oleh

Kita Punya Batasan, Maka Berhijablah!

Oleh: Sanya Khaerunnisa | Mahassiswa Universitas Indonesia

Maslahat Umat | Sudah tahu apa yang menjadi trend di dunia fashion wanita akhir-akhir ini? Sleepwear multifungsi!  Piyama dengan  motif dan model yang bagus sehingga dapat ditolerir saat dipakai ke luar rumah. Oleh karenanya, semakin banyak perempuan yang menggunakan pakaian  tersebut  ketika ke luar rumah yang seharusnya dikenakan di dalam rumah. Padahal saat ingin ke luar rumah, starter pack hijab syar’i yang ada dalam Al-Qur’an adalah jilbab, khimar dan mihnah (pakaian rumah).

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah balig (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya).” (HR  Abu Dawud).

Muslimah, karena kita punya batasan, tentunya adanya batasan tersebut adalah suatu penghormatan yang Islam berikan kepada kaum perempuan. Adapun batasan-batasan dan ketentuannya yakni: Pertama, khimar. Khimar atau biasa kita menyebutnya kerudung, ia harus menutupi dada, tidak tipis dan tidak menerawang. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah an-Nuur ayat 31 yang artinya, ”…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…”

Kedua, jilbab. Sebagaimana firman Allah SWT al-Ahzab ayat 59 yang artinya, “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Namun, banyak di antara kita yang mengartikan  jilbab sebagai kerudung. Tapi ternyata pada ayat di atas,  Allah memerintahkan setiap wanita menutupkan/mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh. Di dalam kamus Lisanul ‘Arob, Ibnu Mandzur mengatakan, “Dan al-jilbab = al-qomish (baju panjang). Dan al jilbab = pakaian luas, lebih luas dari khimar (penutup kepala), selain ar ridaa (mantel), yang digunakan oleh wanita untuk menutupi kepala dan dadanya.” Mudahnya, jilbab adalah kain/baju panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Kalau hari ini yang sering kita temui adalah gamis. Maka jilbab itu adalah gamis.

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar, beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menyeret pakaiannya dengan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana yang harus diperbuat para wanita terhadap ujung baju (jilbab) mereka?” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mereka mengulurkan sejengkal.” Ummu Salamah bertanya lagi: “Kalau demikian terlihat kaki mereka.” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mengulurkan bajunya sehasta dan jangan lebih dari itu.”

Kemudian bagaimana jika nanti gamisnya kotor? Jangan khawatir! Ummu Salamah juga berkata: Rasulullah SAW bersabda, ”Tanah selanjutnya menjadi pembersihnya.” kalau gamis sudah irkha’ tapi takut masih kelihatan kaki (karena kaki juga termasuk aurat) pakailah kaos kaki atau sepatu yang tertutup tapi keberadaan keduanya tidak menggugurkan kewajiban irkha’-nya gamis ya. Jadi tetep, tidak boleh ngatung.

Ketiga, mihnah. Yang ketiga ini yang mungkin masih sering terlewat dari perhatian kita. Memang tidak ada dalil yang secara gamblang mengatakan mihnah tapi dari dalil berikut Allah menyebutkan, “Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah lagi, maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak bermaksud menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. ”(QS an-Nur: 60)

Allah menyebutkan pakaian luar itu artinya ada pakaian di dalam, tapi mihnah ini bukan underwear ya. Mihnah biasanya berupa daster atau celana panjang dan kaos yang tidak ketat.

Andai ketika kita memiliki pakaian niatnya adalah sebagai bentuk ketaatan, karena rasanya rugi jika memilih pakaian hanya untuk dipandang.  Shalihah, syari’at Islam  itu di atas peraturan apapun di dunia. Pilihan Allah adalah yang terbaik, rasanya sombong sekali jika diri ini tidak mau hidupnya diatur dengan syari’at atau bikin aturan sendiri yang dianggap lebih baik daripada syari’at-Nya. Dapat dipastikan, hidup tidak akan tenang dan masalah tidak akan selesai. Sebab hanya dengan dekat kepada-Nya lah hati akan merasa tenang dan hanya aturan Islam yang punya solusi dari setiap permasalahan.

Bagi yang baru berhijab syar’i pasti akan punya banyak kendala mulai dari lingkungan, pekerjaan, teman, keluarga hingga aktivitas sehari-hari. Ketika pergi ke pantai, kaos kaki ditinggalkan, ketika kerja di lapangan, jilbabnya disimpan kemudian kerja mengenakan celana panjang. Ketika niatnya lillahi ta’ala maka tantangan seperti aktivitaslah yang menyesuaikan hijab kita bukan  hijab yang menyesuaikan aktivitas.

Hukum syara itu adalah seruan Allah SWT,  jadi Allah pasti tahu bahwa aturan yang diturunkannya mampu dikerjakan semua manusia tanpa terkecuali. Islam itu selalu memuliakan. Islam ingin menjaga kita dengan sebaik-baiknya penjagaan. Maka, pakailah pakaian yang Allah perintahkan, telah jelas perintah-Nya adalah jilbab dan khimar yang seharusnya kita gunakan. Gunakanlah sebagai bentuk ketaatan kita pada-Nya. Dengan demikian kita akan melihat, menyadari, merasakan bagaimana Islam memuliakan kita, wanita.

Pembicaraan tentang wanita dalam Islam itu bukan pembicaraan yang ala kadarnya, bukan pembicaraan yang sifatnya tambahan. Tapi sejatinya pembicaraan tentang wanita dalam Islam  itu adalah pembicaraan tentang sebuah peradaban besar. Bukankah dengan adanya Surah an-Nisaa dalam Al-Qur’an itu adalah suatu tanda dari Allah bahwa wanita dalam Islam itu sangat terhormat? Sangat mulia? Ketahuilah shalihah, kamu terhormat.

Maka, niatkan ikhlas hanya untuk Allah saja, tidak berjilbab karena dimarahi orang tua, terpaksa disuruh sekolah, apalagi karena  ingin dapat jodoh yang shaleh. Jika salah niat pasti akan hilang arah, ketika faktor eksternal hilang, maka hijab bisa ditinggalkan. Kunci bisa istiqamah berhijab syar’i taat tanpa tapi, taat tanpa nanti. Jangan tunggu siap, jangan tunggu gampang, jangan banyak alasan, selagi Allah masih kasih kita kesempatan, jawaban kita cukup sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat) itu sudah cukup jadi pegangan agar kita bisa istiqamah. So, sudah semakin mantap untuk berhijab syar’i? semoga Allah beri keteguhan hati yaaaa!Kamu tidak akan jadi manusia paling ketinggalan zaman karena hijab syar’i kamu kok . []

News Feed