oleh

Perkumpulan Betawi Kita Luncurkan Buku Kumpulan Cerpen “Rumah Ini Punya Siapa?”

JAKARTA | Maslahat Umat | Sastra Betawi kurang banyak dikenal masyarakat luas. Padahal, karya sastra ini merentang dalam waktu cukup panjang. Sastra Betawi tidak hanya ditulis oleh penulis berdarah Betawi, tetapi juga penulis dari etnik lainnya yang memiliki keterkaitan dengan Kota Jakarta— sebagai tempat mukim orang Betawi. Dengan mengenal karya sastra Betawi dengan sendirinya akan lebih memberikan gambaran perihal etnik Betawi, baik manusia maupun kotanya.

Dikatakan Roni Adi, Ketua Perkumpulan Betawi Kita, sebenarnya jika dicermati, tradisi bersastra sudah ada lama dalam masyarakat Betawi. Misalnya dalam upacara palang pintu, tampak adanya berbalas pantun. Ada pula sohibul hikayat atau seni bertutur berupa pantun berkait. Jenis sastra lisan Betawi ini memiliki keindahan dalam cara pengungkapan yang lekat dengan agama Islam. Sementara teater tradisional jantuk kental dengan syair-syair yang kental dengan jejak Melayu.

Seni tulis paling tua ditemukan dalam karya Muhammad Bakir, seorang penyalin dan pengarang yang menyewakan naskah-naskahnya pada abad ke-18. Karya Bakir ditulis dalam tulisan Arab berbahasa Melayu. Setelah itu, Aman Dt Madjoindo memberi warna dalam khazanah sastra Betawi modern melalui Si Dul Anak Betawi (1936).

Di era kini, kita mengenal penulis berdarah Betawi seperti Ridwan Saidi, Abdul Chaer, Yahya Andi Saputra, Chairil Gibran Ramadan dan Zen Hae. Di era sebelum mereka, terdapat Firman Muntaco, Mahbub Djunaidi dan SM Ardan. Bahkan Firman Muntaco dan SM. Ardan disebutsebut memberikan dasar yang sangat baik dan fundamental mengenai apa yang disebut sebagai sastra Betawi sekarang ini. Namun demikian, sejak sepuluh tahun terakhir, bisa dikatakan perkembangan sastra Betawi terasa mandeg. Tak ada karya-karya baru yang diterbitkan serta tak ada nama baru yang mencorong sebagai pengarang sastra Betawi.

Beberapa penulis Betawi sebenarnya sudah mencoba bergerak, menulis tentang kampungnya, tapi suara mereka tampak sayup-sayup. Sebagian besar tak terdengar karena minimnya publikasi. Persoalan lain, ketika lomba digalakkan untuk menggairahkan dunia kepenulisan, tampak sebagian penulis agak kedodoran menggarap tema yang disodorkan, baik dalam rangkaian bangun cerita, menentukan konflik, hingga mengarap dialog yang terasa nyata dan sesuai.

Meskipun sepertinya regenerasi penulis sastra Betawi dirasakan mandeg sejak sepuluh terakhir ini, namun kita patut bergembira karena sebuah buku kumpulan cerpen berjudul   “Rumah Ini Punya Siapa?” karya Fadjriah Nurdiarsih, seorang penulis perempuan Betawi kelahiran Kebagusan, Jakarta Selatan telah terbit di tengah masa sulit pandemi Covid-19, tepatnya pada pertengahan Desember 2020 lalu.

Dalam kumpulan cerpennya, Mpok Iyah, sapaan akrab Fadjriah Nurdiarsih, mencoba untuk membawa Betawi kembali bergema di jagad sastra. Secara apik ia berhasil menyelipkan kata-kata khas yang umum digunakan dalam pergaulan masyarakat Betawi. Dalam 20 cerita pendek yang dibukukan menjadi 175 halaman ini, juga mengangkat problem sosial masyarakat Betawi. Ia menyajikan dengan ringan alur drama keseharian yang terjadi di kehidupan masyarakat Betawi.

Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, Perkumpulan Betawi Kita memandang perlu untuk memberikan apresiasi terhadap penerbitan buku ini dengan mengadakan kegiatan “Mimbar Sastra : Peluncuran Sekaligus Bedah Buku Kumpulan Cerpen “Rumah Ini Punya Siapa?” karya Fadjriah Nurdiarsih”,  Jum’at (22/1/ 2021), secara daring sekaligus penyerahan sumbangan buku kepada pegiat literasi Betawi, Lembaga Kebudayaan Betawi dan perpustaan-perpustakaan umum daerah yang ada di lingkungan Dinas Perpustakaan & Kearsipan Provinsi DKI Jakarta.

Acara ini bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta dan didukung penuh oleh PT Jakarta Propertindo (JakPro), Lembaga Kebudayaan Betawi, Forum Jurnalis Betawi dan Yayasan Baca Betawi. (des)

 

News Feed