oleh

Pembelajaran Maqashid Syari’ah Secara Lengkap

Oleh : Humairy izzatul fithry, mahasiswi STEI SEBI 

Maslahat Umat | Pengertian Maqashid Syri’ah secara Bahasa àmaqshad dan maqashid berasal dari akra kata qashd. Maqashid adalah kata yang menunjukkan banyak (jama’), mufradnya maqshad yang berarti tujuan atau target. tempat menuju kesumber air tanpa terputus.

Secara Istilah Sesuatu yang ditetapkan Allah SWT untuk hambanya berupa ajaran agama. Menurutsecara Istilah dan secara Bahasa : Jalan ke arah sumber pokok kehidupan.

  1. Tujuan Maqashid Syari’ah

Berupa mendatangkan kemaslahatan, baik dalam bentuk mewujudkan maupun memeilhara kemaslahatan tersebut, Sesungguhnya syariah bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.

  1. Fungsi –fungsi Maqashid Syari’ah ada 3 :
  • Bisa memahami nash-nash Al-Qur’an dan hadits beserta hukumnya secara komprehensif.
  • Bisa mentarjihsalah satu pendapat fuqaha berdasarkan maqashid syariah sebagai salah satu standar.
  • Memahami ma’allat(pertimbangan jangka panjang) kegiatan dan kebijakan manusia dan mengaitkannya dengan ketentuan hukumnya.
  • Kaidah Maqashid Syari’ah

 Kaidah pertama, seluruh ketentuan syariah memiliki maksud (maqashid)

Sesungguhnya Allah SWT tidak menciptakan sesuatu kecuali untuk tujuan tertentu, begitu pula Ia tidak mengurangi atau menambah sesuatu kecuali atas hikmah tertentu pula

  • Kaidah kedua, Taqshid (menentukan maqashid) itu harus berdasarkan dalil. Tidak boleh menetapkan atau menafikan maqashid syariah kecuali atas dasar dalil. Oleh karena itu, menisbatka suatu maqshad (tujuan hukum) atas hukum tertentu dalam syariat Islam itu sama halnya menisbatkan sebuah perkataan dan hukum kepada Allah.
  • Kaidah ketiga, menertibkan maslahat dan mafsadah. Hal tersebut didasarkan pada nash-nash Al-Qur’an dan Hadits bahwa ketentuan-ketentuan syariat ini tidak sama, tetapi berbeda-beda; ada yang tidak penting, ada yang penting dan ada yang lebih penting. Diantara nash-nash tersebut adalah dalam surat Al-Hujurat:7
  • Kaidah keempat: Membedakan antara maqashid dan wasa’il dalam setiap ketentuan Allah. Seperti perintah dan laranga Allah dalam surat Al-Jumu’ah ayat 9.

Diantara kaidah penting dalam bab maqashid syariah adalah membedakan antara rumpun maqashid dan rumpun wasail dengan cara meletakkan ketentuan syariat ini pada tempatnya sesuai rumpunnya.

  1. Pembagian Maqashid Syari’ah ada 3 :
  • Al-Dharuriyat ( الضروريات ), yakni kemaslahatan-kemaslahatan yang kepadanya bersandar kehidupan manusia dan eksistensi masyarakat. Jika kemaslahatan itu tidak ada maka akan terjadi ketidakstabilan, kerusakan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat. Seperti makanan, minuman dll.
  • Al-Hajiyat ( الحاجيات ), yakni perkara-perkara yang dibutuhkan manusia untuk menghilangkan kesulitan. Jika perkara-perkara itu tidak terwujud, tidak akan merusakan tatanan kehidupan, namun manusia akan mengalami kesulitan dan kesempitan. Seperti diperbolehkannya sholat duduk saat tidak mampu berdiiri.
  • Al-Tahsiniyah ( التحسينيات ), yakni sesuatu yang menjadikan hidup manusia lebih pantas dan beradab. Jika sesuatu itu tidak ada maka tidak akan merusak tatanan kehidupan serta tidak menyulitkan. Hanya saja akan mengurangi ketidakpantasan, etika dan fithrah. Seperti masalah etika saat minum, makan, menutup aurat dan lainnya.
  • Bentuk Maqashid Syari’ah :

Imam Asy-Syatibi menjelaskan ada 5  (lima) bentuk maqashid syariah atau yang disebut dengan kulliyat al-khamsah(lima prisip umum). Kelima maqashid tersebut yaitu: 1. Hifdzu din(melindungi agama),

  1. Hifdzu nafs(melindungi jiwa),
  2. Hifdzu aql(melindungi pikiran),
  3. Hifdzu mal(melindungi harta),
  4. Hifdzu nasab(melindungi keturunan).

Kemudian dalam kebutuhan manusia terhadap harta ada yang bersifat dharuri(primer), haji(sekunder), dan tahsini(pelengkap).

 

 

News Feed