oleh

KH. Didin Hafiduddin: Saat Wabah Corona, Orang Beriman Jangan Frustrasi

JAKARTA | Maslahat Umat – Ramadhan adalah bulan yang berkah, mulia, dan agung. Kehadirannya telah dinantikan sebelum datangnya Ramadhan. Hadirnya Ramadhan mendatangkan kebaikan dan kenikmatan bagi orang-orang yang beriman.

“Virus Corona melanda banyak negara, dan menimpa seluruh tingkatan sosial, pendidikan, pekerjaan. Mulai dari orang kaya, orang miskin, pemain bola, artis, pangeran, pejabat dan masyarakat biasa. Wabah corona telah berdampak luar biasa,” kata Prof. KH. Didin Hafiduddin dalam sebuah siarannya di media online.

Saat ini Ramadhan hadir disaat wabah covid-19. Jika sebelumnya tak berjarak, kini gerak kita menjadi terbatas. Silaturahim dan berjabat tangan pun ditiadakan selama corona. “Namun demikian, situasi ini tidak boleh menyebabkan orang beriman berputus asa dan frustrasi. Kita harus tetap berprasangka baik pada Allah, karena ujungnya menjadi kebaikan bagi umat Islam,” kata KH. Didin.

Dalam Al Qur’an dijelaskan (QS al ‘Araf: 156), musibah akan menimpa bagi siapa yang Allah kehendaki, rahmat-Nya lebih luas ketimbang azabnya. “Karena itu kita harus yakin, wabah ini ujungnya akan menimbulkan kebaikan kepada orang yang bertaqwa, seperti tujuan dari puasa. Awalnya memang dengan kesulitan, tapi ujungnya kebaikan bagi kita semua.”

kh. Didin mengingatkan, bertakwalah dimanapun kita berada, baik dalam perilaku dan pekerjaan, seperti tidak korupsi, tidak ingkar janji, enggan melayani, menjauhkan riba, tidak menipu dan mengurangi timbangan. Bertakwalah saat di masjid, di rumah, di tempat bekerja, kantor pemerintahan, DPR, di pasar dan dimana saja.

“Puasa akan mendorong orang menjadi mulia dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, tidak mungkin keberkahan diberikan jika masyarakatnya tidak bertakwa,” ungkap KH. Didin.

Indonesia, lanjutnya, menjadi berkah, jika pemimpin dan tokohnya bertaqwa. Andai penduduk sebuah negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, maka akan diturunkan keberakahan dari langit dan bumi. Tapi kebanyakan manusia mendustakan. Lalu Allah menyiksa akibat perbuatan manusia itu sendiri.

“Ramadhan harus menjadi bulan muhasabah. Kita harus mencari tahu sebab musibah itu datang. Itu karena perilaku manusia. Jadi, bukan semata wabah. Kerusakan di darat dan laut adalah kerusakan dari perilaku manusia itu sendiri. Karena itu, Ramadhan harus menjadi moment kita utk muhasabah, bertobat, agar hati dan pikiran kita menjadi jernih dan bersih,” tandasnya.

Ramadhan juga merupakan bulan sabar. Setiap makhluk akan diuji dengan ketakutan. Di tengah wabah corona, pesan KH. Didin, kita harus tetap semangat beribadah, kembalikan persoalan kepada Allah, bersabar agar kita mendapat rahmat.

“Bersabar untuk tidak mudik disaat seperti ini, agar tidak terjadi percepatan penularan. Bisa-bisa, kita malah digiring ke tempat isolasi. Gunakan teknlogi untuk menjumpai keluarga dengan saling mendoakan. Begitu juga, di saat 10 hari terakhir Ramadhan, sebaiknya kita ‘itikaf di rumah saja bersama keluarga,” paparnya.

Ramadhan juga merupakan bulan berbagi. Karena itu, sedekah dan infaq harus dikembangkan dan disalurkan kepada yang berhak. Terlebih, saat ini banyak yang menjadi korban PHK, kelaparan, dan menjadi tunawisma karena tak mampu lagi membayar kontrakan.

Ramadhan sebagai bulan ibadah. Jika biasanya berjamaah di masjid, tapi karena dalam ada wabah, kita beribadah di rumah. Maka dari itu, gunakan kesempatan ini untuk ketahanan keluarga untuk melahirkan generasi yang kuat. “Kenalkan anak-anak dengan al Qur’an, dan membacanya agar rumah kita menjadi berkah. Semoga kita semua diselamatkan Allah.”

“Di bulan suci Ramadhan ini, moga kita menyadari segala kesalahan dengan tidak mengulanginya kembali. Perbaikin kembali hubungan kepada Allah dan sesama manusia. Bagi pemimpin, tegakkan keadilan, jangan bertindak zalim, yang akan mengundang malapetaka,” kata KH. Didin. (des)

 

 

 

News Feed