oleh

KH Najih Maimun Zubaer: Pemerintah jangan Berlebihan Curigai Ormas-ormas Islam

Maslahat Umat | Dalam tausyiah akhir tahun 2020,  Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, H. Muhammad Najih Maimoen berpesan, kepada para menteri di kabinet untuk jangan berlebihan mencurigai ormas-ormas Islam, seolah-olah mereka semuanya radikalis, teroris yang mau mengganti pancasila dengan khilafah. Ini jelas adalah hasudan kaum imprealis baik dari barat maupun timur.

Satu ormas yang saat ini diburu, ditangkap pimpinannya tanpa proses hukum yang wajar, dibunuh enam pengawalnya yang rencananya akan dibubarkan organisasinya, bukanlah kelompok teroris yang bisa merakit bom, membawa senjata api, dalam sejarah mereka tidak pernah membunuh warga negara Indonesia sekalipun itu non muslim, bahkan ormas tersebut selalu aktif dan menjadi garda terdepan dalam membantu penanganan bencana alam, mereka juga bukan koruptor Jiwasraya, ASABRI, BLBI, atau Bansos dll.

Begitu juga organisasi ANNAS yang di dalamnya ada para ulama sepuh yang menerangkan kepada umat Islam atas kesesatan-kesesatan syi’ah dan sekaligus membantahnya, sebagaimana Aswaja di NU yang khusus membantah kesesatan Wahhabi. Keduanya ini harus tetap dilestarikan, karena yang sesat bukan hanya Wahhabi saja, tapi Syiah, Ahmadiyah dan Liberal (Isnus, Pluralisme Agama, perizinaan, praktek LGBT, prostitusi, nikah mut’ah, miras) juga sesat, bahkan Aliran Ahmadiyah murtad karena tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang terakhir, begitu juga ajaran dalam kitab literatur klasik syiah menyebutkan bahwa Al-Qur’an sudah tidak terjaga lagi keotentikannya (terjadi distorsi alqur’an pada zaman sahabat).

Desertasi HRS itu tentang Pancasila, beliau menerima pancasila sebagai dasar negara di ormasnya bukan ingin mengganti Pancasila dengan Trisila dan Ekasila persis dengan idiologi komunis karena menghapus sila Ketuhanan Yang Maha Esa seperti kelompok di DPR, justru mereka itulah kelompok teroris-radikalis yang harus digebuk menurut bahasa Bapak dahulu kala.

“Kami menolak dan sangat tidak setuju adanya hubungan diplomasi dengan Israil, karena Israil itu bangsa penjajah sebagaimana dalam bunyi pembukaan UUD 1945 ًpada alinea pertama yang menyatakan bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.”

“Kami bersikukuh bahwa mengucapkan selamat natal bagi seorang muslim adalah haram sebagaimana fatwa-fatwa ulama mazahibul arba’ah bahkan jika sengaja membenarkan atau mengagungkan ajaran mereka maka kufur dan murtad, maka apabila ada pejabat muslim mengucapkan natal diluar gereja maka seharusnya sebatas darurat sebagai pejabat yang mengayomi seluruh anak bangsa bukan sebagai muslim karena akidah muslim tauhid sedangkan mereka trinitas maka jangan sampai membanggakan idiologi trinitas itu apalagi membenarkannya akidah syirik itu karena prinsip tauhid seorang muslim dan trinitas tidak bisa dicampuraduk antara keduanya sebagaimana komunis dengan agama.”

Sarang, 09 Jumadal Ula 1442 H.

 

News Feed