oleh

Omnibus Law dan Dharar yang Harus Dihilangkan

Oleh: Aktif Suhartini S,Pd.I | Kolomnis

Maslahat Umat | Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menghilangkan bahaya serra larangan memberikan bahaya pada orang lain.Apakah Dharar itu? Dharar adalah memberi bahaya kepada orang lain tetapi memberikan manfaat bagi dirinya. Diartikan pula dengan merugikan orang lain yang tidak merugikan dirinya.

Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada bahaya dan membahayakan orang lain.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340 ; al Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya secara musnad, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al Muwaththa ’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain).

Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allah akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allah akan menyulitkannya.”
Hadits Abu Sa’id di atas memiliki beberapa penguat dari sejumlah Sahabat lain, diantaranya ‘Ubadah bin al Shamit (Ibnu Majah, no. 2340), Abdullah bin ‘Abbas (Ibnu Majah, no. 2341), Abu Hurairah, Jabir bin ‘Abdillah, Tsa’labah bin Abi Malik al Qurazhi, Abu Lubabah, dan ‘Aisyah Radhyallahu anhum. Hadits ini dinilai hasan oleh an-Nawawi rahimahullah dalam al-Arba’in dan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam.

Islam mendorong untuk menghilangkan bahaya dan dilarang memberikan bahaya pada orang lain.
Maka,disahkannya Omnibus Law telah menimbulkan gejolak dan penolakan berbagai pihak. Begitu banyaknya polemik yang muncul pasca disahkannya undang-undang tersebut menunjukkan ada bahaya di Omnibus Law yang harus dihilangkan.

Maka bentuk dharar dalam Omnibus Law yang sudah disahkan tersebut antara lain:

1).Kezhaliman dalam membuat hukum, yaitu menempatkan manusia sebagai Hakim yang menetapkan hukum yang berkaitan dengan masalah tasyri (penetapan hukum); 2).Memberikan jalan kemudahan kepada para kapitalis pemodal asing menguasai kaum muslimin.; 3).Makin lemahnya peran negara sebagai institusi yang menegakkan hukum dan memelihara rakyatnya; 4).Membuka jalan dikuasainya sektor sektor strategis oleh swasta; 5).Menyengsarakan dan menyulitkan rakyat kecil; Menimbulkan kerusakan lingkungan dll.

Oleh karena itu, semua dharar (bahaya) tersebut adalah haram dan harus dihilangkan. Hukum yang menimbulkan bahaya harus diganti dengan hukum Islam yang berasal dari Rabb semesta alam.

Demonstrasi menolak disahkannya omnibus law UU Cipta Kerja masih terjadi di berbagai daerah di Indonesia adalah kejadian yang membuktikan bahwa aturan yang dibuat oleh manusia akan selalu menghadirkan kekecewaan dan kesengsaraan. Meneladani dan mengikuti Baginda Nabi SAW dibuktikan dengan menerapkan syariah yang beliau bawa secara keseluruhan. Allah SWT menegaskan bahwa sikap demikian merupakan bukti kebenaran dan kesempurnaan iman.

Allah SWT berfirman: “Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (TQS an-Nisa’ [4]: 65).

Menjadikan Rasul saw. sebagai hakim sepeninggal beliau adalah dengan menjadikan syariah yang beliau bawa sebagai pemutus segala perkara. Menjadikan syariah Islam sebagai pemutus segala perkara tidak mungkin terwujud kecuali dengan menerapkan syariah secara nyata untuk mengatur segala urusan masyarakat.[]

News Feed