oleh

Perbaiki Akhiratmu, Maka Dunia Akan Ikut

Diasuh oleh: Ustadz Faisal Kunhi MA

Maslahat Umat | “Perbaiki akhiratmu maka dunia akan ikut baik dan perbaikilah batinmu maka zahirmu akan mempesona. (Umar bin Abdul Aziz)”

Seseorang yang memperbaiki akhiratnya ia di umpamakan seperti orang yang menanam padi, maka rumputpun ikut dia dapat, sedangkan mereka yang orientasi hidupnya hanya dunia, maka seperti orang yang menanam rumput, dimana ia tidak mendapatkan padi.

Ust Hasan Haikal dalam sebuah ceramahnya bersama AA Gym di masjid Darut Tauhid, ia berkisah tentang gurunya yang mengatakan
“kalau kita beli kambing maka kita akan dapat tali, tetapi kalau kita beli tali, maka kita tidak akan dapat kambing.

Begitulah perumpamaan mereka yang tidak menjadikan dunia sebagai ladang untuk akhirat.”

Dunia berasal dari kata danaah yang artinya kehinaan, maka menjadikan dunia sebagai tujuan utama tanpa menghubungkannya dengan akhirat, maka sama saja dengan mengejar kehinaan.

Allah berfirman : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77).

Maka siapapun saja yang ingin sukses dan berkah urusan dunianya, maka hendaklah ia perbaiki urusan akhiratnya.

Syaik Sudais hafizahullah berkata: “Jika hidupmu di rundung oleh kesulitan, maka lihatlah shalatmu, yang kedua lihatlah bagaimana interaksimu dengan Al Quran dan lihatlah bagaimana baktimu dengan orang tuamu.”

Kejarlah dunia dengan selalu shalat berjamaah di masjid, selalu membaca al Quran setiap hari, selalu shalat dhuha setiap hari dan membuat jadwal untuk bisa shalat tahajjud, minimal satu bulan 3 kali kita jadwalkan shalat malam.

Lalu jika ada seseorang yang bertabur nikmat Allah kepadanya, sedangkan dia adalah seseorang yang suka bermaksiat, maka ketahuilah yang ia dapat ketika itu bukan nikmat tetapi ia sedang mendapatkan istidraj, yaitu Allah memberinya tetapi untuk menjatuhkannya.

Ketahuilah setiap nikmat yang tidak dibarengi dengan rasa syukur dan ta’at maka ia menjadi sebuah petaka dan musibah.

Selanjutnya Umar bin Abdul Aziz mengatakan: “Perbaikilah batinmu ,maka mempesonalah lahirmu”, saya akan coba menjelaskan perkataan yang sarat akan hikmah ini.

Seseorang yang berusaha untuk selalu membersihkan hatinya dari penyakit hati, seperti ria, takabbur, ujub, dendam dan lain sebagainya maka kita tidak bosan menatap wajahnya, setiap kali memandang wajahnya, selalu membuat kita ingat akan Allah, sedangkan seseorang yang hatinya selalu diisi oleh dendam kesumat, maka wajahnya tidak akan pernah enak dilihat walau ia tampan ataupun cantik.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Hadist ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah sangat memperhatikan inner beauty dalam diri seorang muslim, sebagus apapun tampilan luar, jika isinya tidak berbobot maka ia tidak akan bernilai disisi Allah, sebagaiman sebuah botol jika ia berisi air putih, maka ia akan di hargai Rp 4000, jika berisi madu ia bisa di hargai Rp 100.000 dan jika diisi air comberan, maka ia tidak akan berharga.

Namun Islam adalah agama yang tawazun (seimbang), dimana ia tidak hanya memperhatikan keindahan hati, tetapi ia juga memerintahkan kita untuk membersihkan fisik, karena dari tubuh yang kotor tidak akan tercipta hati yang bersih. Karenanya Allah berfirman dalam surat al Mudatsir ayat 4 “Dan bajumu bersihkanlah‘

Allah itu indah dan menyukai keindahan, demikianlah sabda Rasululullah ketika ada seseorang yang bertanya kepadanya tentang seseorang yang baju dan sendalnya bagus. Bahkan nabi saw pernah menegur seseorang yang memakai baju robek, seraya berkata:
Punya kah engkau baju yang bagus?Sesungguhnya Allah jika memberikan nikmat, maka ia suka melihat bekas nikmatnya itu.

News Feed