oleh

Kisah Abdullah Ibnu Ummi Maktum, Sahabat Nabi yang Matanya Buta

Keterbatasan Dalam Melihat Bukan Halangan untuk Taat Pada Allah. Menjadi seorang tuna netra (buta) bukan kendala bagi Abdullah Ibnu Ummi Maktum untuk mendapat dispensasi atau kemudahan dalam menjalankan perintah Allah. Ia tidak pernah mengemis kasihan atas panca indera yang  mengalami buta sejak kecil. Keterbatasan tersebut justeru hanya menambah keimanannya pada Allah dan kesetiaannya dalam Islam.

Seperti para sahabat lainnya, ia tetap berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, menghafalkan Alquran dan hadist, bahkan berjihad. Karena itu Allah memuliakannya. Bahkan, dua surat  dalam Al quran secara istimewa turun atas peristiwa yang terjadi padanya.

Setiap menjelang waktu fajar, dia keluar rumah dan bergegas ke masjid. Tak ada yang bisa menghalanginya. Dia akan bertopang pada tongkat atau bersandar pada lengan salah seorang Muslim. Jika harus sampai ke masjid dengan merangkak, maka Ibnu Ummi Maktum tak akan ragu melakukannya.

Pernah pula suatu kali di tengah jalan kakinya tersandung batu hingga akhirnya mengeluarkan darah. Tetapi, tekadnya bulat. Dia tetap melaksanakan shalat berjamaah ke masjid tanpa peduli dengan luka di kakinya.

Ibnu Ummi Maktum terkenal peka dengan waktu. Dia bisa mengetahui waktu shalat dengan tepat. Atas keistimewaan itu, dia dipercaya untuk mengumandangkan azan bila Bilal Ibnu Rabah berhalangan.  Saat Nabi Muhammad dan rombongannya hijrah ke Madinah, Ibnu Ummi Maktum juga adzan.

Ketekunannya untuk shalat di masjid membuat iblis tak rela. Pada suatu Subuh ia bertemu dengan seorang pemuda yang menuntunnya ke masjid selama berhari-hari. Tetapi, ketika Ibnu Ummi Maktum hendak berterima kasih kepadanya dengan mendoakannya, si pemuda menolaknya.

“Apa untungnya bagi Anda mengetahui namaku dan aku tak mau engkau doakan,” jawab sang pemuda.

“Jika demikian, cukuplah sampai di sini saja engkau membantuku. Aku tak mau engkau menolongku lagi sebab engkau tak mau didoakan,” tutur Ibnu Ummi Maktum kepada pemuda itu.

Maka, sang pemuda inipun akhirnya mengenalkan diri. “Wahai Ibnu Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis,” ujarnya.

“Lalu, mengapa engkau menolongku dan selalu mengantarkanku ke masjid? Bukankah engkau semestinya mencegahku untuk ke masjid?” tanya Ibnu Ummi Maktum lagi.

Sang pemuda itu kemudian membuka rahasia. “Wahai Ibnu Ummi Maktum, masih ingatkah engkau beberapa hari yang lalu tatkala engkau hendak ke masjid dan engkau terjatuh? Aku tidak ingin hal itu terulang lagi.”

“Sebab, karena engkau terjatuh, Allah telah mengampuni dosamu yang separuh. Aku takut kalau engkau jatuh lagi Allah akan menghapuskan dosamu yang separuhnya lagi sehingga terhapuslah dosamu seluruhnya. Maka, sia-sialah kami menggodamu selama ini,” jawabnya.

Ibnu Ummi Maktum tak hanya taat melaksanakan shalat, tetapi juga rajin menghafalkan Alquran. Dia adalah sahabat nabi yang paling banyak menghafalkan Alquran. Dia sangat rajin mendatangi majelis Rasulullah dan menyimak setiap surat yang diturunkan Allah kepada Nabi.

Tak sekali dua kali dia meminta Rasullah mengulang sebuah surah atau firman Allah yang baru saja diterimanya agar dia dapat menghafalkannya. Tetapi, sikap rewelnya ini tak pernah sekalipun membuat Rasullulah kesal. Hingga suatu ketika, Rasulullah sedang gencar-gencarnya berdakwah kepada para pemuka Quraisy. Nabi sangat berambisi untuk mengislamkan mereka.

Pada suatu hari Rasulullah mengadakan pertemuan dengan Utbah bin Rabi’ah, saudara kandung Syaibah bin Rabi’ah, yaitu Amr bin Hisyam atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Jahal dan Walid bin Mughirah atau ayah Khalid bin Walid. Di tengah pertemuan tersebut, Ibnu Ummi Maktum datang menghadap Nabi yang sedang bercengkerama dengan para pembesar Quraisy itu.

“Wahai Rasulullah, ajarkan padaku ayat yang diajarkan Allah kepadamu,” kata Ibnu Ummi Maktum.

Tetapi, kali ini Rasulullah justru memalingkan wajahnya dari sahabat yang buta itu. Allah lalu mengingatkan Rasullullah dengan turunnya surah Abasa sebanyak 16 ayat langsung.

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?”

“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup maka kamu melayaninya. Padahal, tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan, adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera.”

“Sedang ia takut kepada (Allah) maka kamu mengabaikannya, sekali-kali jangan! Sesungguhnya ajaranajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. Maka, barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memerhatikannya…”

Sejak saat itu, Rasulullah memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Bahkan, Nabi memercayakan sejumlah posisi penting untuk diduduki Ibnu Ummi Maktum. Ketika Nabi pergi berperang, sekitar 10 kali beliau meminta Ibnu Ummi Maktum untuk menggantikannya menjadi pemimpin Kota Madinah.

Kecintaan Ibnu Ummi Maktum terhadap Islam tak sampai di situ saja. Satu hal yang begitu dinginkannnya adalah bisa berjihad. Dia tidak peduli dirinya buta. Dia bahkan percaya bahwa dia bisa bermanfaat dalam medan perang. Tetapi, kesempatan untuk membuktikan hal tersebut tak juga didapatkannya.

Setelah Perang Badar, Allah memerintahkan Rasulullah untuk meningkatkan status para mujahidin dan menyindir mereka yang tidak ikut berperang. “Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk atau tidak turun berperang.”

Dispensasi dari Tuhan 

Ibnu Ummi Maktum merespons surat tersebut dengan berdo’a pada Allah.

Dia menyatakan keinginannya yang besar untuk berjihad, tetapi keterbatasan yang dimilikinya tak memungkinkan hal tersebut. “Ya Tuhanku, Engkau memberikan ujian begini, bagaimana saya dapat berbuat?”

Ia tak menunggu lama hingga Allah menjawab lewat turunnya surah an-Nisaa ayat 95. Dalam ayat itu dijelaskan bahwa mereka yang memiliki keterbatasan fisik diberikan dispensasi untuk tak ikut berperang.

Keteguhan Ibnu Ummi Maktum menjalankan ajaran agama ternyata mampu menggugah langit. Para malaikat pun memuji keteguhan Ibnu Ummi Maktum.

Sahabat Anas Ibnu Malik menuturkan bahwa pada suatu hari Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah.

Saat itu, ada Ibnu Ummi Maktum. Jibril lalu bertanya, “Sejak kapan kau tidak dapat melihat?” Yang kemudian dijawab Ibnu Ummi Maktum, “Sejak kanak-kanak.”

Lalu, Jibril berkata, “Allah berfirman, ‘Apabila Aku mengambil indra penglihatan hamba-Ku, tiada imbalan baginya selain surga’.”

Atas kalimat Jibril ini, Rasulullah pun memberi selamat kepada Ibnu Ummi Maktum. “Engkau telah mendapat berita gembira masuk surga, langsung dari malaikat Jibril.”

Bila Rasulullah menjumpainya maka beliau akan mengucapkan, “Selamat datang wahai orang yang dititipkan Tuhanku untuk diperlakukan dengan baik.” Subhanallah.Wallohualambisshawab. (des/dbs)

News Feed