oleh

Meraih Bahagia Dunia dan AKhirat

Setiap kita tentu ingin meraih bahagia, tak satupun dari kita yang ingin hidup sengsara baik di dunia apalagi diakhirat, semua punya harapan dan keinginan yang sama, bahagia!

Namun kenyataan terkadang jauh dari harapan, kenyataannya tidak semua dari kita bisa bahagia dalam hidupnya. Alih-alih mendapatkan kebahagian, justru hanya air mata dan kesedihan saja yang kita dapatkan. Lalu apa yang mebuat kita gagal bahagia meski sekuat apapun kita berusaha?

Ada ungkapan, jika mau menangkap kupu-kupu, jangan dikejar, karena hanya akan sulit untuk mendapatkan nya. Semakin dikejar, akan semakin jauh terbang. Alih-alih dapat menangkapnya, yang terjadi malah kita letih dan menyerah.

Agar kupu-kupu mudah ditangkap, tanamlah pohon yang beragam. Jika pohon yang beragam itu sudah berbunga dengan beragam pula, kupu-kupu akan datang dengan sendirinya tanpa harus dikejar bahkan tidak hanya kupu-kupu yang akan datang ketika pohon berbunga, kumbang dan lebah bunga pun akan turut datang dan singgah.

Kebahagiaan ibarat kupu-kupu, semakin dikejar akan semakin menjauh. Oleh karena itu, untuk memperolehnya cukup dengan menanam benihnya, seperti menanam pohon yang beragam untuk menghadirkan kupu-kupu. Kebahagiaan akan hadir dan tumbuh pada kehidupan yang baik (hayaatan thayyibah).

Rasulullah SAW menjelaskan setidaknya ada dua sifat yang menjadi sumber kebahagiaan dan kebaikan lainnya, “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur, karena pada kesenangan (syukur) mengandung kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesusahan maka ia bersabar, karena pada kesulitan (sabar) ada kebaikan baginya.” (HR Muslim).

Kita manusia adalah makhluk sosial yang harus melakukan interaksi dengan lainnya. Kita tidak mungkin hidup sendiri tanpa memerlukan orang lain dalam memenuhi seluruh kebutuhan kita. Jika bersosialisasi dengan mereka merupakan satu keharusan, sedangkan manusia memiliki tabiat dan pemikiran yang bermacam-macam, maka mungkin sekali akan terjadi kesalahpahaman dan kekhilafan yang membuat seseorang sedih.

Jika tidak disikapi dengan bijak maka interaksinya dengan manusia akan menjadi sebab kesengsaraan dan membawa kesedihan dan kesusahan. Karena itulah, Islam memberikan perhatian besar terhadap akhlak dan pembinaannya.

Berinteraksi dengan ucapan yang baik, sikap yang tidak menyakiti serta menjauhi prasangka buruk terhadap orang lain menjadi benih kebahagian itu sendiri. Namun tanpa disadari kita seringkali kita menganggap baik prasangka tersebut sebagaimana Firman Allah:

“…Dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.” (Quran Surat Al-Fath Ayat 12)

Kebahagiaan hidup dalam pandangan Islam tidak berkutat pada sisi materi saja. Walaupun Islam mengakui kalau materi menjadi bagian dari unsur kebahagiaan itu sendiri. Dalam pandangan Islam, masalah materi hanya sebagai sarana saja, bukan tujuan. Oleh karenanya, Islam memberikan perhatian sangat besar pada unsur ma’nawi seperti memiliki iman dan budi pekerti yang luhur sebagai cara mendapatkan kebahagiaan hidup.

Iman yang kuat akan melahirkan amal saleh yang beragam. Ketika kita percaya bahwa semua yang ada pada kita adalah titipan dan milik Allah, tidak ada satu hal pun yang akan kita tahan ketika Dia menyuruh memberikannya. Artinya, iman kepada Allah akan melahirkan sifat dermawan. Sifat itu pada gilirannya akan membebaskan kita dari kekikiran.  Wallahu alam. (Ummu Nazla)

News Feed