oleh

Milenial yang Semakin Paham Agamanya, Terpapar Paham Radikal?

Oleh: Nabillah Syifauzzuhrah, S. Kom., Alumni Universitas Gunadarma

Maslahat Umat | Heboh, Rabu sore (31/4) berita ZA menyerang dan menembaki petugas yang berjaga di pos Mabes Polri di Jalan Trunojoyo, Jak-Sel. Dengan kejadian itu, ZA pun ditembak mati oleh petugas. Kapolri membeberkan pelaku merupakan seorang perempuan yang drop out dari salah satu universitas di daerah sekitar Jakarta.

Sebelumnya diberitakan, seorang berpakaian gamis hitam, bercadar dan berkerudung masuk ke area Mabes Polri. Hasil penyelidikan sementara dari pihak kepolisian, diduga orang itu ZA yang menganut paham radikal karena mengunggah foto bendera ISIS dan tulisan mengenai jihad.

Ternyata ZA pernah tercatat sebagai mahasiswi di Universitas Gunadarma. Universitas Gunadarma buka suara, pihak kampus mengakui jika ZA pernah tercatat sebagai mahasiswi di Universitas Gunadarma Depok tapi hanya sampai pertengahan semester. Jadi pihak kampus menegaskan jika inisial ZA bukanlah alumni di kampusnya.

Terkait kasus ini, kaum mahasiswa milenial terlihat apatis, bahkan tidak kritis dan disibukkan dengan urusannya masing-masing. Sama sekali tidak menaruh perhatian lebih terhadap isu ini karena menganggap itu bukan urusan mereka melainkan pemerintah.

Pemerintah dalam kasus ini mengatakan sosok ZA telah terpapar ajaran dan ideologi radikal. Sebagaimana yang dikatakan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.  “Jika wanita itu memiliki akun Instagram yang di dalamnya terdapat sebuah postingan bendera Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Kemudian yang bersangkutan memiliki Instagram yang baru dibuat atau diposting 21 jam lalu dimana di dalamnya ada bendera ISIS, ada tulisan soal bagaimana perjuangan jihad.”

Dengan adanya pernyataan tersebut, akan memunculkan kekhawatiran dan ketakutan dari masyarakat jika bicara masalah politik. Survei menunjukkan sekitar 39% warga menyatakan masyarakat sering atau selalu takut bicara masalah politik dan 32% menyatakan masyarakat takut karena penangkapan semena-mena aparat hukum.

Kita juga bisa lihat, hasil survei indikator intoleran: Pertama, sikap intoleran yaitu seperti penolakan terhadap pemimpin yang berbeda agama dan etnis serta penolakan terhadap tetangga yang berbeda agama dan etnis.

Kedua, survei juga menunjukkan 29,3 persen anak muda keberatan non-Muslim jadi gubernur, 29 persen keberatan non-Muslim jadi wali kota. Lalu 16 persen keberatan jika non-Muslim membangun tempat peribadatan di sekitar tempat mereka dan ada 12 persen keberatan mengadakan acara keagamaan di sekitar tempat mereka tinggal.

Apakah dengan adanya survei tersebut membuktikan milenial yang semakin paham agamanya terpapar paham radikal atau terorisme?

Ketahuilah, mendalami Islam bukanlah sesuatu yang berbahaya, melainkan itu adalah kewajiban. Sebagaimana dalam hadits dikatakan

“Menutut ilmu wajib atas setiap Muslim.”

Dan perlu harus diketahui juga terorisme, ekstrimisme, radikalisme itu semua adalah alat propaganda kaum kafir untuk menjatuhkan harga diri kaum Muslimin yang berusaha mencitrakan umat Islam sebagai ‘teroris’ dan cinta kekerasan. Tujuannya tiada lain untuk mencegah penyebaran Islam politik, menghindari kesan negara-negara Barat menentang Islam dan  tentunya menjauhkan umat Islam dari agamanya.

Lantas apa sikap yang harus kita ambil sebagai mahasiswa Muslimah? Sikap yang patut diambil yaitu dengan mengungkap rencana-rencana jahat musuh Islam serta makar mereka,  meningkatkan kesadaran politik (wa’yu siyasi) mahasiswa Muslim melalui edukasi yang bersifat terus-menerus serta adanya entitas Islam atau jamaah yang merumuskan langkah-langakah atau metode untuk mengaplikasikan konsep yang menjadi kajian intelektual.[]

 

News Feed