oleh

Komisi Dakwah MUI Tanggapi Ulama Mauritania

JAKARTA | Maslahat Umat – Wakil Ketua Komisi Dakwah, Ustadz Fahmi Salim menjelaskan terkait beredarnya postingan yang dinisbahkan kepada seorang ulama Mauritania. Penjelasan ini disampaikan, mengingat banyaknya permintaan klarifikasi masyarakat terhadap jawaban untuk menanggapi pernyataan ulama Mauritania tersebut, sehingga tidak membingungkan umat.

Seperti diberitakan viral di media sosial, ulama Mauritania Syekh Ahmad As Syingity dalam fatwanya mengatakan, umat Islam tidak boleh meninggalkan sholat Jum’at dan shalat berjama’ah karena takut virus corona.

Menanggapi fatwa ulama Mauritania itu, Ustadz Fahmi Salim memberikan jawabannya. Dijelaskan, sholat Khouf itu bentuknya khusus dengan  alasan khusus, jama’ah disitu jadi keniscayaan karena pasukan harus solid, hanya shalatnya bergantian saling menjaga satu sama lain. Beda dengan shalat berjamaah dan sholat Jum’at kayfiatnya normal, Cuma dalam situasi darurat bisa diganti dengan shalat dzuhur di rumah masing-masing.

“Berdasarkan hadits tentang azan saat hujan atau bencana. Jadi, bukan meninggalkan shalatnya (karena tak ada rukhsah tinggalkan shalat fardhu), tapi rukhsah menggantinya dengan bentuk lain.”

Selanjutnya, iman kepada qadho dan qadar bukan berarti meremehkan ikhtiar manusia dalam menghindari madharat yang besar. Karena itu mengganti shalat Jum’at dan sholat berjamaah di masjid saat ini diqiyaskan dengan hadits Nabi Saw memberi rukhsah saat hujan besar atau bencana dengan azan Shollu fi rihalikum atau Shollu fi buyutikum.

Mengenai wabah ‘amwas di zaman Umar terdapat di wilayah Syam, gubernurnya saat itu Abu Ubaidah bin Jarrah yang wafat akibat wabah penyakit menular disana. Di Madinah tak ada wabah, sehingga Khalifah Umar tetap menegakkan shalat Jum’at dan jamaah di masjid berjalan normal.

“Dulu ilmu pengetahuan medis belum ada cabang mikrobiologi dan epidemiologi dengan mitigasi yang maju seperti sekarang, sehingga menganggap wabah itu sebagai penyakit biasa, sehingga para sahabat dahulu menilai tetap melaksanakan shalat Jum’at dan shalat berjamaah di masjid seperti biasa. Itu ijtihad mereka, dan tentu saja berpahala. Adapun  yang wafat akibat wabah tha’un jika beriman, maka dinilai Syahid sebagaimana hadits Nabi Muhammad Saw,” jelas Ustadz Fahmi Salim.

Namun kini setelah mengalami kemajuan di abad 20 dibuat mitigasi wabah menular dengan prosedur yang kita kenal sekarang. Inilah yang dahulu dilakukan oleh Khalifah Umar dengan menolak masuk ke wilayah wabah menular. Amr bin Ash yang melakukan mitigasi sederhana dengan perintah isolasi penduduk yg tertular penyakit maupun yang tidak dengan berpencar di bukit-bukit yang saling berjauhan, hingga wabah itu lenyap.

“Jangan sampai agama dan kaum agamawan ditinggalkan pengikutnya jika salah memberikan narasi dan aksi dalam menanggulangi wabah menular spt terjadi di Eropa abad pertengahan. Saya juga mengingatkan bahwa fatwa badan ulama dunia seperti Al-Azhar, Persatuan Ulama Internasional, Dewan Ulama Saudi, MUI dan lain-lain jangan dikaitkan atau diseret kepada wacana phobia kepada Islam dan masjid sebagai pusat peradaban umat,” kata Ustadz Fahmi.

“Fatwa mereka dapat dianggap sebagai ijma ulama, dengan memperhatikan adillah syariah, qawaid fiqhiyyah dan Maqashid syariah yang ketat. Tapi, kalau ada oknum jahat yang hendak menggunakan fatwa tersebut untuk tujuan phobia Islam atau menjauhkan umat dari masjid, maka oknum tersebut bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Allah dan semoga mendapat azab yang pedih,” tegas Ustadz Fahmi Salim, Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI,” tandasnya. (des)

News Feed