oleh

Memilihkan Pasangan Terbaik untuk Ananda

Diasuh oleh: Ustadzah Rochma Yulika

Maslahat Umat | Menjadi tugas orang tua harus mendampingi ananda. Sedari kecil dibimbing untuk berprestasi dan mengenal Ilahi. Secara konsisten harus kita lakukan jika ingin anak kita menjadi sosok yang benar-benar bisa dijadikan teladan oleh orang banyak.

Tidak mudah, karena butuh perjuangan serta pengorbanan. Tak hanya finansial tetapi mental harus ada pada diri kita sebagai orang tua. Untuk masalah finansial walaupun adakalanya sampai pada titik sulit masih jauh lebih mudah diatasi. Tetapi berkaitan dengan mental ini yang butuh penjagaan secara kontinyu. Karena bila kondisi orang tua melemah maka punya pengaruh pada ananda. Kondisi mental yang prima bermula dari kedekatan diri sebagai seorang hamba dan Rabbnya. Maka taqarub ilallah menjadi keniscayaan.

Waktu pun berjalan. Hingga pada saatnya ananda masuk usia yang sudah bisa dikatakan mendewasa. Itu pun masih harus didampingi karena sebagai orang tua tetap bertanggung jawab akan jadi seperti apa ananda. Saat sudah memasuki usia dewasa bukan hanya kita berharap untuk berprestasi tetapi berperan untuk menyampaikan kebenaran.

Dan sampai waktunya ketika menjalani hidup tak hanya sendiri saja, ada saatnya butuh pasangan. Maka jenjang pernikahan itulah yang diharapkan oleh banyak orang tua ketika anaknya tumbuh dewasa. Saat seperti ini peran orang tua tetap harus ada. Senantiasa Mendampinginya hingga bertemu pasangan yang terbaik. Memilihkan yang tepat agar kelak menjadi keluarga bermartabat di tengah masyarakat.

Maka beberapa kriteria ketika kita memilihkan pasangan terbaik untuk ananda antara lain:

1. Taat kepada Allah.
Seseorang yang taat kepada Allah tentu akan menjadikan Al Qur’an dan hadits sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Apalagi ketika pernikahan itu adalah ibadah yang terpanjang, tentunya ujian yang ada pun sepanjang usia pernikahan tersebut hingga mereka kembali pada Nya. Jadi sosok yang taat beragama menjadi pilihan pertama karena dalam hadits pun demikian telah kita pahami bersama.

“Bila datang seorang laki-laki yang kamu ridhoi agama dan akhlaknya, hendaklah kamu nikahkan dia, karena kalau engkau tidak mau menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).

2. Menjalankan Sunnah Rasulullah.
Sosok Rasulullah adalah guru bagi manusia. Maka meniru segala sepak terjangnya sudah seharusnya. Maka sebagai orang tua harus benar meneliti kepribadian seseorang yang akan mendampingi anak kita. Bagaimana terjaga secara rutin amal Sunnahnya karena kita tahu bahwa amal Sunnah itu juga bisa untuk mengukur kadar keimanan kita. Karena amal Sunnah sebagai amal tambahan untuk semakin taqarub ilallah.

3. Berakhlak mulia
Akhlak menjadi sesuatu yang penting. Karena kebersamaan dalam waktu yang sangat lama tak mungkin lepas dari konflik. Maka pribadi yang berakhlak akan mampu menyelesaikan konflik dalam rumah tangga dengan cara yang baik dan tak akan berdampak pada hal yang bisa merugikan.

4. Bersemangat dalam berdakwah.
Tugas dakwah itu tidak bisa dilepaskan dari hidup kita. Bahkan ketika sejak dini anak-anak kita sudah dikenalkan dengan dunia dakwah maka sangat berharap mereka pun ketika membangun sebuah keluarga juga punya peran dakwah. Maka kita pun berkewajiban untuk memilihkan pasangan yang juga memiliki peran serta sudah menjadi bagian dari dakwah itu sendiri.

5. Berasal dari keluarga yang baik.
Latar belakang keluarga punya pengaruh terhadap karakter seseorang. Maka asal usul keluarga dan seperti apa kondisinya apakah mendukung dakwah apalagi apakah menjadi bagian dari dakwah bisa jadi perhitungan. Maka memilihkan pasangan untuk anak kita dengan melihat latar belakang keluarganya perlu menjadi perhatian juga walau bukan satu-satunya ukuran ketika memilihkan ananda.

6. Mandiri secara ekonomi.
Melanjutkan kehidupan butuh finansial. Bagaimana pun juga seseorang yang akan menikahi anak kita dia adalah seseorang yang sudah bekerja. Walau bukan pekerjaan tetap yang jelas tetap bekerja. Mengapa demikian? Karena masalah ekonomi kadang bisa jadi sumber masalah dalam hidup berkeluarga. Selain itu dalam hidup butuh makan dan ketika sudah memiliki anak akan butuh banyak biaya yakni kesehatan, pendidikan dan banyak lagi kebutuhan yang ada. Maka aspek ekonomi perlu dicermati juga.

7. Bertanggung jawab dan berjiwa pemimpin.
Seperti yang di syariatkan dalam Islam bahwa seorang insan harus bisa menjadi seorang pemimpin minimal untuk dirinya sendiri. Kemudian setelah berkeluarga akan menjadi kepala keluarga. Hal itu harus ada jiwa kepemimpinan untuk membuat keluarga tersebut punya arah dan tujuan yang jelas. Ibarat kapal saja butuh nahkoda maka rumah tangga pun butuh ada yang memimpinnya. Masalah jiwa kepemimpinan terikat erat dengan bentuk tanggung jawab terhadap keluarganya. Ada jiwa kepemimpinan dalam diri akan sangat membantu dalam membuat aturan dalam keluarga. Sehingga jiwa kepemimpinan dan punya rasa tanggung jawab ini sangat dibutuhkan karena nantinya seorang suami akan memimpin istri dan anak-anaknya untuk bisa mencapai ridho Allah SWT juga mewujudkan apa yang dicita-citakan.

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah atas perintah Allah kepada mereka dan selalu taat pada apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahriim: 6).

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

News Feed