial yang satu kubu dengan pemerintah.

Inilah yang perlu diwaspadai oleh umat, jangan sampai RAN PE ini justru menjadi pasal karet dan pada akhirnya masyarakat lebih gencar main hakim sendiri atau saling melapor tanpa adanya bukti yang jelas terhadap warga masyarakat karena dugaan atau penilaian sepihak melakukan ektremisme. Selain itu, jika yang disampaikan ataupun didakwahkan berseberangan dengan keinginan rezim yang berkuasa, bukan tidak mungkin akan adanya aksi penangkapan aktivis atau siapapun yang vokal mendakwahkan Islam kaffah.

Indonesia adalah negara hukum sebagaimana dijamin dalam pasal 1 ayat 3 UUD NKRI 1945 harusnya menjadi acuan salah satu prinsip negara hukum adalah due process of law (adanya proses hukum berkeadilan) sehingga segala celah yang dapat memungkinkan adanya tindakan main hakin sendiri harus ditutup secara rapat.

Sesungguhnya urgensitas RAN PE ini tidak ada. Kenapa? Penentuan atau disahkannya suatu hukum baru harus dilihat sejauhmana pentingnya bagi kemaslahatan umat atau seberapa daruratnya keadaan umat saat itu. Melihat situasi Indonesia saat ini jika dikaitkan dengan konsep ‘community policing’ justru lebih tepat digunakan untuk mengawasi berbagai skandal yang dilakukan oleh pemangku jabatan yang bertugas mengatur urusan umat seperti mengawasi penyaluran bantuan sosial (bansos), korupsi jiwasyara, korupsi BPJS Ketenagakerjaan dan dugaan korupsi terkait dana bantuan untuk penyandang disabilitas dan kasus-kasus korupsi yang menggerogoti bangsa ini. Kasus-kasus tersebut jauh lebih penting untuk diawasi oleh masyarakat atau warga di lapangan yang menerima bantuan ketimbang saling mencurigai.

Perihal radikalisme, siapa yang radikal dan perbuatan mana yang dianggap radikal. Hasil penelitian PP MUI dengan Kemenag justru memberi sinyal bahwa tidak ada masalah terkait hubungan antar umat beragama. Masalah utama negeri ini bukan radikalisme/ektremisme melainkan ketimpangan sosial, ketidakadilan dan lainnya.

Rezim telah salah mendiagnosa persoalan utama bangsa ini. Daniel Pipes mengatakan bahwa “Tujuan jangka pendek dari perang ini adalah untuk menghancurkan umat Islam militan sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk mederenisasi Islam.” Lalu agenda dan strategi untuk menghancurkan umat Islam adalah:  Pertama, upaya umat Islam untuk kembali kepada kemurnian ajaran Islam setelah periode keterbelakangan dan ketidakberdayaan dunia Islam sangat panjang dipandang sebagai suatu ancaman bagi Barat terhadap peradaban dunia modern dan bisa mengantarkan kepada clash of civilization (benturan peradaban)

Kedua, agar tidak menjadi ancaman, dunia Islam harus dibuat ramah terhadap demokrasi dan moderenitas serta mematuhi aturan-aturan internasional untuk menciptakan perdamaian global. Ketiga, diperlukan pemetaan kekuatan dan pemilahan kelompok Islam untuk mengetahui siapa kawan dan siapa lawan bagi Barat. Mana yang ingin diperkuat, siapa yang dijadikan anak didik, serta pengaturan strategi bagi pengelolaan sumber daya yang ada di dunia.

Bagaimana sikap umat Islam? Jika dilihat dari tujuan RAN PE ini tidak terlepas dari yang namanya politik adu domba dan juga pecah belah umat. Siapa yang menjadi petugas dan siapa yang menjadi objek yang diserang. Untuk itu tugas pertama yang harus dilakukan adalah umat harus gencar mengkritisi Perpres RAN PE ini, umat harus menyadari bahwa RAN PE ini sangat berbahaya, maka perlu dikritik dan juga lembaga-lembaga seperti ormas harus lebih aktif dan tidak boleh tinggal diam. Bisa jadi RAN PE ini justru hasilnya berbalik dari tujuan utamanya untuk menccgah ektremisme malah memicu timbulnya ektremisme itu sendiri.

Jika melihat latar belakang dan tujuan dibuatnya Perpres RAN PE ini jelas berpotensi menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat. Langkah praktis dan bentuk antisipatif pemerintah justru mengoyak persatuan bangsa. Bukannya menghasilkan kedamaian justru akan menimbulkan konflik baru karena rasa saling mencurigai, hingga hilangnya rasa kepercayaan di antara masyarakat.

Sementara itu, Islam tegas melarang perbuatan memata-matai. Imam Abu Hatim al-Busri rahimahullah berkata, “Tajassus (memata-matai) adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik pada saudaranya dan tidak mampu membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita.” (Raudhah al-Uqala’, hlm. 131)

Lalu dalam firman Allah SWT dalam Qur’an Surah al-Hujurat ayat 12 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berrasangka dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.

Bahkan dalam Islam, diajarkan untuk memastikan kebenarannya dari setiap informasi yang disampaikan media. Allah SWT  berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti, agar kalian tidak menimpakan suatu musibah atas suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.” (QS Al-Hujurat:6)

Apalagi tindakan memata-matai yang dilakukan negara pada rakyatnya sendiri, tentu akan berakibat buruk pada masyarakat dan menghilangkan kepercayaan rakyat pada pemerintah. Rasulullah SAW bersabda,”Ssungguh seorang amir (pemimpin) akan mendurhakai rakyatnya bila ia memburu kecurigaan pada mereka.” (HR Abu Daud dari Abu umamah).

Umat Islam harus segera menyadari, kafir penjajah mengerahkan segenap potensi yang ada untuk memusnahkan akidah dan sistem Islam serta menggantikannya dengan sekularisme. Salah satu upaya mereka adalah dengan terus mencitraburukkan ajaran Islam secara sistematis melalui kaki tangan penguasa dengan melakukan propaganda yang mengaitkan  Islam dengan terorisme, fundamentalisme, ektremisme dan berbagai sebutan yang menghinakan dan menyudutkan umat Islam. Tujuannya untuk memberangus Islam sebagai sebuah ideologi dengan kekuatan politiknya, melanggengkan penjajahan dan sekularisme beserta antek-anteknya yang berkuasa di setiap negeri Islam.

Namun, segala cara yang dilakukan kafir penjajah tidak akan pernah berhasil. Allah SWT berfirman, “sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka pun telah mengadakan makar. Lalu Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.” (QS an-Nahl:26).[]

 

News Feed