oleh

Pasang Surut Hubungan Ulama dan Penguasa

Maslahat Umat | Ulama dizalimi, dipenjara, dan dibunuh, bukanlah yang pertama terjadi. Sejak dahulu, ulama dikebiri penguasa yang zalim. Sebut saja. Sahabat nabi, Ibnu Al Asy’ats terbunuh ditangan gubernur Baghdad, Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi

Kemudian, Sa’id bin Jubeir, ahli tafsir, murid terbaik Ibnu Abbas, dipancung ditangan Al Hajjaj. Lalu, Abdullah bin Az Zubeir, cucu Abu Bakar Ash Shidiq, putra Zubeir bin Awwam, juga dibunuh pasukan Al Hajjaj.

Selanjutnya, Imam Abu Hanifah wafat saat dipenjara Khalifah Al Manshur, diracuni secara paksa dihadapan Khalifah. Sebagaimana disebutkan dalam Akhbar Abi Hanifah.

Imam Malik, dihukum cambuk dengan rotan secara telentang oleh Khalifah Abu Ja’far Al Manshur, seperti yg diceritakan Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An Nubala.

Imam Asy Syafi’i, diusir oleh Gubernur Yaman atas perintah Khalifah Harun Ar Rasyid, dengan cara diikat, dari Yaman ke  Baghdad, seperti yang diceritakan Imam Al Baihaqi dalam Manaqib Asy Syafi’i.

Imam Ahmad bin Hambal, disiksa selama tiga masa kekhalifahan, karena perbedaannya dengan mereka tentang kemakhlukan Al Quran, mereka meyakini Al Quran sebagai makhluq, sementara Imam Ahmad teguh bahwa Al Quran kalamullah bukan makhluk.

Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam, Sulthanul ‘Ulama (pimpinan para ulama), ulama pemberani,  Imam Adz Dzahabi menyebutnya mujtahid, Imam ‘Izzuddin menjual pemimpin saat itu, Najmuddin Ayyub, dan jajaran pemerintahannya, dengan keuntungan dikembalikan kepada rakyatnya sendiri, karena pemimpin dan jajaran pemerintahan adalah pelayan, dan rakyat tuannya, maka tuan boleh menjual pelayannya. Kejadian berani ini hanya dilakukan olehnya, tidak pernah ada sebelum dan sesudahnya, penguasa dijual oleh ulama.

Imam An Nawawi, tegas terhadap Malik Zahir yang telah mengingikan fatwa pembenaran memungut biaya jihad dari rakyat yang sudah susah, akhirnya dia diusir dari negerinya. Sikap Imam An Nawawi ini menyadarkan ulama lain yang telah dimanfaatkan oleh Malik Zahir, mereka akhirnya mencabut dukungannya. Raja minta maaf kepada Imam An Nawawi tapi Beliau tegas, tidak akan kembali sampai raja itu wafat.

Imam Ibnu Taimiyah, sering keluar masuk penjara penguasa zamannya akibat fitnah yang menimpanya. Syaikh Hasan Al Banna ditembak di depan kantor Syubbanul Muslimin, oleh kaki katangan Raja Faruq.

Syaikh Sayyid Quthb dihukum gantung oleh Jamal Abdul Nashir, begitu pula Syaikh Abdul Qadir Audah, Syaikh Yusuf Thal’at, Syaikh Muhammad Farghalli.

Buya Hamka dipenjara pada masa Sukarno, karena sikapnya yang Anti Lekra, dan juga tuduhan akan melakukan  pembunuhan terhadap presiden.

Masih banyak yang lainnya. Maka, jika seandainya hari ini aktifis  Islam dan para ulama ditangkap, dituduh makar, bahkan dibunuh, itu masih satu paket kisah “Ulama Rabbani Tidak Akan Pernah Tunduk Terhadap Kezaliman Penguasa”.

HRS Dizalimi Penguasa

Masih ingat kasus Hermansyah, ahli IT ITB yang dibacok di jalan tol beberapa tahun silam.  Saya kira publik masih ingat kasus tersebut. Hermansyah pernah tampil memukau di acara ILC membedah chat palsu antara HRS dan Firza Husain, sebagai chat rekayasa.

Nasibnya ternyata menyedihkan, dia dibacok pukul 04.00 pagi oleh orang yang tak dikenal lalu melarikan diri.  Kejadian yang menimpa Hermansyah,  berawal dari mobil yang dikendarainya disenggol oleh mobil yang berpenumpang diperkirakan 5 orang.  Hermansyah berhenti dan keluar dari mobil Avanza-nya. Saat itulah, Ia dibacok hingga terluka parah.

Persamaan yang terjadi dari aksi kepolisian terhadap anggota FPI yang mengawal HRS di tol kemarin malam adalah CCTV di tol tak berfungsi alias mati.

Dalam kasus Hermansyah, CCTV di tol pun tidak aktif.  Hingga tak diketahui siapa pelaku dan bagaimana peristiwa itu terjadi.  Saya tak perlu menyimpulkan mengapa modus yang dilakukan begitu mirip. Tak penting lagi itu.

Hal terpenting sekarang, adalah kenapa anggota FPI yang mengawal HRS harus dihabisi ? Dibunuh ? Kenapa harus dibunuh dengan cara ditembak? Rencana apa yang sedang disusun oleh dalang skenario Rezim sakit ini terhadap oposisi yang dilakukan oleh HRS?

Seperti pernah saya ungkapkan, bahwa rezim tak akan membiarkan konsolidasi HRS berjalan normal dan membesar. Tak akan pernah. Karena itu membahayakan Rezim. Skenario yang sedang mereka susun adalah menghabisi HRS dan FPI ke akar akarnya. Karena FPI dan HRS adalah dua sisi mata uang yang sama. Tak terpisahkan.

Bahkan, perkiraan saya, malam naas kemarin. HRS adalah target utama yang akan dihabisi. Bukan para laskar pengawalnya. Namun gagal.  Pengawal HRS ternyata lebih sigap dalam menjaga Imam Besar. Malam itu, saya menduga aparat tak mampu menangkap hidup mati HRS. Mereka gagal menjalankan misi.

Hingga “Tak ada rotan, akar pun jadi”  Mereka hanya berhasil melumpuhkan para pengawal HRS dan dibantai dengan keji. Lalu aparat kepolisian konpres bahwa laskar adalah preman preman yang layak dihabisi. Fitnah.. berkali-kali fitnah !

Saya kira, dalam waktu yang singkat, aparat akan melakukan pembersihan markas FPI di Petamburan.  Jika tidak dilakukan, itu sama halnya, membiarkan anasir Anasir perlawanan opini Rezim membesar tak terkontrol.

Kini dengan lepasnya HRS dari pengejaran aparat kepolisian, akan membuat seluruh Intel di seluruh Indonesia siaga satu. Mengejar dan menangkap HRS hidup atau mati. Disusul kemudian menangkap dan membui para pendukung dan simpatisan HRS selama ini.

Mungkinkan itu terjadi ? Tentu sangat mungkin terjadi. Terkhusus jika koalisi ummat di lapangan tidak segera bertindak dan berame rame mengutuk tindakan aparat yang membabi buta. Jika oposisi diam dan tak berani bertindak, maka pembersihan orang orang anti Rezim akan dimulai dari Markaz FPI di Petamburan.

Jika HRS Berhasil Dibunuh

Kejadian kemarin ada enam korban dari pengawal HRS meninggal dunia. Dunia medsos guncang. Polisi menggunakan media mainstream untuk membuat narasinya sendiri, bahwa mereka diserang dan terpaksa melakukan self defense pertahanan diri dengan menembak mati para pengawal itu. Mirip cerita film india. Itu cerita ketika yang mati itu adalah para pengawal.

Bagaimana jika para pengawal gagal menjalankan tugas pengawalan ? Para OTK itu melaju ke depan dan akhirnya membunuh HRS. Bisa langsung menembuskan peluru ke HRS atau membunuh sopir yang ditumpangi HRS sehingga mobil oleng dan menabrak pembatas jalan. Mirip skenario pembunuhan Lady Diana dari Inggris yang dibunuh paparazi (wartawan foto) di Prancis.

Pasti ceritanya lain. Para penulis skenario pasti tertarik untuk membuat alur yang berbeda. Setengah jam setelah kejadian, ada breaking news di tv nasional. Kapolda didampingi oleh kepala unit lalulintas dan patroli tol menyatakan belasungkawa sedalam-dalamnya atas kecelakaan di tol yang menyebabkan meninggalnya Habib kita tercinta Muhammad Riziek Syihab beserta beberapa anggota keluarga.

Kejadiannya, menurut keterangan polisi patroli jalan tol yang bertugas saat itu, rombongan habibana Muhammad Riziek Syihab beserta keluarga yang melintas di jalan tol cikampek, tiba-tiba dihadang oleh OTK orang tak dikenal yang menembak pengemudi mobil yang ditumpangi HRS, sehingga mobil tak terkendali dan akhirnya menabrak pembatas jalan pada kilometer sekian.

Besok paginya karangan bunga berjejer dari petamburan ke tenabang atau sampai senayan. Netizen buzzeRp pun beramai-ramai bikin ungkapan menyakitkan : Habib akhirnya tidak mati di jalan Allah, tapi di jalan tol.

Sorenya sudah bisa dilakukan pemakaman dengan segera. Dengan dibuat seolah-olah sangat berduka, hadirlah menteri agama serta para pejabat tinggi negara. Mereka mengelu-elukan HRS , bukan lagi disebut MRS, sebagai putra terbaik bangsa, tokoh panutan yang sangat pantas diikuti dan seribu ungkapan hebat.

Kalau saja kaderisasi di FPI kurang bagus, tidak ada lagi pengganti HRS. Urusan closed dianggap selesai. Tinggal skenario selanjutnya adalah membersihkan petamburan dari anasir FPI yang kecewa. Didatangkanlah para psikolog untuk Trauma healing, menghilangkan trauma para pengikut yang kecewa.

Tapi Allah berkehendak lain. HRS masih hidup, yang jadi korban adalah enam anak muda yang ikhlas menjadi pengawal beliau. Tanpa ucapan belasungkawa, tanpa sebutir kata dari menteri agama, dan tanpa karangan bunga : “Selamat jalan para Pahlawan Revolusi Akhlak” []

News Feed