oleh

Pemimpin Tidak Amanah Tidak Akan Mencium Baunya Surga

Maslahat Umat | Saudaraku, menjadi seorang pemimpin, bukanlah hal yang mudah, karena hakikat kepemimpinan itu adalah amanat dari Allah Azza wa Jalla. Padahal seseorang yang tidak dapat menjaga amanat, adalah tergolong orang yang tidak memiliki kesempurnaan iman,

Rasulullah Saw bersabda: “Tidak beriman orang yang tidak dapat menjaga amanat.” (Al Hadits)

Saudaraku, sungguh berat tugas dan kewajiban seorang pemimpin rakyat, umat, kaum atau kelompok karena mereka akan dimintai pertanggungjawaban di dunia dan akhirat. Karena itu, agama Islam mengajarkan agar para pemimpin menjadi pemimpin yang baik, adil, jujur, amanah, dan bijaksana agar selamat di dunia dan akhirat.

Keikhlasan seorang pemimpin juga menjadi tolok ukur bagi keselamatan dirinya kelak saat menghadap Allah Azza wa Jalla. Para pemimpin yang ikhlas karena Allah Azza wa Jalla dalam menjalankan amanat kepemimpinannya sesuai dengan ajaran syariat, maka kelak akan mendapatkan kebahagiaan.

Sebaliknya para pemimpin yang bekerjanya bukan karena Allah Azza wa Jalla, maka akan mendapatkan kesengsaraan hidup di akhiratnya nanti. Maksudnya adalah, jika tendensi kepemimpinannya itu karena didasari ambisi pribadi lantaran cinta kedudukan, atau karena merasa diperintah oleh sesuatu yang dianggap tuhan selalin Allah.

Atau karena ingin meraih fasilitas keduniaan yang menjadi incarannya, atau saat menjalankan pemerintahannya itu justru menyengsarakan rakyatnya demi menyenangkan bos-bos tertentu, seperti yang umum terjadi di jaman sekarang adalah demi memenuhi perintah para penguasa dari negeri luar, maka pemimpin macam demikian ini kelak tidak akan mencium bau surga.

Rasulullah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi was sallam dalam sabdanya menyampaikan bahwa seorang hamba yang diberi amanat menjadi seorang pemimpin oleh Allah Azza wa Jalla, tapi tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik atau tidak amanah, maka dia tidak akan mencium bau surga.

Ubaidullah bin Ziyad mengunjungi Ma’qil bin Yasar ketika sakit yang membuatnya mati, lantas Ma’qil mengatakan kepadanya, “Saya sampaikan hadits kepadamu yang aku dengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi was sallam.” Aku (Ma’qil) mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi was sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak menindaklanjutinya dengan baik,  tak akan mendapat bau surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saudaraku, jika bau surganya saja tidak akan tercium olehnnya, apalagi kenikmatan surga yang sesungguhnya, tentunya akan diharamkan bagi para pemimpin yang tidak bekerja karena Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, pemimpin yang benar-benar adil dan bekerja secara ikhlas karena Allah Azza wa Jalla, maka kelak di padang mahsyar akan mendapatkan perlindungan khusus dari Allah Azza wa Jalla, di saat orang-orang lain sedang ketakutan menghadapai hari perhitungan amal.

Hadits serupa disampaikan Imam Muslim dalam Shahih Muslim dengan redaksi sedikit berbeda. Rasulullah shalallahu ‘alaihi was sallam dalam sabdanya menyampaikan bahwa surga haram bagi pemimpin yang mati dalam keadaan sedang menipu rakyatnya.

Ubaidullah bin Ziyad mengunjungi Ma’qil bin Yasar al-Muzani yang sedang sakit dan menyebabkan kematiannya. Ma’qil berkata, “Sungguh, aku ingin menceritakan kepadamu sebuah hadits yang aku pernah mendengarnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi was sallam. Sekiranya aku mengetahui bahwa aku (masih) memiliki kehidupan, niscaya aku tidak akan menceritakannya.”

Ma’qil mengatakan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi was sallam bersabda, “Barang siapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan surga atasnya.” (HR. Muslim)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa berlaku adil, jujur, amanah dan bijaksana untuk meraih ridha-Nya. Aamiin Ya Rabb. Wallahua’lam bishawab. []

News Feed