oleh

Penetapan Tersangka Enam Laskar FPI, Sekali Lagi Berisiklah!

Oleh : Ahmad Khozinudin | Sastrawan Politik

Maslahat Umat | Hari ini (Kamis, 4/3) saya mengunggah dua artikel yang mengkritik penetapan Tersangka atas 6 anggota laskar FPI oleh Polri. Pertama, saya mengunggah artikel berjudul ‘INIKAH MAKSUD JANJI KAPOLRI AKAN MENUNTASKAN KASUS KM 50 ? artikel ini, saya unggah Ba’da Subuh. Siangnya, sebelum Zuhur saya kembali mengunggah artikel kedua, dengan judul “PENETAPAN TERSANGKA 6 LASKAR FPI, JALAN MENUJU LEGALISASI ‘PEMBANTAIAN’ ?

Saya juga mengamati dunia sosial media, baik di berbagai GWA, Facebook, IG, Twitter, dll, ramai riuh kritik Netizen mengomentari Pernyataan Bareskrim melalui Direktur Tindak Pidana Umum Brigjen Pol Andi Rian, yang mengumumkan status Tersangka 6 anggota FPI. Dari Komentar nyinyir hingga yang bernada ilmiah, semuanya mengkritik penetapan status Tersangka ini.

Saya juga membaca artikel Prof Suteki, Guru Besar Hukum Undip yang juga mempersoalkan status Tersangka yang diumumkan Polri. Tidak sengaja, saya juga membaca komentar Said Didu yang nyelekit, ihwal mayat yang ditetapkan sebagai Tersangka.

Tidak berselang lama, sekitar pukul 13.30 WIB (masih hari ini, Kamis 4/3), saya membaca berita di media Polri melalui Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono resmi menghentikan kasus dugaan penyerangan Laskar FPI kepada polisi di Tol Jakarta-Cikampek KM 50.

Dengan begitu, seluruh penyidikan perkara tersebut dan status tersangka pada enam Laskar FPI tersebut sudah tidak berlaku di mata hukum. Dasarnya, ketentuan Pasal 109 KUHP karena tersangka sudah meninggal dunia.

Padahal, pengumuman status Tersangka baru beberapa jam yang lalu. Masih dihari yang sama, status tersangka itu digugurkan. Kata pepatah Jawa, Polri isuk dele sore tempe. Sikap institusi yang labil. Tidak konsisten.

Namun ada yang menarik, ini masih terkait ribut ribut sosial media. Andai saja rakyat diam, tidak ada yang protes atas pengumuman Tersangka oleh Bareskrim, boleh jadi tak ada revisi dari Kadiv Humas Polri. Hal ini, sekali lagi menunjukkan bahwa ‘cerewet’ di sosial media, itu ada faedahnya. Saya ingin memberikan istilah khusus mengenai hal ini, inilah ‘The Power Of Bawel’.

Kita tentu saja Prihatin, institusi sekelas Polri kok tidak membuat kebijakan yang Pruden. Semestinya, sebelum dikomunikasikan ke publik, semua keputusan institusi itu difikirkan masak. Sehingga, tak jadi kebijakan yang ‘ISUK DELE SORE TEMPE’.

Meskipun Presiden, beberapa waktu lalu juga blunder dalam menerbitkan Perpres Miras, Polri tak perlu meneladani Presiden yang grasa grusu mengeluarkan kebijakan. Polri harus tetap bekerja secara Promoter.

Tapi ya itu, kadang ada benarnya juga pepatah lama. Kacang ikut lanjaran. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. kebijakan Polri tak jauh beda dengan Komandannya, Presiden.

Ala kuli hal, selamat bagi semua netizen yang bawel. Netizen cerewet. Kontrol dan kritik anda, akan menyelamatkan bangsa ini. [].

News Feed