oleh

Peran Ulama Menentang Kezaliman dan Menolak Arus Moderasi

Oleh: Nama: Sari Putri | Mahasiswa Universitas Gunadarma

Maslahat Umat | Kezaliman yang terus menghantam kaum Muslim di negara ini tidak pernah ditangani dengan benar. Semakin hari semakin banyak peristiwa yang berujung menyudutkan Islam dan kaum Muslim. Akhir-akhir ini banyak peristiwa yang sangat tidak mencerminkan pribadi seorang Muslim yang seharusnya tetapi mengaku melakukan hal tersebut atas dasar Islam. Fitnah pun menghampiri kaum Muslim dengan alasan pelaku perbuatan keji tersebut dilakukan oleh kelompok Muslim.

Pemberitaan buruk pun menghantui, hampir di seluruh media dan platform dapat kita temui. Efek pemberitaan yang terus-menerus tidak hanya membuat kecurigaan bahkan memecah belah kaum Muslim itu sendiri. Bukan mengutuk perilaku keji individunya melainkan agamanya. Menjadikan alasan bahwa selama ini pelaku teroris beridentitas Muslim, tetapi mereka melupakan perbuatan keji yang dilakukan oleh selain Muslim dan mengabaikan identitasnya.

Mereka pun beranggapan bahwa teroris adalah penganut ekstrim radikal yang terlalu mendalami agama Islam sehingga menyimpulkan bahwa moderasi adalah solusinya, yaitu mengambil jalan tengah dalam berislam menggunakan Islam yang modern yang relevan dengan perkembangan zaman. Padahal pelaku perbuatan keji tersebut bukanlah golongan yang benar dalam memahami agama atau disebut keliru, tetapi yang dicurigai adalah Muslim yang sangat menjaga syariat karena dianggap mendekati radikal.

Mirisnya terkadang Muslim pula yang berlaku demikian. Muslim di negara ini ibarat anak yang kehilangan induknya, tak ada yang mengayomi. Sementara ulamalah yang menjadi perwakilan para Muslim untuk melantangkan keadilan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah pemersatu seluruh ulama dari berbagai ormas dan seluruh Muslim dengan berbagai ormasnya, pada malam Rabu (26/11/2020), resmi mengumumkan kepengurusannya yang baru dengan periode 2020-2025. Nama Din Syamsuddin dan sejumlah ulama identik dlikaitkan dengan Aksi 212 terdepak dari kepengurusan. Nama Din digeser Ma’ruf Amin. Wakil Presiden RI itu kini mengemban jabatan Ketua Dewan Pertimbangan MUI.

Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai dominasi dan kekuatan Ma’ruf Amin di MUI sangat kentara. Membuka dugaan kuat campur tangan pemerintah di payung besar para ulama tersebut. “Bisa dikatakan ada semacam campur tangan karena Ma’ruf Amin kan wapres. Tentu pemerintah ingin majelis ulama dalam kendali. Sehingga kekritisannya akan hilang dan bisa dikendalikan,” ujar Ujang kepada CNNIndonesia.com, Jumat (27/11). Namun, dilansir dari detikNews (28/11/2020) Din juga mengklarifikasi bahwa dirinya bukan anggota 212.

“Saya pribadi tidak terlibat pada gerakan 212. Dan saya tidak masuk dalam kepengurusan baru adalah karena saya tidak bersedia. Sebelum Munas MUI, saya sudah sampaikan di dalam Rapat Pleno terakhir Dewan Pertimbangan MUI pada 18 November 2020 bahwa saya ingin berhenti dari keaktifan MUI,” kata Din kepada wartawan, Jumat (27/11). Meski demikian Din kerap kali terlihat mengkritik pemerintah jika menyimpang.

Kemudian dilansir dari CNN Indonesia, Wakil Ketua Komisi VIII DPR, yang memiliki ruang lingkup tugas bidang keagamaan, Ace Hasan Syadzily berharap kepengurusan yang baru bisa mengedepankan Islam yang moderat.

Maka, di sinilah ulama  harusnya berperan. Ulama wajib lantang dalam menentang kezaliman dan menolak arus moderasi. Adanya dominasi dan kekuatan pemerintah yang sangat kentara di MUI harusnya menyadarkan ulama untuk mewaspadai arus moderasi yang memanfaatkan posisi mereka untuk menyesatkan umat dan memanfaatkannya untuk kepentingan pemerintahan. Dalam menghentikan kerusakan sistem ini harus dijalankan dengan sistem Islam yang sempurna dalam negara dan tidak bisa jika hanya diserahkan kepada ormas tertentu.

Islam merupakan agama yang sempurna, seluruh syariatnya sudah sesuai dengan perkembangan zaman tanpa ada yang harus dihilangkan. Kutuklah perbuatan yang keliru bukan peraturan Islamnya. Menambahkan title moderat hanya mengkotak-kotakan Muslim semata seakan-akan Islam tanpa moderat merupakan sesuatu yang kuno dan tidak relevan lagi. Islam bukan seperti aplikasi yang harus di upgrade sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan yang relevan, karena Islam sudah sempurna sebagai rahmatan lil ‘alamiin. []

News Feed