oleh

Muslimat Hidayatullah Akan Gelar Munas V Secara Virtual 

DEPOK | Maslahat Umat – Organisasi Muslimat Hidayatullah (Mushida) akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) kelima pada penghujung tahun ini, tepatnya tanggal 11-12 Jumadil Uula 1442/26-27 Desember 2020. Perhelatan akbar lima tahunan itu kali ini akan digelar secara virtual karena berlangsung di tengah pandemi, dengan mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam”.

Munas V Mushida ini akan berpusat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Kota Depok, Jawa Barat, dengan 33 titik lain sebagai perwakilan tiap Pengurus Wilayah (PW) Mushida yang ada di berbagai provinsi.

Ketua Panitia Munas V Mushida, Neny Setiawaty, mengatakan bahwa protokol kesehatan akan diberlakukan ketat pada semua tamu dan perwakilan PW yang hadir. “Mohon doa dan dukungan dari semua pihak untuk kesuksesan munas Mushida ini,” ujar Neny Setiawaty dalam siaran pers kepada media, Senin (23/11/2020).

Dalam Munas V kali ini, Mushida akan melakukan pergantian seluruh pengurus tingkat pusat. Akan ada penunjukan Ketua Umum baru Mushida. Untuk diketahui, Ketua Umum Mushida saat ini, Reny Susilowaty, M. Pd. I, telah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Mushida selama dua periode.

Mushida merupakan salah satu organisasi pendukung (orpen) Hidayatullah. Ormas Hidayatullah sebelumnya juga telah sukses mengelar Munas V secara virtual pada 29-31 Oktober 2020 dengan protokol kesehatan.

Neny menjelaskan, model suksesi penunjukan bukan pemilihan adalah ciri yang ada di Hidayatullah. Siapapun yang ditunjuk oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah sebagai organisasi induk Mushida, harus siap dan bersedia. “Tentunya penunjukan adalah hasil dari musyawarah yang melibatkan berbagai pihak,” jelasnya.

Munas Mushida V ini diawali dengan beberapa webinar tentang kemuslimahan dan keluarga yang menjadi basis garapan Mushida. Webinar perdana digelar pada Ahad (22/11/2020).

Bahas Kepengasuhan Putri

Dalam rangkaian pra Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah (Mushida), organisasi kewanitaan ini menggelar webinar pertama dari sejumlah webinar yang diagendakan. Webinar perdana yang diadakan pada hari Ahad (22/11/2020) kemarin sore itu mengusung tema “Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi Kepengasuhan Putri”. Tidak tanggung-tanggung, seminar online ini dihadiri oleh lebih dari 1.000 peserta dari berbagai penjuru negeri.

Ada tiga tokoh pendidikan yang menjadi pembicara di seminar ini, yaitu Ustadz Miftahuddin, M.Si. (Ketua Departemen Pendidikan Tinggi dan Penelitian Pengembangan DPP Hidayatullah), Dr. Sulistianingsih, S.KM., M.Kes (Wakil Sekretaris Majelis Dikti Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang juga Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta), dan Dr. Sabriati Aziz, M.Pd.I (Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia/BMOIWI). Webinar ini dimoderatori oleh Ina Choeriyati, S.Ag., M.Pd.I.

Ketiga pemateri tersebut memaparkan peluang dan tantangan dalam pendirian institut pendidikan tinggi dengan konsentrasi di kepengasuhan putri dari sudut pandang keahlian dan latar belakang masing-masing.Pada sesi pertama, Ustadz Miftahuddin membahas secara detail tentang prospek dan daya saing perguruan tinggi Islam (PTI). Materi yang disampaikan tersusun secara padat, dengan penjelasan mengenai grand design pendidikan tinggi Islam, kerangka konseptual perkaderan kepengasuhan, alur proses kepengasuhan, sampai dengan pola kepengasuhan. Beliau menguraikan setidaknya ada empat tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi Islam.

Pertama, modernitas kelembagaan. Di mana PTI diharapkan dapat tumbuh dan berkembang menjadi institusi modern, yang juga tetap dapat memegang kuat akar dan nilai-nilai Islam. “Sebuah pesantren atau pendidkan Islam itu tidak hanya membuka program pendidikan studi Al-Qur’an, Al-Hadits, sirah, serta ilmu turunannya, tetapi (juga membuka) ilmu kedokteran, ilmu teknologi, itu menjadi sebuah tuntutan,” ujarnya pada webinar yang disiarkan live streaming di kanal Youtube Hidayatullah Id. Sebagaimana juga katanya dalam pendidikan tinggi umum yang berfokus pada keilmuan umum yang pada akhirnya juga mengkaji tentang keilmuan keislaman.

Tantangan kedua, tambah Miftahuddin, PTI sepatutnya dapat melahirkan lulusan Muslim paripurna yang berkualitas, memiliki daya saing, dan menguasai iptek.

Ketiga, terkait peningkatan mutu kelembagaan, sehingga terwujud PTI yang terbuka, modern, empiris-kontekstual, dan produktif. Terakhir, PTI perlu melahirkan pemikiran Islam paripurna (syamil-kamil) melalui pengembangan dialog antar bangsa.

Di sesi selanjutnya, Dr. Sulistianingsih, Wakil Sekretaris Majelis Dikti PP ‘Aisyiyah yang juga Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, menyebutkan ada lima tantangan yang dihadapi dalam pendirian perguruan tinggi kepengasuhan putri.

Pertama, kata dia, belum adanya nomenklatur dalam bidang terkait kepengasuhan putri. Hal ini katanya butuh waktu untuk mewujudkannya, karena memang belum ada rujukannya secara internasional. Ini juga menjadi peluang karena banyak sekali prodi baru sekarang yang memang menjadi kekhasan Indonesia. “Ini tantangan sekaligus peluang yang bisa dilakukan oleh Muslimat Hidayatullah untuk bisa mewujudkan perguruan tinggi kepengasuhan putri ini,” ujarnya.

Tantangan kedua berkaitan dengan revolusi industri, sehingga perguruan tinggi perlu beradaptasi dalam hal penggunaan teknologi, interaksi manusia dengan mesir, penggunaan data dan komunikasi, serta digitalisasi dalam aktivitas dan prasarana perguruan.

Ketiga, perguruan tinggi juga diharapkan memiliki sistem penjaminan mutu internal yang dapat diterima secara eksternal oleh Badan Akreditasi Nasional dan dari lembaga akreditasi internasional. Tantangan berikutnya adalah pengembangan sumber daya dosen dan tenaga kependidikan, juga kondisi pandemi Covid-19 yang membuat adaptasi dalam berbagai bidang menjadi diperlukan.

Pada sesi terakhir Dr. Sabriati Aziz, Presidium BMOIWI yang juga Anggota Majelis Penasihat Mushida memaparkan visi dan misi Mushida dan latar belakang rancangan pendidikan tinggi kepengasuhan putri Hidayatullah. Potensi besar dari sekolah pada jenjang SD sampai SMA Hidayatullah, serta perbandingan yang cukup signifikan antara santri dan pengasuh di Pesantren Hidayatullah menunjukkan kebutuhan yang besar terhadap pendidikan tinggi kepengasuhan.

Sabriati selanjutnya memaparkan visi dan misi, serta tujuan dari perguruan tinggi. Permasalahan pendidikan dan kepengasuhan putri di pesantren menurut beliau terletak pada setidaknya empat hal, yaitu lemahnya integrasi kurikulum antara pendidikan di asrama dan kelas, profesionalitas, serta belum adanya kurikulum dan perguruan tinggi dengan jurusan kepengasuhan pesantren. “Ini juga menjadi satu hal yang perlu kita seriusi (untuk disikapi),” ujarnya.

Sabriati juga menyebutkan setidaknya ada empat peluang prodi pada pendidikan tinggi kepengasuhan, yaitu PGTK, PGSD, kepengasuhan asrama, dan pendidikan keluarga. Pemaparan ketiga pemateri tersebut menggambarkan bahwa tantangan yang ada dalam pendirian perguruan tinggi kepengasuhan putri dapat dihadapi dengan perencanaan yang baik, serta banyaknya peluang dari pendirian perguruan tinggi ini sepatutnya mendorong realisasinya dalam waktu dekat. In syaa Allah. (des)

 

News Feed