oleh

Lezatnya Bisnis Herbal di Era New Normal

JAKARTA | Maslahat Umat  – Seminar Herbalpreneur yang bertemakan “Lezatnya Bisnis Herbal, Songsong Era New Normal” berhasil diadakan pada Jumat (26/6) dari pukul 18.15 – 21.00 WIB secara Live di Zoom Webminar.

Sesi pertama seminar ini diisi oleh Ust Fakhrizal Idris, Lc., MA yang menyampaikan apa dan bagaimana rezeki menjadi barokah. Perlu dipahami bahwa Rezeki senantiasa mencari pemiliknya, sebagaimana kutipan sebuah hadits “Rezeki senantiasa mencari manusia, sebagaimana ajal (kematian) yang juga senantiasa mencarinya”. (HR. Ibnu Abi Ashim : 264).

Selanjutnya ia menyampaikan bahwa ada 3 hal yang menjadi landasan di dalam memandang rezeki, yaitu :
Pertama, kaya dan miskin adalah perspektif dan persepsi seorang hamba terhadap rezeki dan Allah ta’ala. “Aku menurut persepsi hamba – Ku kepada – Ku dan Aku bersamanya jika dia berdoa.” (HR. Muslim no. 2675).

Kedua, Miskin dan Kaya adalah pilihan . “Siapa yang ingin dilapangkan rezeki, dipanjangkan ajalnya maka hendaknya dia menyambung silaturahim”. (HR. Al Bukhari 2067 dan Muslim 2557). Hikmah dari sini, diantaranya jika ingin bertambah rezeki maka perbanyak silaturahim. Kegiatan silaturahim dan bekerja adalah pilihan bagi kita agar menjadi kaya atau miskin. Pintu – pintu rezeki sangat banyak, dari bekerja, shalat dhuha, silaturahim, berjualan, dan seterusnya masing – masing orang berbeda – beda.

Ketiga,  Rezeki yang barokah adalah rezeki yang mendekatkan pemiliknya kepada Allah ta’ala, mempunyai manfaat yang banyak dan berkelanjutan di dunia maupun akhirat.

Pemateri selanjutnya, Dr. Apt. Kintoko, M.Sc. yang dikenal sebagai pakar herbal dan pengusaha herbal menyampaikan bahwa herbal adalah salah satu bisnis yang prospek di masa kini dan masa depan. Ia menyampaikan saat New Normal seperti sekarang, ketika ekonomi Indonesia turun dan belum tahu kapan normalnya menjadikan orang banyak yang stress yang berdampak terhadap berbagai penyakit. Maka ketika dalam pengobatan dan pencegahan penyakit, banyak yang beralih ke herbal karena dianggap lebih aman. Ketika permintaaan akan herbal meningkat maka harga menjadi naik sehingga banyak yang mengalihkan perhatianya untuk lebih fokus dalam menjalani bisnis herbal saat situasi seperti ini.

“Kenapa bisnis herbal sangat “lezat” di Indonesia?, karena memenuhi 3 aspek yaitu bahan baku melimpah, pasar luas, dan bentuknya yang variatif”, lanjutnya.

Dr. Apt. Kintoko, M.Sc juga menyampaikan minimal peluang pertama dalam bisnis herbal adalah menolong terhadap kita sendiri dan saudara – saudara terdekat di dalam menjaga kesehatan. Herbal juga berpeluang diekspor ke negara – negara maju seperti Amerika dan Eropa terutama Jerman dan Perancis.

Keunggulan Komparatif Indonesia menurutnya yaitu ada pada : Kuliner, Herbal, Farmasi, dan Jasad renik (Microorganisme) sebagaimana ia kutip dari studi banding DPR RI ke Australia, Amerika dan Swiss. Estimasi besar omzet bisnis herbal tahun 2025 diperkirakan 23 trilyun, akan tetapi omzet 2016 dari gabungan pengusaha jamu nasional adalah 18 trilyun, artinya kenyataan di lapangan dapat menjadi lebih besar daripada estimasinya.

Kekayaan herbal Indonesia dikatakannya memiliki 30.000 jenis herbal dan nomer 4 di dunia yang masih perlu banyak digali, dan berpeluang di pasar internasional.

Selanjutnya ia menyampaikan, jika dari 30.000 herbal tersebut belum memungkinkan untuk digali maka dapat menjadi 11 herbal pilihan Indonesia yang paling banyak dan dibutuhkan saat ini diantaranya : kunyit, sirih, jahe, kelapa, kumis kucing, pinang, sirsak, kencur, temulawak, meniran, mengkudu.

“Ada banyak teori herbal yang dapat dipakai oleh peserta ketika akan meracik herbal, karena itu ketika kita ingin bisnis herbal diharapkan memahaminya meski tidak harus mendalam, dimulai dari yang paling mudah dan sederhana.”, pungkas beliau.(yyd/rsp/yat).

News Feed