oleh

Mempersiapkan Kematian yang Indah

Maslahat Umat | Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, aku bertanya kepada Rasulullah Saw tentang wabah , maka beliau menyampaikan kepadaku, “Bahwa itu adalah adzab (hukuman) yang dikirim oleh Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan bahwasanya Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Dunia terguncang dengan wabah virus corona yang mematikan. Hari demi hari, jumlah kasus infeksi Virus Corona COVID-19 di seluruh dunia, termasuk Indonesia kian meningkat. Angka kematian tertinggi tidak lagi ditempati China, tempat Virus Corona bermula, melainkan negara-negara lainnya. Tercatat, ada 4 negara dengan angka kematian tertinggi, yang sudah melebihi 10.000 kematian. Sebut saja Italia, disusul Spanyol, lalu Amerika Serikat, dan Prancis.

Allah Swt berfirman: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imran:185].

Dalam ayat yang lain, Allah Swt berfirman: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa (26). Dan tetaplah kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (27). – (Q.S Ar-Rahman: 26-27). “Allah lah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. – (Q.S Al-Mulk: 2)

Juga diingatkan, “Tiap-tiap umat memiliki batas waktu. Maka ketika waktu itu telah tiba, mereka tidak dapat memundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. – (Q.S Al-A’raf: 34)

Ketika ajal telah datang, maka siapapun tak bisa menghindarinya. Raja-raja mati, rakyat biasa mati. Orang kaya mati, orang miskin mati. Tak terkecuali para Babi. Semua pergi menghadap Ilahi. Allah berfirman: Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad Saw) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). [Az Zumar:30].

Tidak ada manusia yang kekal di dunia ini. “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [Al Anbiya:34-35].

Kata Allah Swt, “Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [An Nisa’:78]. Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. [Al Jumu’ah:8].

Setiap manusia akan ditetapkan takdirnya oleh Sang Khalik, Allah Swt: “Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan [Al Waqi’ah:60]. ”Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan. Padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.Tapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah). Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar. [Al Waqi’ah:83-87].

Dalam Al Qur’an dijelaskan, “Dan Dialah (Allah) yang memiliki kekuasaan tertinggi di atas hamba-hamba-Nya. Dan Dia mengutus para malaikat penjaga kepadamu, sehingga apabila kematian mendatangi salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami. Dan mereka (para malaikat) itu tidak pernah melalaikan kewajibannya. (Q.S Al-An’am: 61)

Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk mencabut nyawamu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan”. (Q.S As-Sajdah: 11). Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah perkara yang kamu selalu lari daripadanya. (Q.S Qaf: 19)

Allah menggenggam jiwa seseorang ketika matinya dan menggenggam jiwa seseorang yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia menahan jiwa seseorang yang ajal kematiannya telah tiba dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (Q.S Az-Zumar: 42)

“Maka mengapa ketika nyawa (salah seorang di antara kalian) telah sampai di kerongkongan. Padahal ketika itu kamu sendiri menyaksikan, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu, namun kamu tidak melihat, Maka mengapa jika kamu tidak tunduk (kepada Allah), tidak kamu kembalikan saja nyawa itu (pada tempatnya) jika kamu memang orang-orang yang benar? (Q.S Al-Waqiah: 83-87)

Mengigat Mati

Kematian adalah misteri. Kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput. Kematian tak kenal tua atau muda, saat sakit atau sehat, saat lapang atau sempit. “Sesungguhnya, hanya di sisi Allah sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat. Dialah Yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di belahan bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S Luqman: 34).

Meski marabahaya di depan mata, tapi jika Allah belum berkehendak, maka tadir kematian itu belum sampai kepadanya. Begitu pula jika ajal telah tiba, maka kita tak bisa menangguhkannya. Allah Swt berfirman: “Setiap yang bernyawa tidak akan mati melainkan atas izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya…”(Q.S Ali Imran: 145.

 “Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah tiba waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (Q.S Al-Munafiqun: 11).

 Dalam ayat yang lain: Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu hindari itu, maka sesungguhnya kematian itu pasti akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang maha mengetahui perkara yang ghaib dan yang nyata. Lalu Dia akan memberitahukan segala apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S Al-Jumuah: 8)

 Imam Ibnu Majah meriwayatkan: Dari Al Bara’, dia berkata: Kami bersama Rasulullah Saw pada suatu jenazah, lalu Beliau duduk di tepi kubur, kemudian Beliau menangis sehingga tanah menjadi basah, lalu Beliau bersabda: “Wahai, saudara-saudaraku! Maka persiapkanlah untuk yang seperti ini,!” [HR Ibnu Majah].

Ketika kita shalat, maka jadikanlah shalat yang kita lakukan seperti shalat yang terakhir. “Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya.”

Camkanlah pesan Rasulullah kepada umatnya. “Ambillah lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim)

Kata Rasulullah Saw, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”  Suatu hari ada seorang yang bertanya:  “Tatkala mengingat surga dan neraka engkau tidak menangis, mengapa engkau menangis ketika melihat perkuburan?” Utsman pun menjawab, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya liang kubur adalah awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari (siksaan)nya maka (siksaan) selanjutnya akan lebih kejam.”

Pesan Nabi Saw

Rasulullah Saw berpesan, “Perbanyaklah kalian dalam mengingat penghancur segala kelezatan dunia, yaitu kematian.” (HR at-Tirmidzi). Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun. Dan sangat sedikit di antara mereka yang melewati itu.” [HR Ibnu Majah].

Syumaith bin ‘Ajlan berkata: “Barangsiapa menjadikan maut di hadapan kedua matanya, dia tidak peduli dengan kesempitan dunia atau keluasannya. [Mukhtashar Minhajul Qashidin].

Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku bersama Rasulullah Saw, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada Beliau, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi Saw, lalu dia bertanya: “Wahai, Rasulullah, manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?” Beliau menjawab,”Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Dia bertanya lagi: “Manakah diantara kaum mukminin yang paling cerdik?” Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” [HR Ibnu Majah].

Kemudian dari Abdullah bin Umar ra, dia berkata: Rasulullah Saw memegang pundakku, lalu bersabda,”Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah seorang yang asing, atau seorang musafir.” “Jika engkau masuk waktu Subuh, maka janganlah engkau menanti sore. Jika engkau masuk waktu sore, maka janganlah engkau menanti Subuh. Ambillah dari kesehatanmu untuk sakitmu. Dan ambillah dari hidupmu untuk matimu.” [HR Bukhari].

Hari demi hari kita mendengar kabar dan menyaksikan kematian demi kematian, saudara-saudara yang wafat karena Covid-19 atau penyakit yang lain. Diantara kita pun diuji oleh rasa takut dengan virus mematikan tersebut. Lagi-lagi kita diuji oleh rasa takut.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. (Q.S Al-Baqarah: 155).

Ketika Allah mengirimkan wabah kepada hambanya di muka bumi, maka tidak mengenal status seseorang. Kaya atau miskin, raja atau rakyat biasa, orang soleh atau ahli maksiat. Seperti halnya kematian yang menimpa para sahabat Nabi Saw saat wabah datang.

Diantara kita telah memahami protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, tapi  masih juga terpapar. Ini bukan persoalan memahami atau tidak, tapi Allah punya kehendak. Allah yang menetapkan takdir kepada siapa yang dikehendakinya. Manusia boleh saja berikhtiar, tapi lagi-lagi  Allah yang Maha berkehendak.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, aku bertanya kepada Rasulullah Saw tentang wabah , maka beliau menyampaikan kepadaku, “Bahwa itu adalah adzab (hukuman) yang dikirim oleh Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan bahwasanya Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Dengan kerendahan hati, yuk kita  berdoa: “Ya Allah ya Tuhanku, penyakit ini adalah Tentara diantara tentara-Mu. Engkau palingkan penyakit ini kepada siapa yang kau kehendaki. Dan Kau timpakan kepada siapa yang Kau kehendaki. Ya Allah, jauhkanlah (penyakit) ini dari kami. Dan dari rumah-rumah kami, dari keluarga kami, dari istri dan anak cucu kami, dari Negeri kami kaum Muslimin. Dan jagalah kami dari yang kami takuti dan apa yang kami waspadai. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik Penjaga, dan Engkau adalah Maha Penyayang dari semua penyayang.”

Maut pasti datang,  cepat atau lambat, Malaikat Maut Izrail kan datang menjemput. Kita adalah milik-Nya, dan akan diambil kembali pada pemilik-nya. Yuk kita persiapkan akhir yang indah, kematian yang husnul khatimah dengan  melafazkan kalimat tauhid ‘Lailaha illallah’, Muhammad Rasulullah.” Amin ya Robbal Alamin. (Adhes Satria)

 

 

News Feed