oleh

Kunci Perubahan dengan Islam Kaffah

Oleh: Azizha Nur Dahlia | Mahasiswi Universitas Bina Sarana Informatika

Maslahat Umat | Tahun hampir berganti, namun Covid-19 belum menampakkan tren penurunan kasus, justru semakin menunjukkan pertambahan kasus tinggi per harinya. Perih yang diakibatkan pandemi Covid-19 tidak hanya dirasakan oleh sektor kesehatan, tapi juga sektor sosial. Walaupun sebelum pandemi masalah sosial bermasyarakat pun belum usai namun adanya pandemi ini menambah kasus bertambah tinggi.

Sungguh miris melihat bagaimana masyarakat berjuang secara mandiri untuk bertahan di situasi yang tidak menentu seperti ini. Semisal banyaknya tulang punggung yang di PHK akhirnya harus kehilangan sumber penghasilan atau anggota keluarga yang terpaksa keluar rumah untuk mencari penghasilan tambahan dan ini mempengaruhi kestabilan dalam keluarga.

Seperti dilansir republika.co.id, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur Andriyanto mengungkapkan masih tingginya tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang 2020. Data Sistem Informasi Online Kekerasan Ibu dan Anak (Simfoni) mengungkapkan adanya 1.358 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jatim, yang tercatat hingga 2 November 2020.

Sayangnya kekerasan dilakukan oleh anggota keluarga terdekat, sungguh menyedihkan. Walaupun sudah ada Perda yang memayungi kasus ini namun bukan lantas kasus ini lebih menurun melainkan justru  malah makin meningkat. Kasus kekerasan seperti ini akan memberikan dampak negatif bagi tumbuh kembang anak yang masih panjang perjalanan hidupnya.

Juga tingginya angka perceraian di wilayah Jatim. Sepanjang 2019 tercatat hanya ada 8.303 kasus perceraian. Angka itu meningkat drastis pada 2020 yang hingga akhir September tercatat ada 55.747 kasus perceraian. Masalah ini juga harus segera dicarikan solusinya. Dan inipun baru dari wilayah Jawa Timur belum daerah lainnya. Dengan berpisahnya orang tua ini secara langsung anak akan merasakan imbasnya.

Ditambah lagi semasa pandemi seperti ini banyak sekolah yang akhirnya mengganti sistem belajarnya secara online. Akhirnya aktivitas yang biasa dilakukan di luar rumah terpaksa dihentikan untuk memutus rantai penularan. Lalu beralihlah aktivitas menjadi di rumah saja, maka menonton adalah menjadi pilihan.

Bukan tidak boleh namun tontonan yang disediakan di televisi maupun di platform lainnya banyak yang tidak cocok untuk usia anak-anak. Dibuktikan dalam dunia perfilman, Lembaga Sensor Film RI melaporkan pada 2019, film dengan kategori usia “semua umur” (yang berarti ramah ditonton anak) hanya sekitar 10-14 persen. Jumlah penonton anak tidak sebanding dengan jumlah film anak yang tersedia. Kondisi ini membuat penonton anak, beralih turut menonton genre film yang tidak sesuai dengan usia mereka.

Padahal bagi anak tontonan merupakan tuntunan, ditambah masa pandemi seperti ini. Bagaimana cara unruk meningkatkan tontonan yang ramah bagi anak? Kemajuan tontonan seperti ini tidak hanya ditentukan para sineas namun adanya sinergi antara negara dan pemangku kepentingan lainnya. Jadi bukan tidak mungkin untuk membuat tontonan yang ramah anak namun apabila tidak ada keuntungan di situ maka akan berhenti begitu saja.

Maka peran negara sangat dibutuhkan di sini, mulai dari permasalahan kekerasan anak sampai penjaminan mutu tontonan ramah anak harus diatur. Tentu saja diatur dengan aturan syariah dengan penggunaan aturan dari Islam adalah kunci perubahan. Maka, kunci perubahan dengan menerapkan Islam kaffah. Bukan seperti hari ini, terlihat pemerintah abai sekali untuk menjamin hak dan fungsi kepada rakyatnya. Sistem kapitalis ini mana mungkin berpihak pada rakyat. Omong kosong sekali dengan semboyan dari rakyat untuk rakyat. Kita bisa menyaksikan bahkan merasakannya sendiri bagaimana sistem ini bekerja.

Anak merupakan investasi bagi negara untuk meneruskan keberlangsungan hidup di masa datang. Lantas negara apa yang ingin dibentuk apabila kehidupan anak begitu rapuh?

Penggunaan Islam secara menyeluruh tentu tidak akan memunculkan kegagalan seperti yang terjadi pada hari ini. Kekerasan anak maupun perempuan akan ditekan kasusnya sampai nol. Sejatinya kasus seperti ini muncul karena  himpitan ekonomi yang semakin menjepit dan di sistem ini meniscayakan bahwa materi adalah sumber kebahagiaan. Maka ini akan menjadikan orang berlomba-lomba untuk memperkaya diri sendiri bagaimana caranya. Apabila tidak tercapai maka keluarga lah yang jadi sasarannya.

Tentu berbeda bila Islam sudah menjadi poros kehidupan, negara akan menjamin kebutuhan rakyatnya tanpa terkecuali. Seperti menyediakan lapangan pekerjaan bagi para pencari nafkah, lalu dijaminya kebutuhan dasar secara murah bahkan gratis. Dan menanamkan rasa bersyukur kepada Allah dalam setiap apa yang diperoleh dan mendorong untuk berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mencari Ridha Allah maka pengaruh keimanan akan dibutuhkan di sini.

Negara juga akan menjamin anak untuk mendapatkan pendidikan terbaik, dengan modal utamanya adalah penanaman akidah. Dan negara akan menerapkan media pembelajaran secara shahih. Walaupun anak tidak bisa bersekolah secara tatap muka maka media lain akan digunakan. Namun negara akan tetap memantau perkembangannya secara ketat. Terlebih yang digunakan adalah seperti dari tontonan maka akan ada pemantauan, agar yang dikeluarkan tidak melenceng dari syariat, seperti mengandung pemain film yang membuka aurat atau memerankan adegan dewasa.

Terwujudnya negara yang berdasarkan hukum Allah akan memberikan kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Karena negara tidak hanya mengatur namun mengurus maka permasalahan sekecil apapun tentu akan menjadi perhatian dan tidak justru mengabaikan seperti yang saat ini dirasakan. []

 

News Feed