oleh

Media Sosial, Madu atau Racun?

Oleh: Albayyinah Putri, S.T. | Alumni Politeknik Negeri Jakarta

Maslahat Umat | Siapa sih di sini yang tidak kenal dengan media sosial? Hampir seluruh masyarakat saat ini mengetahui media sosial bahkan sebagian besar dari masyarakat adalah pengguna media sosial. Sudah begitu banyak jenis platform media sosial yang digunakan saat ini, setiap orang bisa saja menggunakan lebih dari satu platform media sosial.

Jika kita ambil lingkup Indonesia saja, menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Sedangkan menurut data We Are Social, Hootsuite, 2020, di Indonesia 88% menggunakan Youtube, 84% menggunakan WhatsApp, 82% menggunakan Facebook, 79% menggunakan Instagram serta masih banyak media sosial lainnya yang digunakan, seperti Twitter, Line, Pinrest dan lain sebagainya. Youtube menjadi platform yang paling sering digunakan pengguna media sosial di Indonesia berusia 16 hingga 64 tahun.

Berdasarkan data tersebut, kita simpulkan bahwa anak berumur 16 tahun sudah menggunakan media sosial. Artinya generasi muda atau generasi milenial saat ini menjadi bagian dari pengguna media sosial terbanyak. Sebenarnya apa sih kegunaan media sosial? Kenapa saat ini begitu banyak platform media sosial?

Semenjak pandemi, pengguna media sosial mengalami peningkatan. Berdasarkan data YouGov yang dikutip Facebook for Business  penggunaan media sosial naik hingga 38%. Belum lagi para pekerja, mahasiswa, siswa dan mereka yang tadinya memiliki kegiatan di luar rumah, saat ini beralih melakukan kegiatan di dalam rumah. Kegunaan media sosial sendiri sebenarnya sangat membantu dalam keperluan interaksi sosial. Di era digital saat ini, kita tidak perlu pergi jauh untuk menemui sahabat, keluarga atau rekan kita untuk menyambung silaturahim, karena melalui chatting-an free call atau video call kita sudah bisa mengetahui kabar mereka ataupun mengobrol dengan mereka.

Selain itu, media sosial juga bisa digunakan sebagai media penghibur, informasi, ataupun penunjang dalam menggali kreativitas. Banyak hal positif sebenarnya yang bisa kita dapat dari penggunaan sosial media. Namun, jika tidak adanya pengaturan atau pembatasan yang jelas maka penggunaan media sosial ini akan berakibat buruk bagi generasi muda. Seperti penanganan terhadap konten porno, kekerasan atau konten-konten berbahaya lainnya.

Saat ini, hampir semua negara di dunia merupakan pengguna sistem demokrasi-kapitalis yang mengusung kebebasan pada setiap individunya. Kapitalis sendiri menggunakan landasan sekularisme sebagai aturan kehidupan masyarakatnya, yaitu memisahkan agama dengan kehidupan. Banyaknya konten-konten dewasa ataupun opini-opini yang berlandaskan kebebasan, lahir dari ideologi yang diterapkan saat ini. Setiap orang bebas beropini menurut pemahamannya, setiap orang bebas meng-upload apa yang mereka sukai, setiap orang bebas melakukan apapun di media sosial selama postingannya tidak mengganggu kebebasan orang lain. Rumitkan? Setiap kebebasan individu itu hanya dibatasi atau diatur oleh kebebasan individu lainnya.

Kebebasan atau paham liberalisme inilah yang sekarang berkembang di tengah masyarakat. Bahkan kita pribadipun sering merasa, “selama gue senang, gue bebas melalukan apapun semau gue”. Banyak sekali konten-konten yang seharusnya tidak pantas diposting tapi malah menjadi postingan yang viral. Seperti mengumbar aib diri sendiri atau aib orang lain, menghina orang lain, menghina ulama, menyebarkan pemahaman salah tentang agama terutama Islam dan masih banyak konten-konten yang tidak bermanfaat lainnya.

Padahal Allah SWT memerintahkan kita untuk menjauhi hal tersebut, seperti yang dijelaskan dalam Firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (TQS al-Hujurat ayat 12)

Paham liberal atau paham kebebasan bisa menjadikan media sosial itu sebagai racun bagi kita semua, karena standarnya bukan halal-haram lagi, tapi baik atau tidaknya menurut kita pribadi. Padahal bagi seorang Muslim, setiap aktivitasnya harus disandarkan kepada hukum syara’ yaitu standar wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram, karena semua aktivitas kita kelak akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT, termasuk bagaimana kita memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini seperti media sosial.

Sungguh berbeda dengan fakta yang ada saat ini, dalam Islam kita juga bebas menggunakan media sosial dengan tujuan apapun, namun kita harus berpikir lebih dulu sebelum mem-posting, apakah mengandung kemaksiatan ataupun berita hoax karena semua aktivitas kita itu memiliki konsekuensinya. Sebagai Muslim, seharusnya bisa menjadikan setiap aktivitas kita yang ada di media sosial itu akan mendatangkan pahala. Seperti mengajak kepada kebaikan Islam.

Inilah yang menjadikan media sosial madu untuk kita. Semua postingan yang pernah kita posting, kelak akan kita pertanggungjawabkan. Maka, seharusnya kita memperbanyak aktivitas positif dalam menggunakan media sosial dengan menambah tsaqafah Islam, mengikuti kajian Islam secara online, memosting konten-konten dakwah Islam dan hal-hal positif lainnya.

Memperdalam ilmu Islam juga bisa menunjang kita dalam menggunakan media sosial. Dengan ilmu, kita bisa membedakan benar dan salah menurut Islam, kita tidak akan mudah terprovokasi oleh akun-akun tertentu, kita juga bisa memfilter mana yang pantas kita ambil dan mana yang tidak perlu kita ambil untuk dimanfaatkan dikehidupan kita. Tidak semua yang viral ataupun trending itu berefek baik untuk kita, apalagi bagi kaum Muslimin.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Fushshilat  ayat 33 yang artinya, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Dan Al-Qur’an Surah Yusuf ayat 108 yang artinya, “Katakanlah: “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (ilmu dan keyakinan). Maha suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”

Sesungguhnya, selain peran individu yang mengontrol diri dalam menggunakan media sosial, cara paling efektif mem-filter segala konten yang ada di media sosial dengan didukung peran masyarakat dan negara. Sayangnya saat ini negara kita menganut sistem kufur, sehingga hanya kebebasan individulah yang menjadi landasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Padahal masyarakat saat ini sangat butuh dalam beramar ma’ruf nahi munkar dan negara yang bisa membuat pengaturan terhadap konten yang berakibat merusak pemahaman Islam atau akidah Islam.

Jadi, negara bukan hanya memberi saran atau arahan untuk menjaga diri dari pengaruh buruk media sosial ataupun meminta setiap individu agar bijak dalam bermedia sosial, karena hal itu tidaklah cukup tanpa ada peran negara yang benar-benar mengonrol setiap individu dan masyarakat itu sendiri.

Dalam Islam, negara adalah perisai dan pelindung bagi umatnya agar tidak terpapar pemahaman-pemahaman yang merusak akidah. Negara juga bertanggung jawab atas konten-konten yang berbau seksual, pornografi, penghinaan agama, penghinaan terhadap Allah, penghinaan terhadap Rasulullah SAW ataupun penghinaan terhadap ulama. Fitnah dan propaganda yang terjadi saat ini di media sosial, juga hal yang perlu di berantas oleh negara.

Di sini dapat disimpulkan bahwa media sosial bukanlah ranah individu atau masyarakat saja, tapi ranah negara yang mampu memfilter semua informasi atau berita yang bertebaran di media sosial, termasuk pemahaman liberalisme, feminisme, kapitalisme sekularisme ataupun pemahaman-pemahaman lainnya. Jika sistem saat ini adalah sistem Islam, media sosial hanya akan digunakaan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi umat, menjaga umat dari pemahaman asing dan juga dimanfaatkan untuk mensyi’arkan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Penggunaan media sosial dalam sistem Islam pun akan mampu membongkar segala kebobrokan yang ada dalam sistem-sistem kufur dari negara-negara Barat. Sehingga hal ini sangat bermanfaat bagi kaum Muslimin di seluruh dunia, agar mereka semakin yakin dengan  sistem Islam yang mampu melindungi seluruh umat dan menyatukan umat dalam naungan Daulah Islam.

Semua hal tersebut hanya bisa terwujud dengan adanya Khilafah Islamiyah. Sangat mustahil semua hal positif tersebut ingin kita dapatkan dalam sistem demokras saat ini. Sampai kapapun selama sistem demokrasi-kapitalis diterapkan di kehidupan kita, selama itu juga media sosial akan terus menjadi racun bagi kita semua. []

 

News Feed