oleh

Menjauhkan Diri dari Praktik Ribawi

Oleh: Khansa Fityah Aminah. Mahasiswi STEI SEBI, jurusan Manajemen Bisnis Syariah

Maslahat Umat | Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Swt. Menegaskan bahwa riba diharamkan dalam Islam. Diantaranya, firman Allah Swr

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS Ali Imran [3]: 130)

Secara bahasa, ‘Riba’ artinya ‘kelebihan, tambahan, bertambah, atau tumbuh’. Secara istilah, ‘Riba’ adalah sebuah transaksi atau setiap pinjaman yang mensyaratkan di dalamnya tambahan. Praktil riba selalu kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya, mengapa riba tetap beroperasi padahal islam telah jelas mengharamkannya? Menjauhkan diri dari praktik ribawi tidak hanya sebatas menuntaskan tugas atas apa yang Allah larangkan. Ada hikmah serta alasan yang tidak kita ketahui di dalamnya, yang ternyata memberikan efek dan kebaikan dalam diri manusia untuk terus melanjutkan tatanan kehidupan.

Sebagaimana firman Allah, “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS.An Nisa: 160-161).

Alasan riba dilarang karena perbuatan itu sama saja dengan memakan harta benda orang lain secara batil. Menurut beberapa ulama, riba merupakan perbuatan dzolim yang merugikan orang lain. Secara singkat, saat melakukan riba seseorang mengambil harta orang lain tanpa pertukaran yang sesuai dan seimbang sehingga ada pihak-pihak yang tertindas atau merasa tidak adil atas apa yang dilakukan pihak lain. Karena sifatnya mendatangkan kerugian, maka harus ditinggalkan.

Tidak hanya islam yang melarang riba dalam kehidupan. Agama lain pun melarangnya. Sama halnya, bagi mereka alasan riba dilarang sebab perbuatan riba merugikan orang lain.

“Jika kalian memberikan pinjaman kepada orang yang kalian harapkan imbalan darinya, maka keutamaan apakah yang akan kalian peroleh? Lakukanlah kebajikan dan berilah pinjaman tanpa mengharapkan adanya imbalan sehingga kalian memperoleh pahala yang besar.” (Injil Lukas pasal 6 ayat 34-35; dinukil dari Fiqhus Sunnah).

Dalam hal ini, sudah jelas bukan secara universal, riba sangat merugikan? Dan tidak patut untuk kota praktikkan karena dengan hal itu akan menimbulkan beberapa kemungkinan yang tidak diinginkan. Islam sangat jelas dan tegas mengharamkannya. Karena hakikatnya sebagai seorang muslim hendaknya meringankan beban saudaranya. Terlebih ini adalah sebuah perintah dari Allah Swt dan Rasulullah untuk menjauhi riba.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa meringankan satu kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitannya di dunia, maka Allah akan meringankan kesulitan dari berbagai kesulitan yang akan dihadapinya pada hari kiamat kelak. Barangsiapa yang memberi keringanan bagi orang yang kesulitan, maka Allah akan memberi keringanan baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menyembunyikan aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat” (HR.Muslim).

Riba memiliki dampak negatif yang buruk bagi umat manusia. Bagi diri sendiri, riba akan membuat seseorang memiliki sifat yang kikir, hati yang keras, serta dada yang sempit. Orang yang melakukan praktik riba tentu hilang taqwanya kepada Allah Swt. Hal itu juga yang membuat dirinya mendatangkan akibat yang buruk. Bahkan Rasulullah menjelaskan bahwa riba merupakan salah satu penyebab kebinasaan.  Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan!”

Para Sahabat kemudian bertanya, “Apa saja perkara tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Syirik, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan cara yang hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan pertempuran dan menuduh wanita mukminah berzina.”

Mengkonsumsi harta haram dari riba juga membuat hubungannya dengan Allah semakin jauh. Salah satu penghalang doa manusia adalah harta haram, sehingga doanya sulit diijabah tanpa rahmat Allah. Kemudian, riba merugikan orang lain. Ada kerugian harta disalah satu pihak.

Dan dari sisi ekonomi, riba membuat ekonomi semakin terpuruk. Hal ini dibuktikan dengan jika riba semakin menyebar, maka banyak pihak yang hartanya diambil secara tidak adil. Kemudian ekonomi tertahan hanya di satu wilayah saja. Kekayaan hanya disitu dan tidak merata.sedangkan orang miskin semakin miskin. Daya beli pun menjadi rendah. Akhirnya, hasil produksi di masyarakat semakin kecil. Jika dibiarkan, maka akan timbul sebuah krisis.

Maka sampai disini dapat disumpulkan bahwa praktik riba ini tidak hanya merugikan diri sendiri dengan menjauhkankan diri kita dari Ridho Allah Swt, akan tetapi melibatkan banyak pihak dalam merugikan orang lain. Jika dibiarkan terus terjadi, terutama dikalangan masyarakat itu akan menjadi salah satu penyebab utama krisis ekonomi adalah bunga yang besar pada pinjaman modal. Kondisi masyarakat yang semakin terhimpit membuat perekonomian menjadi lesu dan aktivitas jual beli tidak berjalan. Sistem inilah yanh sejarusnya membuat kota semua sadar bahwa menjauhi serta meninggalkan praktik riba adalah sebuah keharusan. []

 

 

 

News Feed