oleh

Pemuda Ujung Tombak Kebangkitan Islam

Oleh: Albayyinah Putri, S.T., Alumnus Politeknik Negeri Jakarta

Maslahat Umat | Pemuda merupakan generasi peralihan yang bisa dikatakan sebagai harapan bangsa. ‘Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia’. Begitulah motivasi yang disampaikan Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno sebagai tonggak utama kemerdekaan Indonesia. Sampai saat ini, generasi muda dengan usia masih menjadi harapan bagi mayoritas masyarakat sebagai penggerak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan dalam saat ini.

Dilansir Liputan6.com, baru-baru ini pemerintah telah meluncurkan Visi Indonesia 2045 dalam acara Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Musrembangnas) 2019. Dalam dokumen ini, Indonesia akan mencapai sejumlah sasaran di bidang ekonomi, teknologi, sosial dan budaya tepat saat 100 tahun Indonesia merdeka.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan, pada 2045, Indonesia akan menjadi negara maju dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar ke-5 di dunia. “Pak Presiden telah menggagas impian Indonesia 2015-2085 dalam rangka mewujudkan Indonesia berdaulat, maju adil dan makmur. Untuk menerjemahkan impian tersebut, Bappenas telah menyusun visi Indonesia 2045 khususnya menyongsong 100 tahun kemerdekaan Indonesia.”

Tertuang dalam Ringkasan Eksekutif Visi Indonesia 2045, impian tersebut disusun Visi Indonesia Tahun 2045 dengan 4 (empat) pilar, yaitu: (1) Pembangunan Manusia serta Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, (2) Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan, (3) Pemerataan Pembangunan, serta (4) Pemantapan Ketahanan Nasional dan Tata Kelola Kepemerintahan.

Pada pilar pertama, dijelaskan Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yakni Indonesia akan didominasi oleh penduduk dengan usia produktif, dengan artian usia produktif di sini adalah pemuda. Maka, Indonesia akan memanfaatkan situasi ini untuk bersaing dengan negara-negara lain. Kekuatan SDM akan menjadi kekuatan yang besar bagi Indonesia jika berhasil, namun jika gagal dominasi ini akan menyebabkan beban yang besar juga bagi Negara Indonesia, pembangunan SDM menjadi kunci dalam rangka menghantarkan bangsa Indonesia kepada Indonesia emas di 2045.

Manfaat ‘bonus demografi’ ini akan membantu perkembangan perekonomian Indonesia, sehingga harus dioptimalkan dengan investasi lebih besar pada pengembangan Sumber daya Manusia (SDM). Pada konsep ini ditekankan Indonesia akan berinvestasi habis-habisan di SDM, sehingga pembentukannya harus dilakukan sejak dini, agar kelak anak-anak yang tumbuh dewasa ini bisa bersaing untuk mendapatkan kesempatan kerja bahkan bersaing dengan negara-negara lain di seluruh dunia.

Pembentukan kualitas SDM diawali dengan memperbaki kualitas pendidikan Indonesia. Sudah kita ketahui arah pendidikan dan kebudayaan di Indonesia saat ini mengacu pada dokumen Sustainable Development Goals (SDGs) yang disepakati pada 21 Mei 2015 oleh para utusan dari 160 negara melalui the World Education Forum 2015 yang diorganisasi oleh UNESCO bersama UNICEF, the World Bank, UNFPA, UNDP, UN Women dan UNHCR, yang diselenggarakan di Incheon, Republic of Korea, 19-22 Mei 2015. Maka dari itu segala program dan agenda-agenda pendidikan serta kebudayaan Indonesia akan mengikuti apa yang ada di dalam dokumen SDGs tersebut yang terdiri dari 17 sasaran global, dengan artian semua ini bertujuan untuk memenuhi agenda global/internasional.

Setelah melihat fakta yang ada bahkan tersusun dalam cita-cita negara, tanpa sadar para pemuda saat ini digunakan sebagai motor penggerak perekonomian global demi tercapainya tujuan sistem kapitalis. Bahkan dalam cita-cita negara tidak ada sedikit pun nilai agama yang dicantumkan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Seakan-akan agama hanya diperlukan untuk keperluan individu saja, karena perkara ibadah adalah perkara pribadi.

Generasi muda hanya dijadikan aset demi mempertahankan eksistensi pihak kapitalis yang berkepentingan. Pemuda dijadikan layaknya ‘sapi perah’ yang digenjot dengan dalih memajukan perekonomian global. Seakan-akan para pemuda dijadikan pahlawan untuk kemajuan dunia Internasional. Padalah pemuda saat ini hanya dijadikan budak korporat, diberikan titel-titel untuk menunjukan seberapa tinggi derajatnya di sistem kapitalis ini.

Begitu tertutupnya mata generasi muda saat ini yang telah dipuaskan dengan jabatan, materi, kekuasaan untuk menjalankan keinginan para pihak kapitalis. Akidah sekularisme sudah merasuk ke dalam diri, sehingga setiap langkahnya sudah tidak lagi memperhatikan nilai-nilai agama di dalamnya. Menjadikan agama hanya ‘obat ruhiyah’ yang digunakan saat-saat waktu ibadah saja. Bukan lagi menjadikan agama sebagai way of life, yang dibawa setiap langkah kehidupannya. Syari’at bukan lagi landasan yang digunakan secara baku, namun kompromilah yang digunakan agar syari’at yang cocok bisa dipakai dan yang tidak cocok bisa ditinggalkan. Naudzubillah.

Sebagai generasi muda, seharusnya kita bisa memandang kehidupan di sistem kapitalis-sekuler ini dengan luas dan analisa yang mendalam sehingga kita tidak terpengaruh dan terarus dengan opini global yang menyesatkan dan membawa kita jauh dari ideologi Islam. Generasi muda memiliki peran strategis sebagai motor penggerak utama bagi penyebaran dakwah Islam dan tegaknya kembali peradaban Islam. Secara fisik memiliki kekuatan yang lebih karena berada pada usia produktif.

Kita harus sadar, pemuda memiliki amanah yang berat namun mulia untuk memimpin umat dan membangun negeri, sehingga masa muda bukan lagi masa yang tujuan hidupnya hanya memenuhi nafsu belaka dan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Seperti yang diingatkan oleh sabda Rasulullah SAW, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, keadaan kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum saat sibukmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR al-Baihaqi).

Para pemuda yang mampu mengendalikan hawa nafsunya pun mendapatkan pujian dari Allah SWT, melalui sabda Rasulullah SAW, “Sungguh Allah Azza wa Jalla benar-benar kagum terhadap pemuda yang tidak memiliki shabwah.” (HR Ahmad).

Begitulah Islam memosisikan para pemuda. Tidak seperti sistem kapitalis sekuler yang memanfaatkan usia produktif generasi muda sebagai penggerak perekonomian global, menanggung kebutuhan generasi muda agar generasi muda bisa membayar apa yang sudah negara berikan untuknya. Padahal kewajiban negara memang memenuhi kebutuhan umatnya tanpa melihat manfaat yang didapat oleh negara.

Sudah sewajarnya pemuda Muslim saat ini menata kembali tujuan hidupnya dengan melihat para pendahulunya seperti Muhammad Al-Fatih, Sa’d bin Abi Waqqash, Mush’ab bin Umair dan masih banyak lagi. Mendedikasikan masa mudanya untuk berjihad di jalan Allah, mengisi masa mudanya untuk terus bertaqarub kepada Allah, berjuang bersama umat untuk kebangkitan Islam, menegakan Islam secara kafah di tengah-tengah kehidupan, menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri teladan sepanjang masa sehingga tidak ada kompromi atau pencampuran perkara haq dengan perkara yang batil.

Sepatutnya generasi muda peduli dengan kepentingan seluruh umat, berpikir secara menyeluruh tanpa menggunakan cara-cara pragmatis demi mencapai tujuan-tujuan pribadinya atau demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadi dan golongannya. Generasi muda saat ini harus berhenti menjadi kaum pembebek pihak Barat yang pada akhirnya menyia-nyiakan potensinya pada sistem demokrasi sekuler.

Sistem kapitalis-sekuler semakin menunjukkan kebobrokannya karena sudah tidak mampu lagi menyejahterakan umat sampai-sampai harus berinvestasi habis-habisan untuk para pemuda, agar pemuda bisa membantu mengembalikan kembali eksistensi dari ideologi ini. Maka dari itu, pemuda harus mulai berpikir dan mengkaji lagi secara mendalam mengenai sistem Islam yang mampu mengatur segala aspek manusia yang pastinya akan menyelesaikan segala problematika kehidupan.

Potensi pemuda akan dimanfaatkan demi keberlangsungan negara dan umat, kebutuhan pendidikan akan dicukupkan karena setiap umat punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak berlandaskan akidah Islam. Islam bukanlah sekadar agama spiritual, namun juga merupakan ideologi yang bisa diterapkan sebagai aturan kehidupan dan dengan ini generasi muda akan terjaga dari gerusan opini Barat yang menjauhkannya dari akidah Islam. Sebagai pemuda juga harus bersikap tegas terhadap perkara haq dan batil, bukan lagi netral atau abu-abu demi menjaga diri pada posisi aman.

Terakhir, para pemuda harus ikut andil dalam penyebaran dakwah Islam kafah, demi menegakan syari’at Islam di tengah-tengah umat dengan menegakan kembali Khilafa Islamiyah. Kemuliaan Islam, rahmat Islam akan tampak dengan jelas dan terasa bagi seluruh umat manusia apabila umat secara keseluruhan terutama para generasi muda senantiasa berdakwah untuk menegakkan Islam, menjadikan Al-Qur’an dan hadits sebagai sumber landasan hukum demi meraih pertolongan dan ridha Allah SWT. []

 

 

 

News Feed